14 January 2020, 11:10 WIB

Kemensos Siapkan Omnibus Law untuk Perkuat Kesejahteraan Sosial


Ihfa Firdausya | Humaniora

 ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
  ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
 Menteri Sosial Juliari P Batubara. 

KEMENTERIAN Sosial (Kemensos) terus mendorong penantaan regulasi dengan tujuan untuk segera memberikan penguatan terhadap peran pekerja sosial.

Salah satu langkah penting yang kini tengah dilakukan adalah menyederhanakan 420 Peraturan Menteri Sosial menjadi 100 peraturan, atau semacam Omnibus Law terhadap regulasi di bidang kesejahteraan sosial. Peraturan yang disederhanakan merupakan regulasi mulai tahun 1955 sampai dengan 2019.

Topik ini mengemuka dalam perbincangan Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara dengan delegasi Konsorsium Pekerjaan Sosial Indonesia (KPSI) di ruang Rapat Lantai ll, di Jakarta, Senin (13/01/2020).

"Saya minta agar dilakukan penyederhanaan peraturan Menteri Sosial. Jadi regulasi mengenai pekerjaan sosial ini menjadi ringkas semacam omnibus law. Dengan begitu pelayanan kepada masyarakat akan lebih cepat dan maksimal," kata Mensos..

Penyusunan regulasi tersebut juga termasuk di dalamnya permensos yang tengah disiapkan untuk pelaksanaan UU 14/2019 tentang Pekerjaan Sosial.

Baca jugaAntisipasi Banjir Susulan, Kemensos Dirikan Posko Induk Bencana

Terkait dengan hal ini, Biro Hukum Kementerian Sosial kini tengah bekerja intensif menginventarisasi lebih dari 420 Peraturan Menteri Sosial untuk disederhanakan. "Saya minta nanti hanya tertinggal 100 peraturan Menteri Sosial saja," kata Mensos.

Penyederhaan peraturan ini diharapkan akan meningkatkan efektivitas pelayanan yang diberikan ole para pekerja sosial menyusul diterbitkannya UU No. 14 tahun 2019, tahun lalu. Untuk mengimplementasikan ketentuan dalam UU ini, diperlukan peraturan pendukung, termasuk peraturan Menteri Sosial.

Langkah ini untuk memastikan bahwa regulasi yang nantinya tersisa benar-benar bisa memperkuat dan menunjang kinerja para pekerja sosial.

“Jadi jangan sampai masih ada peraturan yang di dalamnya terdapat ketentuan yang justru membuat kita kesulitan sendiri,” kata  Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemensos Hartono Laras.

Selain regulasi, topik lain yang disinggung dalam pertemuan ini, terkait enguatan peran pekerja sosial, adalah percepatan proses pembangunan kampus baru Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung. Pembangunan kampus baru erat hubungannya dengan ketersediaan sarana dan prasarana bagi pembentukan SDM pekerjaan sosial yang disyaratkan dalam UU.

Sekjen Kemensos Hartono Laras menyatakan, dalam pertemuan itu, KPSI yang hadir dengan 15 pilar di bawahnya, menyampaikan harapan besar agar langkah-langkah di atas bisa segera direalisasikan. Harapan KPSI kepada Kementerian Sosial juga penyediaan sarana prasarana berupa pembangunan kampus Poltekesos Bandung.

Sejalan dengan diterbitkannya UU No. 14/2019 merupakan pengakuan terhadap profesi pekerjaan sosial. Konsekwensinya, kata Hartono, maka dibutuhkan sarana pembinaan terhadap profesi itu, dalam hal ini kampus yang representatif.

Menurut Hartono, Mensos menyambut baik harapan KPSI tersebut. Untuk mendorong harapan ini, Mensos memerintahkan Badan Pendidikan Penelitian dan Penyuluhan Sosial untuk berperan aktif, terutama melalui Pusat Pengembangan Profesi (Pusbangprof).

“Ke depan, Mensos menghendaki adanya pola pembibitan dari pengembangan kampus Polteksos. Jadi seperti sekolah-sekolah kedinasan,” kata Hartono. Dalam audiensi ini, hadir Ketua Konsorsium Pekerjaan Sosial Indonesia KPSI Toto Utomo Budi Santoso dengan pimpinan dari 15 pilar KPSI. (Ifa/OL-09)

BERITA TERKAIT