14 January 2020, 03:25 WIB

Momentum Berpihak ke Madrid


Yakub P Wijayaatmaja | Sepak Bola

MOMENTUM perkelahian massal pada menit ke-114 babak perpanjangan waktu menjadi kunci kemenangan Real Madrid atas Atletico Madrid pada final Piala Super Spanyol, kemarin dini hari WIB.

Gelandang Los Blancos Federico Valverde menjadi aktor utama pada laga yang dilangsungkan di King Abdullah Sports City, Jeddah, Arab Saudi. Sebanyak 53 ribu lebih pasang mata menyaksikan tekel kejam Valverde kepada striker Atletico Madrid, Alvaro Morata, yang tinggal berhadapan satu lawan satu dengan kiper Thibaut Courtois membuat pemain Atletico merasa dirugikan.

Pasukan Diego Simeone merasa aksi Morata bakal mampu memecah kebuntuan dan membawa Atletico unggul. Perkelahian pun terjadi usai beberapa pemain Atletico terlihat menyalahkan Valverde dan pemain Madrid pun ikut tersulut emosi.

Atas kejadian tersebut, wasit mengeluarkan kartu merah untuk Valverde dan empat kartu kuning untuk Jose Gimenez, Stefan Savic, dan Angel Correa serta untuk Dani Carvajal.

Dengan begitu, pertandingan harus dilanjutkan ke adu penalti setelah 120 menit skor tetap 0-0. Terbukti, emosi pasukan Los Rojiblancos--julukan Atletico Madrid--tak terkendali saat melakoni babak tos-tosan.

Eksekutor pertama Saul Niguez harus gagal menaklukkan Courtois. Thomas Partey yang dipercaya menjadi penendang kedua Atletico gagal. Hanya Trippier yang berhasil mencetak gol untuk Atleti.

Kegagalan para pemain Atletico mengambil penalti berbanding terbalik dengan para eksekutor Madrid. Empat penendang Real Madrid sukses menjalankan tugas sebagai algojo. Adalah Carvajal, Rodrygo, Luka Modric, dan Sergio Ramos mampu melesakkan gol dan membuat skor akhir 4-1 untuk Madrid.

Namun, Simeone tak menyalahkan aksi yang dilancarkan Valverde kepada penyerang andalan Morata. Menurutnya, siapa pun pemainnya pasti akan melakukan hal yang sama untuk menggagalkan lawan mencetak angka.

"Saya pikir memberi Valverde man of the match adalah pilihan tepat dan masuk akal karena Valverde memenangkan pertandingan dengan aksi ini," ujar Simeone.

"Momen terpenting adalah Valverde, yang mengambil keputusan adil untuk timnya dan dia mencegah kami mencetak gol," tambahnya.

Spesialis laga final

Adapun kemenangan ini membuat arsitek Los Blancos Zinedine Zidane mengukuhkan diri sebagai spesialis final. Tercatat, kesembilan final yang Zidane jalani bersama Real Madrid bisa dimenangi, tanpa menuai kekalahan satu kali pun.

"Memenangi trofi tidak pernah mudah, apalagi harus melawan Atletico," ujar legenda Prancis yang akrab disapa Zizou itu.

"Saya tidak tahu mengapa kami memenangi sembilan dari sembilan laga final. Mungkin memang seperti itulah klub ini," tambah mantan midfielder Juventus Italia yang sudah mengoleksi 10 trofi selama memoles Madrid dari musim 2016 lalu.

Dirinya mengaku tak ingin timnya larut dalam euforia di pertengahan musim. Masih banyak yang harus dilalui El Real, jika ingin kembali juara di musim ini. (Marca/R-2)

BERITA TERKAIT