15 January 2020, 06:47 WIB

Sebelum Kecelakaan, Lion Air Minta Pelatihan dari Boeing


Basuki Eka Purnama | Internasional

MASKAPAI penerbangan Lion Air sempat berencana memberikan pelatihan bagi pilot mereka untuk menerbangkan pesawat Boeing 737 Max namun batal setelah perusahaan Amerika Serikat (AS) itu, pada 2017, menegaskan hal itu tidak perlu.

Setahun kemudian, sebanyak 189 orang tewas ketika pesawat Boeing 737 Max milik Lion Air jatuh di Laut Jawa. Kecelakaan itu disebut terjadi karena pelatihan yang kurang dan minimnya pengetahuan pilot atas fitur baru yang ada di Boeing 737 Max.

Pekerja Boeing sebenarnya telah mengungkapkan bahwa pilot-pilot Lion Air, konsumen terbesar Boeing, kemungkinan membutuhkan pelatihan simulator yang mahal sebelum menerbangkan model terbaru 737 itu. Hal itu terungkap dalam pesan internal Boeing yang dirilis ke wartawan.

Pesan-pesan itu, termasuk dalam lebih dari 100 halaman komunikasi Boeing yang diberikan kepada anggota DPR AS dan Badan Penerbangan Federal AS, dengan nama Lion Air disembunyikan.

Baca juga: Iran Umumkan Penangkapan Pertama Insiden Pesawat Ukraina

Namun, Komite Transportasi dan Infrastruktur DPR AS memberikan kutipan komunikasi Boeing itu yang masih mencantumkan nama Lion Air kepada Bloomberg.

"Kini, Lion Air minta pelatihan sim (simulator) untuk menerbangkan Max. Mungkin itu karena ketololan mereka. Saya kini susah payah mencari cara mengatasinya. Dasar idiot," ujar seorang pegawai Boeing pada Juni 2017 dalam pesan teks yang dirilis komite DPR AS itu.

Sebagai jawaban, pegawai Boeing lainnya menulis, "Apa?? Padahal maskapai saudara mereka telah menerbangkan pesawat itu!"

Pernyataan itu mengacu pada Malindo Air, maskapai penerbangan asal Malaysia yang menjadi maskapai penerbangan pertama yang menerbangkan Boeing 737 Max.

Melakukan pelatihan di simulator akan melukai salah satu nilai jual 737 Max yang dipromosikan Boeing. Menurut Boeing, maskapai bisa melatih pilot mereka menggunakan versi lama 737 untuk menerbangkan 737 Max.

Dalam laporan yang dirilis pada 29 Oktober 2019, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebut kegagalan Boeing menginformasikan pilot mengenai fitur pengendali penerbangan baru yang diberi nama MCAS sebagai salah satu penyebab jatuhnya pesawat milik Lion Air.

Laporan itu juga menggarisbawahi ketidakmampuan awak pesawat untuk melakukan pemeriksaan darurat, menerbangkan pesawat secara manual, serta mengomunikasikan keadaan darurat yang mereka hadapi.

Kopilot pesawat Lion Air yang jatuh disebut membutuhkan empat menit untuk mencari prosedur darurat yang seharusnya dia hafalkan.

Pesawat Boeing 737 Max akhirnya dilarang terbang di seluruh dunia setelah sebuah pesawat milik Ethiopian Airlines mengalami kecelakaan karena masalah yang sama seperti yang dialami Lion Air.

Anggota DPR AS Pete DeFazio, Ketua Komite Transportasi dan Infrastruktur yang menyelidiki Boeing 737 Max mengatakan penyelidikan mereka menemukan semakin banyak bukti bahwa Boeing dengan sengaja menutupi keberadaan MCAS dari para pilot serta tidak membagi informasi yang memadai mengenai MCAS kepada regulator federal.

"Hal itu sangat berbahaya dan berbalikan dengan berbagai pernyataan Boeing yang menyebut mereka mendasarkan keputusan mereka pada keselatan," tegas DeFazio.

Pesan-pesan yang terungkap itu mengungkapkan tekanan yang dialami pegawai dan konsumen Boeing untuk menghindari adanya pelatihan tambahan. Penolakan Boeing untuk melakukan pelatihan simulator untuk pilot Lion Air pernah dilaporkan oleh Forbes.

Adapun, Boeing, pekan lalu mengatakan, "Segala keteledoran keamanan yang diidentifikasi dalam dokumen itu telah diselesaikan."

"Dokumen-dokumen itu tidak merepresentasikan pegawai Boeing," ungkap Penjabat CEO Boeing Greg Smith. "Sikap dan bahasa pesan itu tidak pantas, terutama saat membahas masalah penting. Hal itu tidak merefleksikan kami sebagai perusahaan." (Bloomberg/OL-2)

BERITA TERKAIT