15 January 2020, 08:57 WIB

Cari Alternatif Harapan Penyebab Orang Ikut Keraton Agung Sejagat


Antara | Nusantara

Antara
 Antara
 Sejumlah pengunjung di gapura pintu masuk komplek Keraton Agung Sejagad Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo, Selasa (15/1/2020)

MENCARI alternatif harapan di tengah situasi kehidupan adalah salah satu penyebab dari beberapa faktor yang menyebabkan orang mengikuti kelompok seperti Keraton Agung Sejagat. Demikian pendapat sosiolog Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis.

"Ini bukan proses tiba-tiba. Ini pasti proses yang panjang, saya yakin bisa bulanan bahkan bisa tahunan. Dia bisa mulai dari keluarga, dari istri, anak, kemudian teman anaknya, tetangganya," kata Rissalwan.

Keraton Agung Sejagat adalah sebuah kelompok yang dibentuk oleh Totok Santosa Hadiningrat di Kabupatan Purworejo, Jawa Tengah. Dia biasa dipanggil Sinuwun, dan istrinya akrab dipanggil Kanjeng Ratu. Masyarakat mulai membicarakan keberadaan keraton itu usai kelompok bentukan Totok menggelar wilujengan dan kirab budaya. Keterangan sementara terdapat sekitar 450 orang yang menjadi pengikut keraton yang mengklaim sebagai kekaisaran dunia, dan merupakan penerus Kerajaan Majapahit.  Menurut Rissalwan, proses politik dan ekonomi mungkin berpengaruh terhadap masyarakat yang berada di akar rumput dan membuat mereka mencari harapan di tempat lain.
 
"Di bawah ini mereka mencari alternatif-alternatif lain dan itu suatu hal yang wajar. Jadi itu bercampur baur dengan orang yang mungkin punya keyakinan bahwa dia punya akses supranatural tertentu," tambahnya.

Selain itu, ada kemungkinan pendiri Keraton Agung Sejagat juga ikut mencampur konteks historis dan budaya sebagai bungkus untuk menarik pengikut. Hal itu diikuti dengan konteks supranatural saat kelompok itu mengaku sebagai penerus dinasti Majapahit dan menjadi pemilik kekuasaan tertinggi di dunia.

Pola pembentukannya sendiri, kata Rissalwan, serupa dengan pendiri aliran kepercayaan baru yang sempat menghebohkan Indonesia seperti kelompok Lia Eden dan Gafatar, yang bahkan sempat memiliki ribuan pengikut.  Hal membedakan adalah kelompok Totok dengan pendahulunya, menurut Rissalwan tidak mengklaim unsur agama. Namun menggunakan metode formal seperti pembentukan kerajaan, keraton atau negara. Sampai saat ini kepolisian setempat masih mendalami alasan berdirinya keraton itu, meski wakil dari kelompok tersebut membantah mereka adalah aliran sesat yang bisa meresahkan masyarakat. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT