16 January 2020, 22:00 WIB

AS-Tiongkok Teken Perjanjian Perdagangan


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

SETELAH hampir dua tahun konflik antara dua kekuatan ekonomi dominan di dunia, Amerika Serikat dan Tiongkok menandatangani ‘gencatan senjata’ perdagangan, Rabu (15/1). Perang dagang telah mengguncang pasar dan membebani ekonomi global sehingga kesepakatan dagang itu membuat kalangan bisnis di seluruh dunia bernapas lega.

Kesepakatan itu merupakan anugerah bagi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menghadapi pengadilan pemakzulan dan pertarungan pemilihan ulang yang sulit akhir tahun ini.

Para pemimpin Tiongkok menyebutnya sebagai kesepakatan ‘win-win’ yang akan membantu membina hubung­an yang lebih baik antara kedua negara berseteru.

Beijing telah berjanji untuk meningkatkan impor AS US$200 miliar di atas level 2017 dan memperkuat aturan kekayaan intelektual. Sebagai gantinya, Washing­ton sepakat untuk mengurangi separuh beberapa tarif baru yang telah dikenakan pada produk-produk Tiong­kok. Namun, mayoritas pajak perbatasan tetap diberlakukan, yang telah mendorong kelompok bisnis untuk menyerukan pembicaraan lebih lanjut.

“Hari ini (Rabu), kami mengambil langkah penting yang belum pernah dilakukan sebelumnya dengan Tiongkok, yang akan memastikan perdagangan yang adil dan timbal balik,” kata Trump pada upacara penandatanganan di Gedung Putih.

“Bersama-sama, kita memperbaiki kesalahan masa lalu,” imbuhnya.


Fase dua

Trump menandatangani kesepakatan dengan Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Liu He, yang telah memimpin negosiasi Beijing dengan perwakilan dagang AS Ro­bert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin.

Pemimpin AS juga ber­terima kasih kepada pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, dan mengatakan ia akan mengunjungi ‘Negeri Tirai Bambu’ dalam waktu dekat. “Negosiasi sangat sulit bagi kami,” kata Trump, “Tetapi langkah ini menyebabkan terobosan yang sangat luar biasa.”

Trump baru akan menghapus tarif jika kedua pihak dapat melanjutkan kesepakatan fase dua.
Sementara itu, dalam sepucuk surat kepada Trump yang dibacakan oleh Liu, Xi Jinping mengatakan kesepakatan itu baik untuk Tiongkok, AS, dan seluruh dunia.

Namun, masalah yang paling sulit masih harus ditangani dalam negosiasi fase dua. “Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan di depan,” kata Jeremie Waterman, Presiden China Center di Kamar Dagang AS. “Intinya ialah mereka harus menikmati capaian hari ini, tetapi tidak menunggu terlalu lama untuk kembali ke meja perundingan fase dua.”

Namun, pembicaraan mengenai fase berikutnya terlihat rumit, mengingat Trump yang mulai memasuki persidangan pemakzulan serta pemilihannya pada November mendatang.

“Kami tidak yakin bahwa AS memiliki insentif untuk melanjutkan dengan cepat,” ungkap ekonom Moody’s Analytics, Xu Xiaochun.

Akan tetapi, Beijing tidak memiliki alasan untuk tidak melanjutkan kesepakatan itu karena kemungkinan menghadapi sikap keras Washington dan siapakah yang akan menjadi Presiden AS selanjutnya, apakah Trump atau dari pihak Demokrat. (AFP/BBC/CNA/Rif/*/I-1)

BERITA TERKAIT