15 January 2020, 04:10 WIB

Pemda Ujung Tombak Intervensi Stunting


Atalya Puspa | Humaniora

PEMERINTAH daerah (pemda) merupakan ujung tombak dalam penanganan stunting di Indonesia. Pemda dinilai berperan penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat untuk mencegah terjadinya stunting. "Peran pemda sangat signifikan untuk mengedukasi dan melakukan intervensi. Contohnya, membuat surat edaran mendorong semua ibu hamil harus minum tablet tambah darah agar anemia dan angka stunting kita turun," jelas Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dhian Proboyekti, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (14/1).

Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Nutrition International menangani stunting di 20 kabupaten Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan cara mengontrol pemberian gizi mikro. Langkah tersebut merupakan bagian dari program Micronutrient Supplementation for Reducing Mortality and Morbidity (Mitra). "Kalau kita asosiasikan anemia berakibat pada stunting, tingkat stunting akan tinggi," imbuh Dhian.

Global Nutrition Report 2018 menyatakan, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mengalami permasalahan gizi triple burden. Permasalahan tidak hanya mengenai defisiensi energi dan protein seperti underweight, wasting dan stunting, tetapi juga gizi lebih dan defisiensi mikronutrien.

Sejalan dengan itu, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa prevalensi balita underweight (17,7%), stunting (30,8%), wasting (102%), dan obesitas (balita, 8%). Sementara itu, prevalensi anemia pada ibu hamil (48,9%).

 

Intervensi

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Kemenkes Masyarakat Kirana Pritasari menekankan komitmen pemerintah untuk menurunkan stunting melalui Strategi Nasional untuk Mempercepat Pencegahan Stunting. "Kita berusaha memastikan semua rumah tangga dengan ibu hamil atau anak di bawah usia 2 tahun mendapatkan akses ke layanan," jelasnya.

Kirana menambahkan, melalui Mitra, pemerintah telah menjangkau lebih dari 211 ribu ibu hamil sehingga mendapatkan suplemen tablet tambah darah (TTD) yang mengandung zat besi dan asam folat. "Pemda juga harus memastikan tablet tambah darahnya tersedia," tandasnya.

Program ini juga berfokus pada peningkatan akses ke layanan kesehatan dan membangun kesadaran tentang pencegahan stunting khususnya pencegahan kekurangan gizi mikro melalui Strategi Intervensi Perubahan Perilaku.

Upaya tersebut melibatkan pemda dan pihak terkait seperti kader dan tenaga kesehatan di puskesmas untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya meminum vitamin penambah darah untuk ibu hamil.

"Kami sedang berupaya menularkan kegiatan inovatif ini ke kabupaten lain, terutama untuk kabupaten dengan prevalensi stunting yang tinggi," tambahnya.

Sementara itu, Country Director Nutrition International Sri Kusyuniati mengatakan, pihaknya menyadari nutrisi ialah fondasi untuk masa depan yang lebih baik. "Program Mitra menunjukkan adanya peningkatan praktik kesehatan dan gizi bagi mereka yang paling membutuhkan," ungkapnya. (H-3)

BERITA TERKAIT