14 January 2020, 07:19 WIB

AS Tawarkan Teknologi SMART Cable Untuk Peringatan Dini Tsunami


Siswantini Suryandari | Humaniora

MI/Siswantini Suryandari
 MI/Siswantini Suryandari
Lokakarya antara Indonesia dan delegasi AS dalam membahas teknologi mitigasi bencana tsunami di BPPT, Senin (13/1/2020).

SEBAGAI negara rawan gempa dan tsunami, Indonesia membutuhkan teknologi untuk mendeteksi potensi gempa disertai tsunami. Salah satu teknologi yang sudah dipakai oleh banyak negara seperti Amerika Serikat, Prancis, Jepang maupun Tiongkok adalah pemanfaatan SMART Cable. Teknologi ini direncanakan akan memperkuat sistem deteksi dan peringatan dini tsunami, karakterisasi sumber tsunami dan prakiraan gelombang tsunami di Indonesia.

Hal itu dikemukakan Kepala BPPT, Hammam Riza saat memberikan arahan dalam diskusi bertema Strengthening Tsunami Warning Capabilities through SMART Cable Technology yang digelar di Jakarta, Senin (13/1).

Hadir sebagai pemateri dalam diskusi tersebut Laura Kong dari International Tsunami Information Center Honolulu, Hawaii, Bruce Howe, kepala Science Monitoring And Reliable Telecommunications (SMART) Cable University of Hawaii, Walter Mooney, peneliti senior geofisika dari US Geological Survey (USGS), dan Charlses McCreery, direktur PTWC Honolulu. Dari Indonesia, sebagai pemateri Andi Eka Sakya Sekjen Dewan Riset Nasional sekaligus mantan kepala BMKG. Hadir dalam diskusi tersebut dari BMKG, Kominfo, Telkom, BNPB, dan Bappenas.

Kedatangan para ilmuwan AS itu juga sebagai penanda kerja sama antara AS dengan Indonesia di bidang kebencanaan khususnya teknologi peringatan dini tsunami. Kepala BPPT Hammam Riza pun menyambut positif kerja sama Indonesia dengan pemerintah AS dalam menghadirkan solusi dalam upaya penguatan operasi peringatan dini tsunami.

"Tahun 2018 menandai tahun yang bersejarah karena ada dua bencana yang terjadi di Indonesia dan dipicu oleh hal yang tidak biasa. Kedua bencana tersebut adalah tsunami yang terjadi di Palu dan Selat Sunda," ujar Hammam.

Hammam menyebutkan bahwa ada dua fakta dari peristiwa itu yang akhirnya membuat pemerintah Indonesia menyadari pentingnya penerapan inovasi dan teknologi mutakhir dalam mengantisipasi bencana seperti ini.

"Yang pertama adalah pentingnya Indonesia memiliki sistem peringatan dini tsunami yang andal. Dan yang kedua, Indonesia tidak hanya terancam oleh bencana yang berbasis tektonik namun juga non-tektonik," ujar Hammam.

Berkaca dari peristiwa bencana yang belum lama melanda Indonesia itu, BPPT kemudian memperoleh mandat untuk segera menerapkan teknologi yang mumpuni, untuk mengantisipasi terjadinya tsunami serta dampak yang ditimbulkan.

"Kedua tsunami itu memang tidak biasa. Kejadian ini tentu saja mendorong pemerintah Indonesia mengamanatkan kepada BPPT untuk mengembangkan peralatan pendeteksi tsunami," jelas Hammam.

Hal ini tentu saja sejalan dengan semangat dunia dalam membangun Lautan yang Aman, diprakarsai pertemuan TOWS pada Februari 2019, bersamaan dengan tugas Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk IOC/UNEECO dalam mempersiapkan Ocean Decade of Science 2021-2030. Dan para penggagas ide Lautan yang Aman menjadi narasumber dalam lokakarya tersebut.

"Lautan yang aman bukanlah lautan yang tidak terjadi tusnami. Tapi lautan di mana tsunami dipahami, diamati dan dampaknya diprediksi secara akurat sebelum mereka (tsunami) mencapai pantai. Lautan tempat mereka hidup, bekerja dan menciptakan kembali, di sepanjang pesisirnya dipersenjatai dengan pengetahuan dan siap bertindak sebelum tsunami menerjang," papar Hammam.


Sebagai lembaga yang diberi mandat untuk melakukan kaji-terap teknologi, BPPT telah secara aktif terlibat dalam pengembangan dan InaTEWS sejak fase awal, yakni pada 2005 hingga 2008. Pada periode tersebut, BPPT meluncurkan sejumlah alat sebagai bagian dari upaya pendeteksi tsunami.


"BPPT telah mengembangkan teknologi Cable Base Tsunameter (CBT) berbasis kabel optik sejak 2012 silam,".

Teknologi ini diyakini mampu menjawab kekurangan dari teknologi buoy yang sudah rusak oleh banyak tindakan yang tidak bertanggung jawab, satu diantaranya akibat aksi vandalisme. Selain itu, CBT memiliki kemampuan deteksi yang lebih andal dan akurat, pengiriman datanya pun lebih cepat. Masa pakainya lebih lama serta biaya operasional yang jauh lebih rendah.

Namun dari segi pembiayaan pembuatan, pemasangan serta pemeliharaan CBT secara berkelanjutan, lebih tinggi jika dibandingkan dengan pelampung buoy. Untuk itu Indonesia menjalin kerja sama dengan AS dan Satgas Gabungan yang didukung oleh ITIC dalam mengembangkan Smart Cable Technology.

Pada kesempatan itu Bruce Howe, kepala Science Monitoring And Reliable Telecommunications (SMART) mengatakan bahwa dengan dipasangnya kabel SMART di dasar laut, tidak hanya memantau potensi tsunami. Kabel tersebut juga bisa memantau ketinggian gelombang laut, iklim laut , maupun gempa bumi. Dia menyebutkan pula bahwa kabel SMART yang dilengkapi sensor ini bisa memomitor dinding dasar laut dan biayanya lebih efisien.

"Intinya kabel laut ini memiliki fungsi untuk memantau aktivitas di dasar laut, baik itu suhu laut terkait perubahan iklim, sirkulasi laut, gelombang laut, sekaligus bisa memonitor peringatan dini gempa dan tsunami. Manfaatnya untuk mengurangi risiko kebencanaan," kata Howe.

baca juga: Seniman Minta Tinjau Ulang Nomenklatur Baru

Ia menyebutkan peristiwa tsunami di Palu dan Selat Sunda yang berdampak secara ekonomi maupun korban jiwa disebabkan belum terintegrasinya peringatan dini tsunami. Apalagi ada wilayah rawan gempa dan tsunami belum terpasang buoy seperti terjadi di Palu dan Selat Sunda. (OL-3)

BERITA TERKAIT