16 January 2020, 16:59 WIB

Dipastikan 27 Warga Gunungkidul Positif Antraks


Agus Utantoro | Nusantara

SEBANYAK 27 orang warga Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul dipastikan positif antraks. Penyebabnya mereka mengonsumsi daging ternak yang mati terpapar antraks. Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Sumitro mengatakan, pada Sabtu (4/1) lalu, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul menemukan setidaknya 600 orang yang terpapar antraks. Mereka tersebar di Dusun Ngrejek Wetan, Kecamatan Ponjong dan ada 60 orang lainnya di Kecamatan Semanu.

"Jadi ada 600 orang yang yang terpapar dan tersebar di dua dusun tersebut," kata Sumitro, Kamis (16/1).

Dari hasil uji laboratorium, dari 87 orang, sebanyak 54 orang diambil darahnya, dan 11 orang dilakukan swipe luka.

“Yang positif antraks ada 27 orang, untuk yang diswipe lukanya negatif antraks," kata Sumitro.

Dikatakan, dari 27 orang sebagian besar positif antraks pada kulit. Sebagian di antaranya gabungan antara kulit dan pernafasan. Virus antraks dapat menyerang kulit, pernafasan dan pencernaan.

Warga yang positif antraks diberikan antibiotik profilaksis lanjutan sampai 20 hari. Untuk yang gejala diberikan antibiotik. Selain itu, mereka yang positif dicek ulang darahya ke BBVEt Bogor, Jawa Barat. Dijelaskan, antraks tidak dapat menular dari manusia ke manusia. Orang yang terpapar antraks, bila tidak diobati secara benar bisa menyebabkan kematian karena komplikasi. Namun bila diketahui sejak awal, bisa diobati sampai sembuh.

Sumitro mengakui kasus antraks yang terjadi di Kecematan Ponjong dan Semanu telah merenggut nyawa satu orang. Sementara itu para peternak sapi di Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, diresahkan  oleh kemunculan virus Theileria yang menyerang hewan ternak.

Pengurus Kelompok Ternak Margo Andini Makmur, Seyegan, Sleman, Mulyono mengatakan, akibat virus ini ada satu ekor sapi yang mati.

"Kami juga mendapat informasi dari petugas Puskeswan ada yang mati  di peternakan lain," katanya.

Hasil laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVET) Wates menyebutkan bahwa dari 62 sapi yang ada, 56 sudah terjangkit virus yang sama.

"Dari total 62 sapi, ada 56 sapi yang sudah terjangkit virus Thailera," ujarnya.

baca juga: CSR Akan Dilibatkan Dalam Pembangunan di Temanggung

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Heru  Saptono tidak membantah adanya temuan virus yang diduga Theleria di wilayah Kecamatan  Seyegan.

"Kami baru melakukan tahapan uji lab dan belum mendapatkan laporan adanya ternak sapi yang mati. Baru suspect dan baru kami ujikan di BBVET Wates," tegasnya.

BERITA TERKAIT