13 January 2020, 06:25 WIB

Perkelahian Massal Nodai Kemenangan Madrid di Piala Super Spanyol


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Sepak Bola

REAL Madrid berhasil keluar menjadi kampiun Piala Super Spanyol 2020 setelah menghempaskan Atletico Madrid melalui adu penalti, Senin (13/1) dini hari WIB.

Kemenangan Madrid atas rival sekota mereka tersebut harus diwarnai hal tercoreng lantaran kedua tim terlibat perkelahian massal di menit 114 perpanjangan waktu.

Tekel kejam pemain muda Madrid Federico Valverde kepada Alvaro Morata yang tinggal berhadapan satu lawan satu dengan kiper Thibaut Courtois membuat pemain Atletico merasa dirugikan.

Pasukan Diego Simeone merasa aksi Morata bakal mampu memecah kebuntuan dan membawa Atletico unggul.

Baca juga: Xavi Mengaku Impikan Tukangi Barcelona

Perkelahian pun terjadi usai beberapa pemain Atletico terlihat menyalahkan Valverde dan pemain Madrid pun ikut tersulut emosinya.

Atas kejadian tersebut, wasit mengeluarkan kartu merah untuk Valverde dan empat kartu kuning dari kantongnya untuk Jose Gimenez, Stefan Savic, dan Angel Correa serta Dani Carvajal.

Dengan begitu, pertandingan final Supercopa de Espana di King Abdullah Sports City di Jeddah ini harus dilanjutkan ke adu penalti setelah 120 menit skor tetap 0-0.

Terbukti, emosi pasukan Los Rojiblancos tidak terkendali saat melakoni babak penalti.

Eksekutor pertama Saul Niguez gagal menaklukkan Courtois.

Thomas Partey yang dipercaya menjadi penendang kedua Atletico gagal. Hanya Trippier yang berhasil mencetak angka untuk Atletico.

Kegagalan para pemain Atletico mengambil penalti berbanding terbalik dengan para eksekutor Madrid.

Empat penendang pertama Real Madrid sukses menjalankan tugas mereka sebagai algojo. Adalah Carvajal, Rodrygo, Luka Modric, dan Sergio Ramos mampu melesakkan gol dan membuat skor akhir 4-1 untuk Madrid.

Namun, Simeone tidak menyalahkan aksi yang dilancarkan Valverde kepada penyerang andalan Morata. Menurutnya, siapa pun pemainnya pasti akan melakukan hal yang sama untuk menggagalkan lawan mencetak angka.

"Saya pikir memberi Valverde man of the match adalah pilihan tepat dan masuk akal karena Valverde memenangkan pertandingan dengan aksi ini," ujar Simeone.

"Momen terpenting adalah Valverde, yang mengambil keputusan adil untuk timnya dan dia mencegah kami mencetak gol yang bisa memutuskan pertandingan," tambahnya.

Adapun kemenangan ini membuat manajer Los Blancos Zinedine Zidane mengukuhkan diri sebagai spesialis final.

Tercatat, kesembilan final yang Zidane jalani bersama Real Madrid bisa dimenangkan seluruhnya tanpa menuai kekalahan satu kali pun.

"Memenangkan trofi tidak pernah mudah dan apalagi melawan Atletico," ujar legenda Prancis itu.

"Saya tidak tahu mengapa kami menang sembilan dari sembilan laga final. Mungkin memang seperti itulah klub ini," tambahnya.

Dirinya mengaku tidak ingin anak buahnya terlalu larut dalam euforia di pertengahan musim. Masih banyak yang harus dilalui Los Galacticos jika ingin kembali meraih juara di musim ini.

"Sekarang kita akan menikmati kemenangan, tetapi masih ada jalan panjang untuk menjadi juara di LaLiga Santander, Liga Champions dan Copa del Rey. Ini Musim yang sangat panjang," ujar eks pemain Real Madrid itu. (marca/OL-2)

BERITA TERKAIT