13 January 2020, 11:10 WIB

Ada Lo Hubungan Wisata ke Museum dengan Risiko Kematian


Fathurrozak | Weekend

Dok. Museum Nasional
 Dok. Museum Nasional
Penelitian terbatas menemukan korelasi antara risiko kematian dino dam wisata budaya.

Apakah Anda termasuk orang yang sering nonton pentas di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), menonton pertunjukkan teater, atau Anda kerap mendatangi pameran di Galeri Nasional Indonesia, atau ke beberapa galeri seni aternatif?

Jika iya, maka boleh jadi Anda bisa berbahagia. Sebab, menurut studi baru University College London (UCL) yang diterbitkan dalam British Medical Journal menemukan, bahwa secara teratur terlibat dengan seni memiliki efek langsung pada umur seseorang. Pada dasarnya, semakin banyak budaya Anda, semakin rendah risiko kematian dini.

Dilansir situs Lonely Planet, penelitian yang dipimpin oleh Dr. Daisy Fancourt dari UCL mengungkapkan, bahwa orang-orang yang sering melakukan kegiatan berbasis kebudayaan (setiap beberapa bulan) memiliki risiko kematian dini 31% lebih rendah daripada mereka yang tidak terlibat dengan seni sama sekali. Bahkan mereka yang pergi ke museum atau teater hanya sekali atau dua kali setahun ditemukan memiliki risiko 14% lebih rendah meninggal dini.

Untuk penelitian ini, para peneliti menganalisis data lebih dari 6.700 orang dewasa di atas usia 50 tahun di Inggris, yang merupakan bagian dari studi penuaan yang lebih besar: the English Longitudinal Study of Aging (ELSA). Paparan peserta terhadap seni dipantau selama 12 tahun, dan faktor-faktor luar yang mungkin mempengaruhi hasil - seperti status perkawinan, pekerjaan, kekayaan, pendidikan, dan kelompok persahabatan - diperhitungkan untuk mendapatkan hasil yang seimbang.

Sementara penelitian ini tidak mengungkap mengapa kehidupan yang lebih kaya secara budaya dapat membantu orang hidup lebih lama (uji coba lebih lanjut diperlukan), para penulis laporan mengatakan hasil tersebut menyoroti "pentingnya terus mengeksplorasi faktor sosial baru sebagai penentu inti kesehatan."

Ia juga mencatat bahwa sementara setiap orang harus memiliki kesempatan untuk mengalami aktivitas kebudayaan, "orang-orang yang paling mendapatkan manfaat dari berpartisipasi dalam seni, seperti yang termiskin dan mereka yang mengalami depresi atau kesepian, paling tidak mungkin melakukannya." (M-2)

BERITA TERKAIT