16 January 2020, 19:52 WIB

Polisi Mesti Hati-hati Tangani Kasus Keraton Agung Sejagat


Cahya Mulyana | Nusantara

Antara
 Antara
Sejumlah pengunjung berada di gapura pintu masuk komplek Keraton Agung Sejagad Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo, Jawa Tengah, Selasa

PENANGANAN perkara Keraton Agung Sejagat cukup melalui pembinaan bukan pemenjaraan. Hal itu disampaikan putri sulung Presiden keempat Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid. Dia menyarankan penegak hukum lebih baik berkonsentrasi terhadap kasus yang jauh lebih besar dari perkara tersebut.

Yenny menilai penaganan perkara tersebut landasan hukumnya harus kuat supaya tidak melanggar HAM. "Kalau dia (tersangka) tidak melanggar hukum dan kemudian ditangkap, bukankah itu melanggar HAM? Kecuali dia sudah melanggar hukum. Dari yang saya baca-baca, saya mencari terus beritanya, pelanggaran hukumnya belum terlihat. Kalau penipuan beda lagi. Itu pelanggaran hukum. Itu boleh ditangkap," katanya, usai menemui Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta, Kamis (16/1).

Menurut Yenny, perkara tersebut lahir dari halusinasi tersangkanya dan masyarakat seharusnya tidak mudah percaya.

Seperti diketahui, belum lama ini muncul Keraton Agung Sejagat di Purworejo Jawa tengah. Keraton ini dipimpin Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya yang dipanggil Kanjeng Ratu yang memiliki nama Dyah Gitarja. Mereka mengaku keturunan pendiri Majapahit dan juga Mataram.

Keraton ini mulai dikenal publik, setelah mereka mengadakan Wilujengan dan Kirab Budaya yang dilaksanakan dari Jumat (10/1) hingga Minggu (12/1).

Karena dianggap meresahkan, Totok dan istrinya kemudian diamankan polisi setempat. Mereka dijerat UU Nomor 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (menyiarkan berita atau pemberitaan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran), serta pasal 378 KuHP tentang penipuan. Sejumlah barang bukti disita termasuk dokumen yang diduga dipalsukan pelaku. (A-1)

BERITA TERKAIT