13 January 2020, 19:50 WIB

Dendam pada Ayah, Penerima Sepeda dari Jokowi Gantung Diri


Palce Amalo | Nusantara

TIDAK ada yang menyadari, Yohan Sinaga, 14, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Kala itu, jelang pengujung 2020, jenazah Yohan ditemukan tergantung pada seutas tali di rumah kosong di Kelurahan Oebufu, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Orang-orang pun berdatangan ke lokasi kejadian, dari sanak keluarga, tetangga, teman-temannya dari sebuah sekolah menengah pertama (SMP), hingga polisi yang ingin mengusut kasusnya.

Adalah Kristofel Key, 57, warga setempat yang pertama kali menemukan jenazah Yohan. Pria itu mencium bau busuk dan juga melihat banyak lalat hinggap di balik kaca jendela rumah tersebut. Dia kemudian mendekat dan mengintip lewat celah dinding.

"Saya melihat orang tergantung di dalam rumah," katanya.

Dia melaporkan temuan itu ke polisi dan tetangga. Rumah kosong milik orangtua Yohan yang itu pun ramai didatangi orang. Rumah reot yang dibangun di lereng, perbatasan antara Kelurahan Oebufu dan Liliba itu menjadi saksi kekejaman ayahnya Antonius Sinaga, 42.

Tujuh tahun lalu, saat Yohan berusia lima tahun, ibunya Yance Suni, 36, dibunuh sang ayah. Jenazahnya ditemukan dalam lubang WC di belakang rumah. Tragedi yang membawa Sinaga mendekam di penjara.

Yohan bersama dua kakaknya tinggal bersama paman mereka di Kelurahan Penfui. Mereka bersekolah seperti biasa. Di sekolah, Yohan dikenal sebagai siswa berprestasi.

Setelah beranjak remaja, niat Yohan melakukan balas dendam atas kematian ibunya mulai muncul.

"Dari SD sampai SMP, Yohan selalu juara di kelas. Saat masih SD Yohan pernah mengikuti olimpiade matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tingkat provinsi," kata Yuni, bibi Yohan, sambil mengusap air matanya.

Di bangku SMP, Yohan yang pernah menerima sepeda dari Presiden Joko Widodo karena hafal Pancasila itu, sering diolok-olok keluarga terdekatnya sebagai keturunan keluarga pembunuh dan juga anak tukang cor. Itu lantaran sang ayah mengecor jenazah ibunya dalam lubang WC.

Olok-olokan yang membuat prestasi Yohan di sekolah menurun. Dari situ niat menghabisi ayahnya timbul. Namun, perubahan sikap Yohan tidak disadari saudara dan anggota keluarga lainnya.

"Dia anak periang tetapi sedikit tertutup," ujar Yuni sambil mengusap air matanya. "Saya mengasuh dia sejak ibunya dibunuh," tambahnya.


Baca juga: Bali Harus Jadi Contoh bagi Pariwisata Aman Bencana di Indonesia


Psikiater Andriyani Lay dari Universitas Nusa Cendana Kupang menyebutkan, tekanan sosial seperti labeling dan stigma mendorong orang melakukan tindakan yang mencelakakan diri mereka seperti bunuh diri. Apalagi, tidak didukung oleh kemampuan mengelola emosi yang baik.

"Yang paling riskan, kita sering tidak mengenali tanda-tanda orang akan bertindak nekat seperti perubahan perilaku kita bisa melakukan pencegahan," kata Andriyani di Kupang, Senin (13/1).

Dari kasus bunuh diri Yohan Sinaga, sudah ada perubahan perilaku seperti muncul sikap tertutup dan penurunan prestasi di sekolah, sudah menjadi bahan awal melakukan tindakan pencegahan. Apalagi, sejak kematian ibunya, kemungkinan Yohan tidak punya ruang mengungkapkan perasaannya.

"Remaja masih cenderung emosional dan melakukan sesuatu tanpa pertimbangan moral yang baik," ujarnya.

Bagi Ketua Himpunan Psikolog Indonesia Cabang NTT itu tindakan bunuh diri bisa dicegah, jika masyarakat atau anggota keluarga peka terhadap sikap tertutup yang diperlihatkan seseorang. Salah satu langkah yang bisa ditempuh ialah anggota keluarga rutin bertanya dan bercerita mengenai pengalaman keseharian mereka.

"Dari cerita itu, kita tahu apa saja yang terjai dengan anggota keluarga kita," tandasnya.

Apa boleh buat. Kisah hidup Yohan berakhir sangat cepat. Hanya dua lembar kertas yang berisi wasiat dan alasannya bunuh diri, ia tinggalkan tak jauh dari jenazahya tergantung. Di dua kertas itu, Yohan mengungkapkan perasaan dan keinginannya membunuh sang ayah yang tak pernah tercapai, lalu membubuhkan tanda tangan.

Wasiat yang ditujukan kepada pamannya, Nahor Takaeb, juga berisi pesan yang mengandung dendam membara. Ia juga minta kakaknya, Ucok Sinaga, membalas dendamnya.

"Tolong kasih surat ini kepada Ucok Sinaga supaya dia bisa membantu membalas dendam Yohan," begitu kutipan satu baris surat Yohan tertanggal 12 Oktober 2019 itu.

Dia juga mengungkapkan keinginannya bisa menempuh pendidikannya di salah satu SMA di Kota Kupang setelah tamat SMP. Keinginan yang tak mungkin terwujud itu kini hanya menjadi cerita kenangan buat dua kakaknya, termasuk sepeda pemberian presiden yang masih parkir di teras rumah. (OL-1)

BERITA TERKAIT