14 January 2020, 11:40 WIB

AS Pulangkan 21 Taruna Saudi Pascatemuan Penembakan Terorisme


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / AFP
 ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / AFP
Jaksa Agung Amerika Serikat Bill Barr

AMERIKA Serikat (AS) akan mengirim pulang 21 taruna militer Arab Saudi, menyusul penyelidikan terhadap kasus pembunuhan terhadap tiga pelaut AS dengan motif terorisme. Hal itu diungkapkan Departemen Kehakiman AS pada Senin waktu setempat.

Jaksa Agung Bill Barr menyatakan penembakan pada 6 Desember oleh Letnan Dua Angkatan Udara Saudi, Mohammed Saeed Alshamrani, di US Naval Air Station di Pensacola, Florida, merupakan aksi terorisme.

"Bukti menunjukkan kasus penembakan itu dimotivasi ideologi jihadis," ujar Barr kepada wartawan.

Sejauh ini, tidak ada bukti Alshamrani berkolusi atau bersekongkol dengan pihak lain. Barr mengungkapkan tim penyelidik FBI tidak dapat membuka kedua ponsel milik Alshamrani untuk mengetahui pihak mana saja yang telah dihubungi.

Baca juga: Trudeau: AS Bertanggung Jawab Atas Penembakan Pesawat di Iran

"Kami meminta bantuan Apple untuk membuka kunci iPhone milik penembak. Sejauh ini Apple belum memberikan bantuan substantif," imbuh Barr.

Lebih lanjut, Barr menjelaskan 21 rekan kerja Alshamrani dikeluarkan dari sekolah penerbangan pangkalan. Langkah itu diambil setelah penyelidikan menemukan banyak taruna memiliki materi jihad dan pornografi anak. Para taruna dijadwalkan kembali ke Arab Saudi pada Senin malam waktu setempat.

Dia menambahkan pemerintah Saudi bersumpah untuk meninjau kembali setiap kasus di bawah kitab undang-undang peradilan militer dan kitab undang-undang kriminal.

"Kerajaan telah meyakinkan jika kami memutuskan untuk mendakwa siapapun yang dikirim kembali ke Arab Saudi terkait dengan penyelidikan kontraterorisme, pemerintah Saudi akan mengembalikan mereka untuk diadili," pungkas Barr.

Alshamrani diketahui menembak mati tiga pelaut AS dan melukai delapan orang lainnya di blok ruang kelas. Kejadian itu digambarkan Barr sebagai serangan yang direncanakan, sebelum akhirnya polisi menembak mati pria bersenjata tersebut. Alshamrani sempat mengunggah pesan di media sosial pada 11 September 2019, yang berbunyi penghitungan mundur telah dimulai. Selain bebeberapa pesan anti-AS, anti-Israel dan jihadis lain.

Kasus penembakan telah mengancam program pelatihan militer yang berlangsung puluhan tahun dan berperan penting bagi hubungan AS-Saudi. Program tersebut melibatkan penjualan peralatan militer bernilai miliaran dolar ke kerajaan. Terdapat sekitar 850 orang Saudi di antara 5.000 personel militer asing yang menjalani pelatihan di AS.(AFP/OL-12)

BERITA TERKAIT