15 January 2020, 20:19 WIB

Wahyu Setiawan Akui Dekat dengan Kader PDIP


Dhika kusuma winata | Politik dan Hukum

KOMISIONER Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan mengakui kedekatannya dengan tiga kader PDIP, yakni Agustiani Tio Fridelina, Saeful Bahri, dan Donny Tri Istiqomah. Ketiganya terjerat OTT KPK dalam kasus suap pergantian antarwaktu (PAW) untuk caleg partai banteng Harun Masiku.

"Saya dalam posisi sulit karena orang-orang itu, Mbak Tio (Agustiani Tio), Mas Saeful, Mas Donny, itu kawan-kawan saya. Saya sudah jelaskan saya tidak pernah aktif di organisasi itu (organisasi terkait PDIP)," ungkap Wahyu dalam sidang pemeriksaan etik Dewan Kehormatan Penyelanggara Pemilu (DKPP) yang digelar di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (15/1).

Agustiani, Saeful, dan Donny tercatat sebagai caleg PDIP pada pemilu legislatif lalu. Dalam kasus itu, Agustiani Tio, Saeful, dan Harun Masiku telah ditetapkan tersangka. Adapun Donny dilepas KPK setelah sempat diamankan dalam OTT yang dilakukan pekan lalu. Agustiani berperan sebagai penghubung pemberi suap. Adapun Saeful menjadi penghubung Harun dengan Agustiani Tio.

 

Baca juga: Ketua KPU: Wahyu Tidak Pernah Lobi Komisioner Lain

 

Dalam sidang pemeriksaan etik DKPP tersebut, Wahyu menyampaikan soal proses awal saat PDIP mengajukan nama Harun Masiku sebagai PAW untuk posisi yang ditinggalkan Nazaruddin Kiemas yang meninggal dunia. KPU kemudian menolak nama Harun dan memutuskan caleg dengan suara terbanyak pada dapil yang sama (Sumatra Selatan I) Riezky Aprilia menggantikan Nazaruddin.

"Kami dalam posisi melayani peserta pemilu dalam hal ini para parpol (untuk PAW). Sepanjang prosesnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku pasti dilaksanakan," ucap Wahyu.

"Memang dalam berkomunikasi terkadang menjadi salah tafsir. Sebagai contoh, pada saat Ibu Tio (Agustiani) sebagai utusan PDIP yang memberi informasi kepada saya akan bersurat kepada KPU, saya menjawab 'siap mainkan'. Maksud saya, surat yang dikirim ke KPU kemudian ditindaklanjuti." imbuhnya.

Pelaksana Tugas DKPP Muhammad yang menjadi ketua majelis sidang enggan mengonfirmasi seberapa dekat Wahyu dengan sejumlah kader PDIP tersebut. Yang jelas, ujarnya, Wahyu melakukan sejumlah pertemuan di luar kantor yang diduga melanggar pedoman perilaku penyelenggara pemilu. Begitu juga dengan hasil sidang lantaran DKPP akan melakukan pleno terlebih dahulu untuk memutuskannya.

"Soal pengakuan posisi sulit itu, memang kami tanyakan mengapa dia (Wahyu) tidak mencegah pertemuan-pertemuan di luar kantor. Beliau mengaku dalam posisi sulit karena alasan pertemanan," kata Muhammad.

Meski telah mengajukan pengunduran diri, Wahyu tetap disidang oleh DKPP. Muhammad mengatakan pihaknya masih berhak menyidang Wahyu lantaran belum ada surat keputusan resmi pemberhentian Wahyu dari presiden. Ia menambahkan DKPP akan menggelar pleno pada malam ini mengenai dugaan pelanggaran etik tersebut. Putusan rencananya akan diumumkan besok siang, Kamis (16/1).

"Ada sanksi yang diatur. Yang paling berat diberhentikan," tandas Muhammad. (OL-8)

 

BERITA TERKAIT