13 January 2020, 19:00 WIB

Terapi Sel Punca Ilegal Berdampak Fatal bagi Pasien


Atalya Puspa | Humaniora

PRAKTIK terapi sel punca yang tidak memiliki izin dari Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan berdampak fatal bagi pasien. Hal itu diungkapkan oleh Koordinator Administrasi Umum dan Keuangan UPT Teknologi Kedokteran Sel Punca RSCM Tri Kurniawati.

"Tidak ada jaminan safety dan efikasi dari sel punca tersebut, pun kompetensi dokter yang memberikan. Termasuk di sini bagaimana evaluasi atau follow up pengobatannya yang tidak bisa dipertanggung jawabkan," kata Tri kepada Media Indonesia, Senin (13/1).

Dirinya mengungkapkan, asal sel punca yang disuntikkan dalam tubuh pasien yang belum jelas menjadi permasalahan besar. Tri menjelaskan, sel punca terdiri dari dua jenis, yakni berasal dari sel manusia dan hewan.

Baca juga: Seorang Dokter Ditahan Karena Praktik Sel Punca Ilegal

Apabila Human Leukocyte antigen (HLA) yang disuntikkan dalam tubuh manusia tidak memiliki kecocokan di atas 70%, maka kemungkinan terburuk dalam teori chimera akan terjadi.

"Pernah dengar kasus chimera? Teori itu mengatakan bisa jadi sel punca hewan tumbuh dan berkembang menjadi jaringan organ hewan di tubuh manusia," ungkapnya.

Dirinya menyatakan, saat ini sendiri Indonesia belum mengembangkan pelayanan dan penelitian sel punca hewan demi alasan keselamatan pasien.

Terlebih lagi, dalam kasus praktik terapi sel punca ilegal, dirinya juga mempertanyakan pengolahan sel punca yang dikembangkan.

"Yang namanya sel punca adalah makhluk hidup, jika benar dikirim dari Jepang tentu perlu penanganan khusus. Misal di dalam nitrogen cair agar tidak mati atau turun viabilitasnya," ungkapnya.

"Jika dibawa di kabin dengan ice box misalnya, perjalanan Jepang - Jakarta berapa jam tuh? Tentu banyak yang mati selnya," imbuh Tri.

Selain itu, di Indonesia sendiri, telah diatur dalam UU nomor 36 tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Sel Punca yang menentukan sel punca jenis apa yang diperbolehkan.

"Jika dari manusia asalnya dari sel punca embrionik atau sel punca dewasa? UU kesehatan no 36 tidak mengijinkan penggunaan sel punca embrionik di Indonesia dengan alasan etik," jelasnya.

Di Indonesia sendiri, sel punca belum menjadi pelayanan terstandar karena belum ada standar pelayanan dari kolegium manapun yang sudah diteken oleh Menteri Kesehatan.

"Standar pelayanan ini adalah acuan bagi dokter spesialis yang diizinkan memberikan sel punca yg sesuai dengan kompetensinya. Jadi ga bisa seorang dokter melakukan terapi pada semua kasus (one for all), semua harus sesuai kompetensinya," bebernya.

Karena belum ada standar pelayanan tersebut, maka hingga saat ini sel punca di Indonesia masih dalam skema penelitian berbasis pelayanan terapi sesuai SK Menkes 32 tahun 2018.

Lalu, laboratorium pengolahan sel punca juga harus sudah memiliki sertifikasi cGMP dan terdaftar dalam BPOM.

"Syarat izin edar salah satunya harus melalui uji klinis, dan uji klinis ini spesifik untuk masing-masing penyakit. Apa sel punca dr jepang tsb sudah melalui uji klinis?" tanya Tri. (OL-4)

BERITA TERKAIT