16 January 2020, 11:10 WIB

Persawahan di Pidie Mulai Krisis Air


Amiruddin Abdullah Reubee | Nusantara

MI/Amiruddin Abdullah Reubee
 MI/Amiruddin Abdullah Reubee
 Petani sedang memilah padi di lahan bekas kekeringan kawasan Desa Pante Garot, Kecamatan Indrajaya, kabupaten Pidie.

SEBAGIAN lahan sawah di kawasan Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, sejak dua pekan terakhir mulai krisis sumber air. Hal itu menyebabkan terganggu pertumbuhan tanaman padi dan gagal tanam di beberapa lokasi. Lahan sawah yang mengalami kekeringan tersebar di Kecamatan Simpang Tiga, Kembang Tanjung, Gelumpang Baro, Mutiara Timur, Grong-Grong, Batee, Mila,Delima, Padang Tiji, Muara Tiga dan Kecamatan Tangse.

Koordinator POPT-PHP (Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman-Pengamat Hama Penyakit) di Kabupaten Pidie, Mahzal mengatakan, pihaknya sedang mendata luas  kekeringan lahan sawah setempat. Mereka bersama petugas sedang turun ke setiap kecamatan yang berdampak krisis air itu.

"Dalam dua hari ini harus terkumpul semua data kekeringan. Itu perlu segera ditanggapi" tutur Mahzal, Kamis (16/1).

Dikatakannya, sesuai temuan, di Kecamatan Padang Tiji, ada sebagian lahan yang gagal tanam karena kondisi lahan sudah mengering. Kemudian bibit dalam persemaian juga sudah kelebihan umur sehingga tidak produktif lagi untuk ditanam.

"Ada sebagian lainnya yang berhasil  ditanam sebelum mengering, tapi kondisi sekarang juga sudah krisis air. Ini yang paling penting diselamatkan, karena kalau ada air kemungkinan bisa pulih," ujarnya.

baca juga:Kenaikan Harga Cabai Merah di Cirebon Tembus Rp20 Ribu/Kg

Menurut Mahzal, lahan sawah musim rendengan yang kekeringan itu ada yang berumur 1 bulan, 1 pekan dan ada juga yang masih bibit di persemaian sehingga tidak sempat ditanami.

"Bibit dipersemaian itu tidak bisa ditanami lagi. Tentu kalau datang air harus diolah tanah ulang dan ditabur bibit lain," tambahnya. (OL-3)

 

 

BERITA TERKAIT