15 January 2020, 11:30 WIB

UEA Tertarik Berinvestasi di Aceh, Pemprov Diminta Berbenah


Ferdian Ananda Majni | Nusantara

KETERTARIKAN Uni Emirat Arab (UEA) berinvestasi di Aceh mendapatkan sambutan antusias pelbagai kalangan. Forum Bersama (Forbes) Anggota DPR dan DPD RI asal Aceh meminta pemerintah Aceh segera mempersiapkan diri dan berbenah baik sarana serta prasarana untuk merealisasikan keseluruhan investasi berbagai bidang usaha senilai US$22,89 miliar atau setara Rp314,9 triliun yang berhasil dibawa pulang Presiden Joko Widodo dalam lawatannya ke UEA.

Ketua Forbes Anggota DPR RI dan DPD RI asal Aceh M Nasir Djamil menyatakan ketertarikan UEA sebenarnya kabar gembira bagi pemerintah Aceh khususnya dan Pemerintan Indonesia.

"Bisa jadi, karena daerah yang melaksanakan syariat islam. Jadi sebagai negara yang bisa dikatakan seluruhnya umat Islam, Pemerintah UEA punya tanggung jawab moral untuk memberikan contoh bahwa berinvestasi di satu provinsi yang melaksanakan syariat Islam bukan hal yang berbeda, sama," kata anggota Komisi III DPR RI itu kepada Media Indonesia, Rabu (15/1)

Baca juga: Tujuh Provinsi Dukung Pembangunan Rendah Karbon

Oleh karena itu, dia berharap pemerintah Aceh mempersiapkan diri, membenahi sarana dan prasarana, membenahi regulasinya, dan juga memberikan kepastian hukum. Di samping ketersediaan energi agar investasi itu bisa berjalan dengan baik dan optimal.

"Jadi kepastian hukum, ketersediaan energi dan birokrasi yang melayani menjadi bagian yang tidak terpisahkan menyambut rencana UEA yang akan berinvestasi di Aceh," sebutnya.

Harapannya, kata Nasir, Pemerintah Aceh sudah memiliki proposal guna menetapkan mana yang prioritas sehingga pemerintan UEA bisa memikirkan apa yang menjadi prioritas tersebut

"Aceh itu kita kaitkan dengan pemerintah UEA investasi di bidang perkebunan, pertanian, dan kelautan. Itu penting, karena sektor itu melibatkan banyak orang," terangnya.

Selanjutnya, Pemerintah Aceh segera memastikan konkret dan keseriusan kebutuhan UEA di Aceh. Jika memang serius maka pemerintah di Aceh juga memperlihatkannya keseriusan tersebut.

"Agar kita tidak dibuai, satu sisi pemerintan Aceh menyiapkan diri, membuka tangan lebar-lebar dan pemerintah UEA yang berencana berinvestasi di Aceh kita harap serius," paparnya.

Politisi PKS ini menegaskan Forbes asal Aceh juga memberikan dorongan dan dukungan apabila ada aspek-aspek regulasi yang dinilai menghambat upaya investasi UEA di Aceh. Bahkan ia menilai, SDM Aceh cukup siap menyambut kedatangan UEA.

"Mungkin pemerintan Aceh harus melakukan pendekatan pada kedutaan besar UEA apakah memang rencana ini adalah bentuk keseriusan pemerintah mereka (UEA) terhadap Aceh. Meskipun hubungan UEA dan Aceh bukan hubungan baru," pungkasnya.

Diketahui beberapa negara lain yang tertarik berinvestasi di Aceh, di antaranya dua negara Eropa yakni Finlandia dan Swedia berencana investasi di sektor energi, lingkungan hidup, pendidikan, hingga kesehatan.

Sebelumnya, Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan keinginannya untuk menanamkan investasi lebih besar dalam bidang pengembangan properti, pariwisata dan pembangunan khususnya di Aceh.

Dalam pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed bin Zayed, Uni Emirat Arab sepakat untuk berinvestasi pada proyek senilai US$22,98 miliar atau sekitar Rp314,9 triliun. (OL-2)

BERITA TERKAIT