14 January 2020, 05:00 WIB

Masih Ada Asa Rebound di Triwulan I


Hilda Julaika | Ekonomi

KINERJA industri pengolahan pada triwulan IV 2019 mengalami penurunan tipis. Penilaian kinerja itu didasarkan pada laporan Bank Indonesia (BI) yang menyebut prompt manufacturing index (PMI) pada triwulan IV 2019 turun ke angka 51,50% dari 52,04% di triwulan sebelumnya.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan meski mengalami penurunan, akhir-akhir ini industri pengolahan justru dinilainya mulai kembali melambung (rebound).

"Sudah ada harapan, kita lihat harapan dengan PMI yang sudah mulai rebound. Walaupun rebound-nya masih harus kita dorong lagi lebih tinggi," ujarnya di Kementerian Perindustrian Jakarta, kemarin.

Penurunan kinerja industri peng-olahan diakuinya terjadi jelang akhir tahun 2019 lantaran tekanan ekonomi global yang turut berpengaruh kepada Indonesia.

Namun belakangan, sambung Agus, saat ini sudah ada tanda-tanda industri pengolahan akan mengalami kenaikan kembali. Meski begitu, rebound tersebut tetap memerlukan dorongan yang lebih tinggi.

Dalam rilisnya kemarin, BI memperkirakan pada triwulan I 2020 ekspansi industri pengolahan akan lebih tinggi. BI memproyeksikan kenaikan hingga 52,73% pada triwulan I 2020. Kenaikan PMI pada triwulan I 2020 itu sejalan dengan perkembangan kegiatan usaha sektor industri pengolahan.

Lebih lanjut dijelaskan, ekspansi industri pengolahan yang telah dilakukan meliputi sebagian besar subsektor. Adapun sektor yang paling tinggi mengalami ekspansi adalah industri semen dan barang galian nonlogam. Sektor itu didorong melalui ekspansi volume produksi dan pesanan barang input.

Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) juga menunjukkan realisasi kegiatan usaha sektor industri peng-olahan yang lebih rendah pada triwulan IV 2019, namun akan kembali meningkat pada awal 2020 ini.

Kegiatan usaha yang diperkirakan kembali meningkat terjadi pada sebagian besar kegiatan subsektor. Ekspansi tertinggi terjadi pada industri semen dan barang galian nonlogam, diikuti dengan peningkatan kinerja pada industri barang kayu dan hasil hutan lainnya, serta industri makanan, minuman, dan tembakau.

Perekonomian membaik

Di kesempatan berbeda, ekonom Bank Permata Josua Pardede optimistis industri pengolahan akan membaik di triwulan I 2020 ini. Hal tersebut terlihat dari ekspektasi perbaikan volume produksi, peningkatan inventori, dan peningkatan jumlah karyawan, seperti yang tercantum dalam rilis PMI BI.

Meski pelambatan secara global masih terjadi, sambungnya, perekonomian global diperkirakan cenderung membaik. Korelasinya, kinerja investasi dan kinerja ekspor Indonesia diperkirakan akan ikut membaik dibandingkan tahun 2019.

"Selain itu, perbaikan dan reformasi struktural pada sektor riil yang didorong pemerintah dengan omnibus law juga diharapkan akan mendorong peningkatan kinerja investasi sehingga akan mendorong pelaku usaha industri untuk melakukan ekspansi. Stimulus ekonomi baik dari sisi moneter dan fiskal juga turut mendorong perbaikan investasi," ujarnya.

Ia menambahkan, kinerja sektor industri pengolahan yang cenderung melambat semuanya dipengaruhi oleh faktor global, khususnya dari mitra dagang utama Indonesia seperti Tiongkok, Eropa, dan Amerika Serikat.

Kinerja perlambatan ekonomi global pada akhirnya berpengaruh terhadap perlambatan ekonomi domestik, khususnya berpengaruh secara negatif pada investasi dan kinerja ekspor. (E-2)

BERITA TERKAIT