14 January 2020, 23:15 WIB

Derita Balita Diana di Tangan Sang Ayah


Palce Amalo | Nusantara

MI/Palce Amalo
 MI/Palce Amalo
Erni Lakusaba, 42, bersama dua anaknya, Diana (kanan) dan Marsanu (kiri) di rumah mereka Kelurahan Oenesu, Kecamatan Kupang Barat, NTT.

MENGENASKAN! Diana, balita gizi buruk berusia dua tahun tergeletak tak berdaya. Ia ditendang sang ayah, Abraham Sabneno, 45, membuat badannya melayang dan jatuh membentur fondasi rumah mereka di Kelurahan Oenesu, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Penganiayaan membuat tangan kanan dan kaki kiri balita yang hanya berbobot 5 kilogram itu patah. Tulang belakangnya juga bergeser. Mulut dan wajahnya juga disulut api rokok.

Bukan kali ini saja, ibunya, Erni Lakusaba, 42, tidak mengingat lagi berapa kali anaknya dianiaya. Pernah ia mendapati kaki dan tangan putrinya itu membiru. Di kesempatan lain, Diana tidak diberi makan dan ditinggalkan sendirian di antara rerumputan di samping rumah.

Dari cerita yang ia peroleh dari seorang anaknya, Diana dipukul gara-gara menangis minta makan.

"Padahal sebelum pergi jualan sayur, saya siapkan bubur untuk Diana," kata Erni Lakusaba sambil berusaha bangkit dari kasur, tempat ia berbaring yang diletakan di lantai ruang depan rumah reot berdinding bambu itu, Selasa (14/1).

Belakangan diketahui bubur yang disiapkan untuk Diana, selalu dihabiskan sang ayah.

"Bapaknya bilang anak-anak tidak kerja, tidak boleh makan pagi," katanya lagi.

Pascainsiden penganiayaan pada 12 Juli 2019 itu, Abraham Sabneno ketakutan dan melarikan diri ke hutan. Namun, ia diburu dan ditangkap polisi. Penyidik menjeratnya dengan Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak dan UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Adapun Diana yang tengah menanggung derita akibat penganiyaan yang dialaminya, dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis.

"Tuhan sayang anak ini, disiksapun, dia tetap bertahan hidup sampai saat ini," katanya.

Dia kemudian melirik Diana yang sedang bermain di lantai, lalu memperlihatkan bekas penganiayaan di tangan di tangan putrinya itu.

"Lihat tangan anak saya tidak lurus lagi tetapi melengkung," ujarnya.

Kendati cacat, sang ibu tetap bersyukur karena penganiayaan tidak sampai menghilangkan nyawa Diana. Sebagai orangtua, ia tetap khawatir penganiayaan berdampak serius bagi pertumbuhan Diana. Buktinya Diana yang lahir pada 2 Juli 2017, sampai Januari 2020 telah berusia 2,5 tahun. Namun, tidak seperti balita seusianya, ia hanya mampu merangkak, belum mampu berjalan.

Dari kasus penganiyaan, membuka tabir persoalan yang membuat Diana mengidap gizi buruk. Setiap pagi, sejak usia Diana berusia satu bulan, Erni berjualan sayuran dari rumah ke rumah. Ia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Apalagi suaminya tidak punya pekerjaan tetap.

Saat ia pergi, Diana diserahkan kepada ayahnya, dan baru kembali ke rumah sekitar pukul 10.00 Wita. Hasil penjualan sayur rata-rata Rp100 ribu, akan dibagi untuk kebutuhan sehari-hari terutama membeli beras, gula, teh, dan kopi saset.

Dengan pendapatan sebesar itu, mustahil Diana mendapat jatah susu secara rutin. Kesibukan antara berjualan sayur dan mengurus anak, juga membuat Erni lupa membawa anak-anaknya termasuk Diana untuk imunisasi ke puskemas atau posyandu.

Untuk Diana saja, dengan usia 2,5 tahun, seharusnya ia sudah mendapat 10 kali imunisasi. Kenyataannya hanya tiga kali. Itupun atas bantuan mantan Lurah Oenesu, Yusak Ulin. Dia mendatangi rumah keluarga ini dan membawa paksa Diana ke posyandu.

Sampai saat ini, perempuan asal Desa Timau, Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang itu benar-benar menjadi tumpuan keluarga.

"Saya harus bekerja untuk menafkahi anak-anak," ujarnya sambil mengusap matanya.

Padahal saat memutuskan pindah kampung kecil di kaki Gunung Timau pada 2012, mereka berharap menata hidup lebih baik di kota. Sayang, harapan itu sama sekali belum terwujud, meski sudah bekerja dari pagi. Rumah reot tempat mereka berteduh pun, dipinjamkan warga setempat.

Bangunan berdinding bambu itu telah berlubang, begitu juga jendela, pintu dan atap seng yang mulai bocor karena termakan usia. Berdiri di antara semak dan rimbunnya pepohonan hijau menjulang, tak jauh lokasi wisata air terjun Oenesu yang indah dan berhawa sejuk.

Namun, suasana air terjun yang memesona, bertolak belakang dengan kondisi rumah yang kotor serta sistem sanitasi yang terlihat buruk. Di musim hujan seperti saat ini, air tergenang dan sampah berserakan di sudut rumah menjadi sumber penularan penyakit seperti diare, demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.

"Biasanya malam tidak ada nyamuk, kecuali siang," kata Erni.

Di rumah sakit, selain perawatan cedera dan luka yang diderita putri bungsunya, menurut Erni, anaknya juga diberikan makanan tambahan (PMT) Diana selama tiga bulan untuk melengkapi kebutuhan gizi agar anak mencapai berat badan sesuai usianya.

Lumayan, berat badan Diana naik dari lima kilogram menjadi 8,10 kilogram pada September 2019. Ia juga diberikan obat gizi yang disalurkan oleh United Nations Children's Fund (Unicef) Perwakilan NTT. Berat badan Diana pun bertambah jadi 11,5 kilogram pada Desember 2019.

Saat yang sama, tiga anak lainnya, Serly, 7, Marsanu, 5, dan Agripa, 4, juga didiagnosa gizi buruk serta tidak mendapat imunisasi dasar lengkap sejak lahir. Lengkap sudah penderitaan Diana bersama tiga saudaranya, miskin, gizi buruk dan tak mendapat imunisasi lengkap.  Dengan demikian, dari delapan anak Pasangan Abraham Sabneno-Erni Lakusaba, hanya empat orang tumbuh sehat Mirna, 22, bekerja sebagai asisten rumah tangga, Ismail, 15, siswa SMP, Rina Novita, 6, dan Carles Yosardat, 8, masing-masing siswa Sekolah Dasar (SD).

Gizi Buruk di NTT
Diana bersama saudara-saudaranya adalah contoh kemiskinan dan perilaku orang tua yang kemudian memicu gizi buruk pada anak. Di NTT, anak-anak yang menderita gizi buruk sekitar 45.652 orang, dan 10% atau 4.565 orang di antaranya menderita gizi buruk dengan komplikasi medis. Sedangkan prosentase kekurangan gizi akut berdasarkan berat badan dan tinggi badan sebesar 15,5%.

Di sisi lain, laporan Badan Kesehatan Sedunia (WHO) menyebutkan prevalensi kekurangan gizi akut di NTT tersebut masuk kategori kritis, dan tertinggi nomor lima di Indonesia. Gizi Buruk menyebabkan terganggunya sistem kekebalan tubuh seorang anak, meningkatkan lama dan keparahan penyakit menular yang dideritanya, dan risiko kematian.

Gizi buruk juga berdampak negatif pada perkembangan fisik dan mental dari seorang anak dalam jangka panjang. Sangat kurus atau gizi buruk adalah bentuk kekurangan gizi anak yang paling berbahaya, dan merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan perhatian segera, tidak saja dari orang tua tetapi juga dari pemerintah daerah.

Unicef menyebutkan anak-anak dengan gizi buruk 11,6 kali berisiko meninggal dibandingkan anak-anak yang memiliki status gizi yang baik. Sementara anak yang menderita gizi buruk dan stunting berisiko meninggal 12,3 kali.

Petugas Gizi Puskesmas Batakte, Kecamatan Kupang Barat, Verawati Sitorus, mengatakan, Diana menderita gizi buruk sejak berusia lima bulan, yang diketahui saat petugas kesehatan mendatangi rumah keluarga tersebut. Namun, kesibukan berjualan sayuran untuk menghidupi keluarga, membuat Erni tidak sempat membawa anak-anaknya ke posyandu untuk pemeriksaan kesehatan maupun imunisasi.


Baca juga: 123 Pengecer BBM Subsidi mulai Ditertibkan Pemerintah


Adapun tiga jenis imunisasi yang diperoleh Diana ialah hepatitis B (HB) 0 untuk bayi lahir kurang dari tujuh hari, BCG dan polio 1 untuk bayi usia satu bulan, dan DPT/HB 1, polio 2 untuk bayi usia dua bulan.

"Imunisasi lanjutan tidak diberikan lagi karena berat badan Diana mulai turun," katanya.

Imunisasi lanjutan yang tidak diberikan kepada Diana lantaran gizi buruk yakni DPT/HB2, polio 3 untuk bayi usia tiga bulan, DPT/HB3, polio 4 untuk bayi usia 4 bulan dan campak pada usia 9 bulan, DPT lanjutan pada usia 1,5 tahun dan campak pada usia dua tahun.

Menurut Verawati, imunisasi dasar untuk anak lainnya yang menderita gizi buruk juga tidak lengkap, seperti Agripa. Ia menderita gizi buruk sejak usia 1,5 tahun. Verawati mengatakan selama 2019 tercatat 20 anak di wilayah Kupang Barat menderita gizi buruk, sudah ditangani dengan baik oleh petugas gizi puskesmas tersebut.

Nutrition Officer Unicef Perwakilan NTT, Blandina Rosalina Bait, mengatakan, penanggulangan balita gizi buruk di Kabupaten Kupang mengunakan model pemberdayaan dan partisipasi masyarakat yang dimulai sejak 2015-2018. Program ini bertujuan meningkatkan cakupan pengelolaan kekurangan gizi akut berbasis masyarakat.

"Kami menyelidiki mengapa cakupan dan kinerja rendah pada tahun pertama program, melakukan semi quantitatif evaluasi antara Agustus-September 2016, menggunakan hasil dari evaluasi untuk menginformasikan peningkatan program, dengan mengembangkan dan memodifikasi strategi mobilisasi masyarakat," ujarnya.

Blandina mengatakan pihaknya menggunakan pendekatan multiguna untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kondisi akut kekurangan gizi dan layanan berbasis masyarakat lewat lokakarya, kelompok diskusi dalam komunitas dan acara sensitisasi di pos kesehatan.

Program ini berhasil meningkatkan upaya petugas kesehatan menemukan kasus gizi buruk. Mereka mengunjungi rumah penduduk dengan anak-anak yang telah melewatkan sesi pos kesehatan masyarakat.
 
"Kami mengukur kinerja menggunakan tiga indikator kinerja standar minimum proporsi anak yang pulih lebih dari 75%, defaulting kurang dari 15% dan sekarat kurang dari 10%.
 
Hasilnya, upaya mobilisasi masyarakat meningkatkan tingkat skrining naik dari 17% pada Oktober 2015 menjadi 66% pada Maret 2018. Program ini memenuhi tiga indikator kinerja yakni 79% anak-anak gizi buruk pulih atau 256 orang dari total 326 orang pada 2017.

Namun, 10% atau 34 orang gagal dan 1% atau dua orang di antaranya meninggal. Menurutnya, mobilisasi masyarakat menjadi alasan kuat untuk mengatasi kekurangan gizi akut yang parah pada anak-anak di bawah lima tahun.

Setelah suaminya mendekam di penjara karena kasus penganiayaan itu, kini Erni menjadi menjadi orang tua tunggal, mengurus dan menafkahi anak-anaknya. Seperti biasa, ia bangun tidur pada pukul 04.00 pagi, memasak bubur untuk anak-anaknya.

Kemudian mengambil sayuran yang sudah dibeli dari petani untuk berjualan. Sekarang saat berjualan dan anak lainnya ke sekolah, Diana diasuh dua kakaknya yang juga masih kecil, Serly dan Marsanu. Di rumah tak ada radio apalagi televisi. Mereka hanya bisa bermain sambil menanti sang ibu di tengah rimbunnya pepohonan yang mengelilingi bangunan tua itu.

"Tidak apa-apa, bagi saya yang penting kami hidup tenang dan rukun," ujarnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT