14 January 2020, 05:30 WIB

Indonesia Terpaksa masih Impor Garam dan Gula


(Hld/E-2). | Ekonomi

 ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/
  ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/
Pekerja memanen garam di areal tambak garam Desa Singaraja, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (13/9

MENTERI Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui Indonesia masih harus mengimpor garam dan gula. Hal itu disebabkan kebutuhan industri yang sangat tinggi terhadap komoditas garam dan gula sebagai bahan baku.

"Mengimpor bahan baku ini merupakan tindakan yang perlu dilakukan agar tidak mematikan industri. Impor garam itu mau tidak mau harus dilakukan, termasuk dengan komoditas lainnya, gula, karena kebutuhan industri terhadap komoditas itu sebagai bahan baku itu nyata," ujarnya kepada wartawan di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, kemarin.

Agus mengatakan impor masih dilakukan lantaran produksi garam dalam negeri belum bisa memenuhi kebutuhan industri. Ia menyebutkan ladang garam di Indonesia saat ini masih sedikit. Selain itu, kelompok industri juga menginginkan garam dengan kandungan natrium klorida (NaCl) mencapai 98%-99% yang belum semuanya terpenuhi oleh produksi garam dalam negeri.

Pemerintah sendiri, sambungnya, memiliki kesadaran dan political will yang mengupayakan agar Indonesia tidak perlu lagi mengimpor garam dan gula. Upaya yang dilakukan pun dengan menerapkan pengurangan industri dalam menggunakan garam dan gula impor. Di samping itu, dengan memperbaiki kualitas garam dalam negeri.

"Apabila garam itu bisa kemudian sesuai dengan keinginan industri dengan NaCl harus minimal sekitar 98% atau 99%. Itu requirement dari pihak industri. Setelah kami pelajari dengan luas lahan yang minimal 1.000 hektare, dengan kemudian ada cara-cara untuk menghitung kimiawinya, itu akan menghasilkan garam-garam yang kadar dari NaCl-nya 98% hingga 99%," paparnya.

Apabila volume produksi garam tersebut sudah bisa memenuhi permintaan pasar, nantinya hasil produksi garam itu bisa diserap oleh industri. Dengan begitu, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Meski begitu, sambungnya, itu semua masih diupayakan oleh Kementerian Perindustrian.

"Selama pasokan garam dan gula untuk industri yang mempunyai requirement yang sangat tinggi terhadap produk-produknya, mau enggak mau terpaksa harus kita impor. Karena kita tidak mau mematikan industri itu sendiri hanya disebabkan tidak mempunyai bahan baku," tandasnya. (Hld/E-2).

BERITA TERKAIT