13 January 2020, 09:45 WIB

Komunitas Internasional Sambut Gencatan Senjata Libia


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

KETENANGAN meningkat di penjuru ibu kota Libia, Tripoli, Minggu (12/1) waktu setempat, setelah gencatan senjata yang ditengahi Turki dan Rusia.

Gencatan senjata mulai berlaku pada tengah malam waktu setempat dan keputusan itu dirayakan masyarakat setempat dengan kembang api dan pengemudi membunyikan klakson dalam perayaan, mengikuti tanggapan positif dari semua pihak.

Pengumuman gencatan senjata datang beberapa menit setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan dan rekan sejabatnya dari Rusia, Vladimir Putin, mengadakan pembicaraan telepon.

Para pemimpin membahas masalah regional, termasuk Libia, menurut sumber-sumber diplomatik. Belum ada perincian lebih lanjut seputar percakapan tersebut.

“Gencatan senjata itu adalah hasil konkret dari upaya perdamaian yang diupayakan Turki di kawasan itu,” ujar juru bicara Presiden Erdogan, Ibrahim Kalin, Minggu (12/1).

Baca juga: Trump Ancam Iran soal Demonstran

Pernyataan Kalin menyusul pengumuman panglima perang Libia, Khalifa Haftar, yang menerima permintaan Turki dan Rusia untuk gencatan senjata. Sebelumnya Haftar menyatakan penolakan.

Gencatan senjata, yang dianggap sebagai langkah pertama menuju situasi politik dalam krisis Libia, juga disambut masyarakat internasional.

Amerika Serikat (AS) menyambut gencatan senjata dan meminta faksi-faksi yang bertikai di Libia untuk mematuhi gencatan senjata.

"Misi (PBB) menyatakan kesiapan penuhnya untuk mendukung Libia dan memanfaatkan semua sumber untuk membantu mereka menemukan solusi damai final untuk krisis Libia," kata Misi Dukungan PBB di Libya (UNSMIL) dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB mengumumkan akan membuka kembali Bandara Internasional Mitiga Tripoli, yang ditutup karena serangan Haftar dan tentara loyalisnya.

Di sisi lain, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte mengatakan, "Pasukan Haftar telah menerima gencatan senjata. Itu adalah langkah pertama dalam mengejar solusi politik. Masih, masih jauh, tetapi arahnya sudah benar."

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, berbicara pada konferensi pers bersama dengan timpalannya dari Ghana, mengatakan Beberapa negara tetangga di kawasan itu berusaha mengganggu gencatan senjata. Ia menuduh Prancis merusak upaya perdamaian di Libia.

"Prancislah yang telah menyebabkan kekacauan di Libia dengan terus memberikan semua jenis dukungan, termasuk senjata, kepada pemerintah yang tidak sah," kata Cavusoglu.

Lebih dari 280 warga sipil dan 2.000 pejuang telah tewas sejak awal serangan Haftar terhadap Tripoli baru-baru ini, menurut PBB. Pertempuran itu telah mengungsikan sekitar 146.000 orang. (AFP/Daily Sabah/OL-2)

BERITA TERKAIT