16 January 2020, 05:30 WIB

Duet Basuki-Emil Selamatkan Dayeuhkolot


Haryanto | Nusantara

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/nz
 ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/nz
 Foto udara terowongan air Sungai Citarum di Nanjung, Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/12/2019).

MUSIM hujan tahun ini, nama Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang nyaris tidak terdengar. Banjir yang biasa mengepung ketiga kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu kini hanya mampir sebentar dan surut segera.

Terowongan Nanjung yang dibangun di Curug Jompong, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, membuat kejadian tahunan di lokasi itu tidak terulang lagi.

"Terowongan Nanjung terbukti telah memberi manfaat mengurangi genangan air saat puncak hujan di Jawa Barat pada 17 Desember la-lu. Ketika pintu air dibuka, Sungai Citarum pun bisa kering," ungkap Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, kemarin.

Banjir di lokasi itu terjadi saat debit air Citarum yang besar tertahan batuan besar di Curug Jompong yang menyebabkan backwater dan banjir. Terowongan Nanjung dibangun sehingga aliran air dari hulu Sungai Citarum pun bisa lancar.

Namun, terowongan itu bukan satu-satunya solusi. Kementerian PUPera bekerja sama dengan Pemprov Jawa Barat juga membangun pengendali banjir di Bandung selatan lainnya, yakni Embung Gedebage, Kolam Retensi Cieunteung, dan Floodway Cisangkuy.

"Floodway Cisangkuy ini sodetan dari Sungai Cisangkuy ke Sungai Citarum di hilir Dayeuhkolot yang langganan banjir. Oktober nanti selesai," ujar Basuki.

Bersama Gubernur Ridwan Kamil, dia menargetkan pembenahan hulu Citarum tuntas tahun ini. "Setelah itu mulai ke daerah hilir, seperti Karawang dan Muaragombong."

Ridwan Kamil sepakat akan terus bersinergi dengan Kementerian PU-Pera untuk menangani banjir. "Tidak ada lagi berita banjir di cekungan Bandung. Kami berkomitmen mempercepat pengendalian banjir."

Di Cirebon, normalisasi dua sungai juga menjadi target pemerintah kota untuk menghindari banjir. "Ini darurat. Kami tidak mau ada banjir lagi," ujar Wakil Wali Kota Eti Herawati.

Asuransi tani

Di Jawa Tengah, Dinas Pertanian dan Perkebunan telah menyiapkan Asuransi Usaha Tani Padi untuk 154 hektare lahan yang puso. Asuransi tanpa premi tersebut diberikan langsung kepada petani senilai Rp6 juta per hektare.

"Kemarau ekstrem selama Desember 2019-Januari 2020 telah membuat 5.722 hektare sawah di 12 kabupaten terdampak, 154 hektare di antaranya puso. Kami sudah menyiapkan asuransi," kata Kepala Dinas Pertanian Suryo Banendro.

Tahun ini, provinsi menyiapkan premi asuransi untuk 35.000 hektare lahan. Dari pemerintah pusat juga memberi jatah untuk 200.000 hektare.

Masih di Jawa Tengah, banjir di Kabupaten Grobogan akhir pekan lalu telah menyebabkan kerugian mencapai Rp14,7 miliar. Banjir yang terjadi di 67 desa dan 7 kecamatan itu membuat 20 ribuan warga terdampak.

"Banjir terjadi akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang dan beberapa sungai lain. Status tanggap darurat sudah dicabut, dan konsentrasi selanjutnya ialah melakukan rehabilitasi," tutur Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Endang Sulistyoningsih.

Di Sumatra Selatan, kerawanan bencana yang mengintai daerah itu membuat Kepala BPBD Iriansyah harus bergerak cepat. "Personel penanganan bencana sudah kami siapkan. Selain BPBD, kami juga didukung TNI, Polri, dan dinas terkait." (EM/BY/AS/DW/SS/YK/LD/PT/MR/JI/FL/JL/N-2)

BERITA TERKAIT