15 January 2020, 21:56 WIB

Indonesia Perlu Genjot Ekspor Komoditas Utama


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

Antara
 Antara
Pekerja Kapal Temas Line melakukan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Bongkar Muat Tanjung Priok milik Pelindo II, Jakarta

DIREKTUR Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad menilai rendahnya defisit pada 2019 menandakan penurunan kinerja ekspor dan impor selama satu tahun.

"Betul defisit berkurang, namun lihat pula bahwa sepanjang tahun 2019, ekspor kita turun dari US$180 miliar 2018 menjadi US$167,5 miliar di 2019," kata Tauhid saat dihubungi, Rabu (15/1).

Tauhid menyoroti ihwal tingkat impor nonmigas yang mengalami penaikan di 2019, khususnya pada komoditas besi dan baja yang naik 1,42% dari 2018. Selain itu impor mesin dan peralatan mekanis juga dinilai relatif meningkat di 2019.

Kedua sektor industri itu, kata Tauhid berkontribusi pada nilai impor nonmigas lebih dari 30%. "Jadi kalau kita tergantung dengan teknologi dari luar maka sepanjang waktu impor non migas kita akan tetap tinggi," jelasnya.

Untuk meningkatkan kinerja ekspor, lanjut Tauhid, ialah dengan mengurangi impor migas. Program B30 dan optimalisasi dinilai olehnya dapat menjadi jalan yang bisa ditempuh pemerintah.

Selain itu, Indonesia perlu untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja ekspor non migas utama pada bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati. Pasalnya komoditas tersebut justru loyo di 2019.

"Komoditas tersebut, ekspornya sepanjang tahun 2019 lebih rendah dibandingkan tahun 2018 yang lalu," pungkasnya.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2019 mengalami desisit sebesar US$300 juta. Angka tersebut didapat dari pencatatan nilai ekspor mencapai US$14,47 miliar dan impor sebesar US$14,50 miliar.

Defisit US$300 juta tersebut jauh lebih baik ketimbang November 2019 yang mencapai US$1,39 miliar dan sebesar US$1,07 miliar di Desember 2018.

Kepala BPS, Suhariyanto menuturkan, defisit di Desember 2019 terjadi lantaran neraca migas mengalami defisit meski neeaca nonmigas mengalami surplus.

Sementara bila dilihat dari skala tahunan, Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan sepanjang 2019 sebesar US$3,20 miliar.

"Angka itu lebih baik ketimbang di tahun sebelumnya yang menyentuh US$8,70 miliar," kata Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (15/1).

Defisit US$3,20 miliar di sepanjang 2019 itu, lanjut Suhariyanto merupakan dampak dari defisit neraca dagang migas yang mencapai US$9,3 miliar dan surplus dari neraca dagang non migas yang sebesar US$6,1 miliar. (OL-8)

BERITA TERKAIT