16 January 2020, 11:30 WIB

BUMN Masih Menarik Bagi Investor


Andhika Prasetyo | Ekonomi

ANTARA/Galih Pradipta
 ANTARA/Galih Pradipta
Menteri BUMN Erick Thohir

DALAMbeberapa waktu terakhir, banyak BUMN yang tersangkut berbagai kasus, mulai dari Garuda Indonesia dengan penyelundupan barang mewah, hingga Jiwasraya dan Asabri dengan tindak korupsi.

Namun, di luar itu, ternyata perusahaan-perusahaan negara, masih tetap menarik bagi para investor asing.

Buktinya, beberapa perusahaan asal Uni Emirat Arab (UAE) menggandeng Pertamina, Inalum, dan PLN dalam menjalankan investasi di dalam negeri.

"Itu artinya kepercayaan investor terhadap Indonesia masih tinggi di tengah beberapa kasus saat ini," ujar Menteri BUMN Erick Thohir di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (15/1).

Baca juga: Beri Kesempatan Pengusaha Muda Garap Proyek BUMN

Untuk terus meningkatkan kepercayaan itu, ia berkomitmen melanjutkan upaya bersih-bersih perusahaan negara.

"Proses bersih-bersih akan terus berlanjut. Pimpinan BUMN yang tidak menerapkan good corporate governance pasti akan terkena," tegasnya.

Adapun, Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan capaian kerja sama dengan pihak asing menjadi bukti bahwa Indonesia masih menjadi negara dengan tujuan investasi terbaik di dunia.

"Berbagai komitmen yang sudah ditandatangani itu menjadi bukti, meski ekonomi global lagi bergejolak namun Indonesia masih menarik perhatian dunia untuk berinvestasi," ucap Mamit.

Pada bidang energi, investasi UEA akan ditanamkan pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat.

Perusahaan energi baru terbarukan (EBT) Masdar, yang berbasis di Abu Dhabi, nantinya akan bermitra dengan PT Pembangkit Jawa Bali Investasi (PJBi) membangun PLTS Terapung Cirata sebesar 145 Mega Watt Peak (MWp).

Investasi di pembangkit itu diperkirakan mencapai Rp1,8 triliun. PLTS Terapung Cirata diproyeksikan memecahkan rekor pembangkit bertenaga surya terbesar di ASEAN setelah PLTS di Filipina, Cadiz Solar Powerplant sebesar 132,5 MW.

Selain pengembangan Energi Baru Terbarukan, ditandatangani pula kesepakatan bisnis sejumlah proyek migas seperti pengembangan Refinery Development Master Plan (RDMP) RU V Balikpapan antara Pertamina dengan Mubadala, potensi minyak mentah di Balongan antara Pertamina dengan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), hingga penyediaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) antara ADNOC dengan Pertamina.

Pada subsektor mineral, ditandatangani pula kerja sama Emirates Global Aluminium (EGA) dengan PT Inalum dalam rangka penambahan produksi ingot alloy dan billet. Pada masa uji coba, penambahan produksi diproyeksikan mencapai sekitar 20 ribu ton. Adapun, kapasitas produksi normal saat ini mencapai 250 ribu ton.

"Berbagai proyek hasil kerjasama ini akan menjadi upaya BUMN dalam melakukan transfer knowledge. Dengan begitu ke depan daya saing BUMN kita juga bakal lebih baik," ucapnya.

Meski sudah dalam tahap komitmen investasi, Mamit mengaku masih ada hal penting yang harus dikerjakan pemerintah untuk meningkatkan status menjadi realisasi investasi. Hal itu adalah penyederhanaan regulasi.

"Jadi harus ada penyederhanaan regulasi agar investasi benar-benar bisa berjalan," tandasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT