15 January 2020, 13:49 WIB

Taiwan Peringatkan Tiongkok Bahwa Negaranya Telah Merdeka


Rifaldi Putra Irianto | Internasional

Sam Yeh/AFP
 Sam Yeh/AFP
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen (tengah)  tersenyum saat berkampanye dengan para pendudungnya di markas partainya, Taipei, Sabtu (11/1).

PRESIDEN Taiwan, Tsai Ing-wen mengatakan kepada Tiongkok yang harus menerima bahwa Taiwan adalah negara yang merdeka.

Tsai juga memperingatkan Beijing bahwa segala upaya yang dilakukan untuk menyerang pulau demokrasi tersebut akan sangat mahal. "Menyerang Taiwan adalah sesuatu yang akan sangat mahal bagi Taiwan," ucap Tsai seperti dilansir dari AFP.

Setelah kembali memenangkan masa jabatan keduanya dengan memperoleh 8,2 juta suara, kemenangan Tsai dipandang sebagai teguran keras untuk kampanye Tiongkok untuk mengisolasi pulau tersebut.

Seperti diketahui, Tiongkok tidak merahasiakan keinginanya untuk melihat Tsai bergolak karena dia dan partainya menolak untuk mengakui pandangan bahwa pulau tersebut merupakan bagian dari Satu Tiongkok.

Beijing telah menganggap Taiwan sebagai bagian wilayahnya atau provinsinya. Tiongkok bersumpah akan kembali merebut wilayah Taiwan jika perlu dengan kekerasan terutama jika negara itu mendeklarasikan kemerdekaan.

Menanggapi hal tersebut, Tsai mengatakan Taiwan tidak perlu mengumumkan kemerdekaan secara resmi karena pulau itu sudah berjalan sendiri. "Kami tidak perlu menyatakan diri kami sebagai negara merdeka," katanya.

"Kami sudah menjadi negara merdeka dan menyebut diri kami Republik Cinaal, Taiwan," imbuh Tsai.

Dapat diketahui, Taiwan modern telah berjalan secara terpisah selama 70 tahun terakhir, selama beberapa dekade, itu adalah kediktatoran di bawah nasionalis Chiang Kai Shek setelah kekalahan mereka di tahun 1949 terhadap komunis perang saudara Tiongkok.

Namun, sejak 1980 Taiwan berubah menjadi salah satu demokrasi paling progresif di Asia, meskipun hanya diakui secara diplomatis oleh sejumlah negara.

Bahkan dalam sebuah jejak pendapat menunjukan, semakin banyak warga Taiwan yang menolak gagasan bahwa pulau itu harus menjadi bagian Satu Tiongkok.

"Kami memiliki identitas terpisah, dan kami adalah negara kami sendiri," tegas Tsai.

"Kami adalah demokrasi yang sukses, kami memiliki ekonomi yang cukup layak mendapat respek dari Tiongkok," sambungnya.

Sementara itu, Tiongkok menyambut pemilihan ulang Tsai dengan kemarahan seolah memperingatkan terhadap setiap langkah mendorong pulau itu lebih dekat menuju kemerdekaan.

"Memecah negara ini ditakdirkan untuk meninggalkan nama yang akan berbau abadi," kata Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

Media pemerintah Tiongkok juga menuduh Tsai memenangi pemilihan umum dengan cara curang.

Baca juga : Tsai Ing-wen Terpilih Kembali Jadi Presiden Taiwan

Sebelumnya, Tsai pun telah berulang kali mengatakan bahwa dirinya bersedia berbicara dengan Beijing selama tidak ada pra-kondisi. Namun nyatanya Beijing menolak dan memutuk komunikasi resmi dengan pemerintahannya.

Tsai juga mengatakan ia telah menolak sejumlah tekanan dari dalam partainya sendiri untuk lebih kuat dalam masalah kemerdekaan.

"Ada begitu banyak tekanan, begitu banyak tekanan disini sehingga kita harus melangkah lebih jauh," sebut Tsai.

"Mempertahankan status quo tetap menjadi kebijakan kami, saya pikir itu adalah sikap yang sangat bersahabat denga Tiongkok," tukasnya. (AFP/Rif/OL-09)

BERITA TERKAIT