13 January 2020, 06:20 WIB

Diplomasi Ekspor Pertanian


Imam Mujahidin Dosen Ekologi Politik Unhas Makassar | Opini

MENTERI Pertanian Syahrul Yasin Limpo menggagas Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks) sebagai upaya pemerintah dalam menekan angka impor. Gerakan ini dinilai sebagai gerakan paling kuat untuk membuka pintu keluar resesi di sejumlah negara. Gratieks juga bisa dibilang sebagai bukti nyata bahwa Indonesia memiliki nyali besar dalam melawan lesunya ekonomi dunia.

Menurut Mentan Syahrul, gerakan ini dengan sendirinya juga memiliki kemampuan dalam memantau situasi kekisruhan di dua negara besar macam AS dan Tiongkok. Akan tetapi, jangan lupa, kita harus punya strategi untuk memastikan bahwa gerakan ini berhasil diterapkan.

Setidaknya ada dua cara yang mesti dilakukan secara simultan. Pertama, pengelolaan keunggulan komparatif dan kedua melakukan identifikasi pelebaran potensi pasar. Akan tetapi, untuk mencapai kedua hal ini, setidaknya kita juga musti bisa melakukan tiga hal lainnya.

Ketiga hal itu, antara lain melakukan percepatan peningkatan produksi komoditas ekspor, melakukan pengembangan kawasan komoditas pertanian, serta membangun platform diplomasi ekonomi dengan cara melakukan promosi dan menfasilitasi ekspor.

Dalam hal ini diplomasi dagang dan networking harus menjadi kekuatan utama dan faktor penentu tumbuhnya neraca perdagangan kita. Diplomasi dan networking harus mampu merebut posisi Thailand sebagai produsen karet terbesar pertama di dunia.

Pengelolaan keunggulan komparatif produk tentu saja dapat dilakukan Kementan. Akan tetapi, langkah yang lain, seperti perluasan pasar ekspor, melakukan diplomasi, promosi dan fasilitas ekspor, wewenangnya ada pada kementerian dan lembaga lain.

Diplomasi ekonomi, misalnya, dalam konteks ini sepenuhnya menjadi ranah Kementerian Luar Negeri, sedangkan promosi dan fasilitas ekspor menjadi tugas pokok Kementerian Perdagangan.

Sementara itu, tugas utama Kementan ialah meningkatkan daya saing produk pertanian ekspor dengan cara memperbaiki kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan petani. Di samping itu, Kementan juga wajib mendorong penggunaan teknologi sebagai upaya memperbanyak jumlah produk turunan, seperti agroindustri, penyediaan kredit, teknologi melalui penyuluhan dan pasar, serta menguasai kebijakan-kebijakan dan pengalaman dari negara lain.

Namun, bagaimanakah kekuatan diplomasi dagang produk-produk pertanian Indonesia? Pengalaman yang sangat menarik. Produsen karet terbesar nomor dua di dunia, sesudah Thailand, ialah Indonesia. Berikutnya, Malaysia. Tiga negara ini menguasai 70% produsen karet dunia, tetapi tidak memiliki kemampuan menentukan harga karet di pasar global.

Sementara itu, Singapura, negara yang tidak memiliki sebatang pohon karet pun justru mampu menentukan harga karet dunia. Mengapa demikian? Karena Singapura memiliki networking dan kemampuan diplomasi ekonomi yang lebih baik di Asia.

Dengan begitu, dapat dipahami mengapa Mentan menggunakan terminologi 'gerakan' sebagai salah satu cara melipatgandakan ekspor. Istilah gerakan tak lain dan tak bukan hanyalah sebagai cara Kementan dalam melibatkan semua stakeholders agar memiliki kesadaran kolektif untuk ekspor.

Inilah yang disebut Mentan sebagai aliansi strategis dorongan peningkatan ekspor tiga kali lipat. Jika pemerintah, swasta, dan masyarakat sudah memiliki orentasi yang jelas tentang ekspor, stakeholders dengan sendirinya akan menghasilkan produk dengan kualitas dan standar yang sesuai preferensi pasar.

Apa yang dicanangkan Kementan bukanlah pepesan kosong sebab Indonesia memiliki potensi ekspor yang sangat besar dan tersebar luas di banyak negara. Daya saing beberapa komoditas pertanian unggulan Indonesia di pasar internasional juga sangat baik. Dalam hal ini Kementan tinggal menggali potensi ekspor komoditas pertanian lebih serius dan lebih luas, dengan memahami kekuatan dan kelemahan yang dimiliki yang tecermin pada keunggulan komparatif komoditas pertanian menurut wilayah.

Inovasi dan kreativitas menjadi kata kunci dalam meningkatkan daya saing produk pertanian. Produk hasil pertanian diusahakan tidak lagi diekspor dalam bentuk bahan baku, tapi juga diolah terlebih dahulu menjadi produk jadi sehingga bisa meningkatkan nilai tambahnya.

Dalam upaya meningkatkan ekspor, Kementan harus siap-siap menghadapi isu global.

Isu yang dilahirkan oleh kelompok broker transnasional. Isu-isu ini dimaksudkan untuk menghambat akses pasar internasional. Setiap komoditas biasanya memiliki isu-isu sendiri. Kelapa Sawit, misalnya, akan diperhadapkan dengan isu deforestasi, kebakaran hutan, carbon stock, HCV, indigenous people, animal welfare (kerusakan habitat gajah, harimau, orangutan), keamanan pangan: kandungan logam berat, dll.

Kakao dan kopi; keamanan pangan: kandungan kadmium, automatic detention, sertifikasi, MRLs/kandungan logam berat, animal welfare (kopi). Pala dan lada; persyaratan mutu/sertifikasi, kandungan logam berat, serta karet; persyaratan mutu dan sertifikasi oversupply.

Bagaimana melawan isu-isu global untuk produk pertanian Indonesia? Jawabannya ialah perkuat diplomasi. Dalam konsep ekonomi politik internasional, interaksi antaraktor atau pelaku ekonomi dicapai melalui komunikasi, salah satunya dengan diplomasi. Diplomasi ekonomi harus fokus pada upaya peningkatan ekspor, menarik investasi asing, dan partisipasi kerja dalam berbagai organisasi ekonomi internasional.

Diplomasi ekonomi dalam konteks Gratieks dilakukan dengan mengadakan pertemuan antara eksportir dan partner dagangnya. Pertemuan ini penting dilakukan untuk menjelaskan dan menyusun prioritas aspek-aspek yang menguntungkan.

Yang paling penting ialah inilah saatnya kita mempertahankan kondisi yang menguntungkan dari kerja sama ekonomi internasional. Kita harus mampu meningkatkan level serta kualitas kehidupan masyarakat tani agar jauh lebih baik lagi.

BERITA TERKAIT