17 January 2020, 03:40 WIB

Permintaan atas Obligasi Global BTN US$3,6 M


Despian Hidayat | Ekonomi

Permintaan investor atas Junior (Tier 2 Capital) Global Bond atau Obligasi Subordinasi PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk mencapai US3,6 miliar.

Tingginya minat investor global atas global bond yang diterbitkan BTN tidak lepas dari kestabilan ekonomi Indonesia yang relatif terjaga sehingga mereka berminat sekali untuk berinvestasi di Indonesia.

"Investor global sangat tertarik untuk melakukan investasi di Indonesia. Ini terbukti pada saat kami menawarkan global bond yang baru pertama kali kita terbitkan memperoleh sambutan yang sangat baik, bahkan mencapai 12,3 kali lipat jika dibandingkan dengan rencana size yang kami terbitkan (US$300 juta), " kata Direktur Utama Bank BTN Pahala N Mansury di Jakarta, kemarin.

Faktor lain yang menarik minat investor ialah posisi Bank BTN yang fokus pada pembiayaan sektor perumahan, khususnya KPR .

"Dengan jumlah backlog perumahan yang besar, tentu menjadi pasar yang menarik, di samping laporan keuangan BTN yang terus terjaga," tandas Pahala.

Direktur Keuangan Bank BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan, dari hasil pricing yang ditentukan 15 Januari lalu, global bond BTN dengan tenor 5 tahun itu memberikan kupon fixed sebesar 4,2%.

Angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan indikasi kupon yang diberikan, yakni 285-310 bps di atas US treasury tenor 5 tahun yang digunakan sebagai acuan.

Mayoritas investor berasal dari Asia dan di atas 85% ialah fund manager atau asset management, sedangkan sisanya perusahaan asuransi dan perbankan.

"Dengan tambahan dana segar dari penerbitan obligasi global bond dan pinjaman subordinasi dari institusi lainnya, rasio kecukupan modal kami akan terus menguat, kurang lebih akan menjadi 17% per Januari 2020. Posisi itu lebih tinggi dari posisi September 2019 sebesar 16,88%," kata Nixon.

Peningkatan rasio kecukupan modal atau capital adequate ratio (CAR) sesuai dengan target CAR BTN di level 17%-19%, yang akan mendorong penyaluran kredit Bank BTN yang tahun ini ditargetkan sekitar 10%.

Nixon juga menuturkan, dengan adanya tambahan dana berjangka panjang tersebut, BTN dapat mengimplementasikan PSAK 71/IFRS9 yang mensyaratkan BTN meningkatkan pencadangan, menghadapi tantangan likuiditas, memitigasi maturity mismatch, dan secara konsisten menjaga pertumbuhan bisnis Bank BTN.

Aturan SWF

Di tempat berbeda, Presiden Joko Widodo mengungkapkan Indonesia berpotensi menerima aliran dana minimal US$20 miliar.

Dana itu bisa masuk ke Tanah Air ketika aturan terkait dengan sovereign wealth fund (SWF) atau dana abadi untuk mewadahi investasi sudah rampung.

"Kita nanti akan memiliki aturan mengenai sovereign wealth fund. Begitu nanti jadi keluar, saya sudah bisik-bisik kepada Ketua OJK dan Gubernur BI. Pak, hati-hati begitu aturan mengenai sovereign wealth fund kita jadi, akan ada inflow, mungkin minimal US$20 miliar," ujar Jokowi saat menghadiri Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan.

Saat ini, Presiden menyebut sudah ada beberapa lembaga yang tertarik untuk berinvestasi melalui instrumen tersebut.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah saat ini masih mematangkan aturan terkait SWF. "Nanti kita lihat dulu struktur SWF. Itu nanti bisa untuk infrastruktur dan macam-macam," ujar Sri Mulyani. (Pra/Mir/E-1)

BERITA TERKAIT