16 January 2020, 10:18 WIB

Kabupaten Ogan Hilir Jadi Percontohan Pencegahan Karhutla


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

TIM Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meninjau pembuatan sodetan di Kabupaten Ogan Hilir, sebagai salah satu cara untuk mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Direktur Mitigasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Medi Herlianto, mengatakan sodetan merupakan investasi penanggulangan karhutla. Bencana karhutla harus ditangani sedini mungkin dengan tujuan menyelamatkan generasi masa depan.

"Kabupaten Ogan Hilir dijadikan Pilot Project pencegahan karhutla dengan adanya pembuatan sodetan ini," ujar Medi dalam keterangannya, Kamis (16/1).

Menurutnya, program pencegahan karhutla ini berupa pembasahan lahan gambut dengan cara membuat sodetan di Sungai Meriak dan Sungai Keramasan Desa Pulau Kabal Kabupaten Ogan Ilir, yang direncanakan sepanjang 12,4 kilometer (km).

Baca juga: Upaya Pencegahan Karhutla Perlu Digalakkan

Hingga 31 Desember 2019, pekerjaan ini sudah tercapai 8,85 km dengan sumber dana berasal dari Dana Siap Pakai BNPB Tahun Anggaran 2019 dan akan dilanjutkan di awal tahun 2020.

"Diharapkan saat memasuki musim kemarau, sodetan sungai ini dapat berperan dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan," imbuhnya.

Dahulunya, lanjutnya, sumber air dari Sungai Keramasan adalah rawa dan genangan yang berada di sekitar sungai. Namun, saat ini daerah rawa dan genangan telah mengalami degradasi karena alih fungsi lahan menjadi perkebunan. Perubahan tutupan lahan mengakibatkan penurunan kuantitas air pada sungai Keramasan.

Saluran air yang menghubungkan sungai Meriak dengan Sungai Keramasan diharapkan dapat menormalisasi kuantitas dan kualitas air. Berikut, memiliki dampak besar dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan di area sekitar.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) per Desember 2019, luas lahan gambut yang terbakar seluas 480.178 ha di seluruh Indonesia. Karhutla di lahan gambut akan sangat sulit dipadamkan. Karakter gambut yang bersifat kering dan memiliki kedalaman beragam bahkan hingga 30 meter, tentu akan sulit dipadamkan personel darat, pengeboman air bahkan dengan hujan buatan.

"Oleh karena itu perlunya mengembalikan kodrat lahan gambut yaitu basah, berair dan berawa," terangnya.

Sementara itu, Ketua Tim Ahli Kajian Sosio Ekonomi dari Universitas Sriwijaya, Sutopo, mengungkapkan saluran dari sodetan sungai dapat dikembangkan dari sisi pariwisata. Nantinya akan membantu meningkatkan sosial ekonomi masyarakat di sepanjang saluran sodetan sungai.

“Ke depan, jalur sodetan sungai ini jika sudah terhubung ke dua sungai akan mendukung fungsional Kebun Raya Sumsel yang bertempat di Kabupaten Ogan Ilir. Sehingga, dapat meningkatkan mata pencaharian masyarakat sekitar," tutupnya.(OL-12)

BERITA TERKAIT