13 January 2020, 06:00 WIB

Merayakan Kemerdekaan Belajar


Ade Mulyono Pemerhati Pendidikan | Opini

SUATU hari Keating dipanggil kepala sekolah karena desas-desus perihal ketidaklaziman cara ia mengajar anak didiknya. Seperti saat ia mengajar puisi yang keluar dari metode belajar lapuk: mencatat dan menghafal. Keating dengan berani membiarkan anak didiknya memahami puisi dengan bahasa mereka sendiri.

Keating lebih mengutamakan kebebasan, kreativitas, dan kuriositas pada anak didiknya untuk memahami potensi diri mereka sendiri karena pada saat yang sama lembaga otoritas (sekolah) telah menjadi pengatur rambu-rambu lalu lintas aturan yang absolut. Baginya aturan semacam itu telah membuat peserta didik mengalami keterkungkungan.

Keating telah menjadi inspirasi bagi anak didiknya untuk selalu membuat perubahan dalam hidupnya. 'Carpe diem' (seize the day) ialah mantra untuk berbuat dan meraih sesuatu. Mantra itu yang dikhotbahkannya kepada anak didiknya.

Dalam proses belajar-mengajar, Keating kadang menjelma layaknya filsuf dan penyair. Kadang menjadi seperti seorang ayah yang menasihati anaknya, kadang menjadi teman yang mengasyikkan. Sebagai seorang guru Keating tidak segan melepaskan 'atributnya' yang datar, kaku, formal, dan gila hormat layaknya guru besar di universitas.

Suatu waktu dalam diskusi di ruang kelas Keating memberikan kebebasan penuh pada anak didiknya untuk menjadi diri mereka sendiri, "Tak usah hiraukan orang bicara apa. Tapi percayalah bahwa kata-kata dan gagasan dapat mengubah dunia," ujarnya kepada anak didiknya. Bagi dirinya filosofis dalam pendidikan ialah siswa harus belajar untuk diri mereka sendiri.

John Keating ialah tokoh imajiner yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris dalam film Dead Poets Society (1989) karya Tom Shculman yang kemudian diadaptasi N H Kleinbaum ke dalam sebuah novel dengan judul yang sama. Film Dead Poets Society mengingatkan kita pada kegelisahan Ivan Illich dan Paulo Freire tentang sistem pendidikan yang 'menindas' peserta didik.

Barangkali gaya mengajar seperti Keating dalam potret pendidikan di RI bagai pungguk merindukan bulan. Saya sendiri berharap ada kecakapan seorang guru di RI yang berani keluar dari 'kurikulum lapuk'.

Proses belajar-mengajar yang pernah disindir pedas Paulo Freire, Banking Concept of Education. Peserta didik diberikan ilmu pengetahuan agar kelak mendapatkan hasil yang berlipat ganda. Peserta didik ialah objek investasi 'keberingasan' guru dan birokrat yang menilai peserta didik sebagai 'ketidaktahuan absolut', laksana melihat gelas kosong yang terus dituangkan air.

Kondisi pendidikan

Tidak bisa dimungkiri, di banyak tempat, tak terkecuali di Indonesia, Konsep Pendidikan Gaya Bank dalam proses belajar-mengajar di sekolah telah menjadi wabah penyakit kronis seorang guru: antidialogis. Guru tahu segalanya, siswa tidak tahu segalanya. Guru bicara, siswa mendengarkan. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, siswa menurutinya. Guru ialah subjek-proses belajar, siswa ialah objeknya.

Pendek kata, pendidikan telah kehilangan nilai-nilai humanisme. Padahal, seharusnya guru menjadi pedagog, bukan demagog. Barangkali hal ini juga yang membedakan antara pendidik dan pengajar. Akibatnya yang terjadi ialah dehumanisasi pendidikan. Peserta didik melihat sekolah seperti melihat ruang penjara yang di dalamnya penuh dengan 'siksaan kompleks'.

Untunglah 'waktu' telah mengirim Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim untuk mengobati wabah penyakit kronis para guru dengan azimat 'Kemerdekaan Belajar'. Pendidikan kita memang membutuhkan 'gebrakan' demi menghadapi tantangan di depan seperti yang sedang berlangsung saat ini: Revolusi Industri 4.0. Yang tak kalah penting ialah demi perintah konstitusi: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Akan tetapi, patut untuk diperhatikan bahwa 'Kemerdekaan Belajar' tidak akan berjalan efektif jika hak primer guru belum terpenuhi. Tentu kita menyadari profesi guru di Indonesia membutuhkan mental yang tangguh, terlebih bagi guru honorer. Karena hanya ada satu kebanggaan yang diperoleh seorang guru dalam hubungan sosial di masyarakat, selalu berpakaian rapi dan wangi setiap pagi.

Bayangkan saja pendapatan tukang parkir di jalan raya jauh lebih besar dari gaji seorang guru honorer. Di saat yang sama seorang guru dipaksa mengikuti administrasi kurikulum yang kompleks. Saya rasa 'Kemerdekaan Belajar' harus paralel dengan kesejahteraan guru.

Komunitas gagasan

Gagasan 'Kemerdekan Belajar' yang disodorkan Nadiem ialah upaya untuk menyegarkan kembali sistem pendidikan kita. Oleh karena itu, penting bagi Nadiem untuk membuka ruang kritik bagi lembaga pendidikan atau mengundang siapa pun sebagai 'komunitas gagasan' untuk menguji 'kemapanan' sistem pendidikan kita karena selama ini lembaga pendidikan dimonopoli oleh satu kekuasaan: pemerintah. Dengan cara itulah kita merayakan 'Kemerdekaan Belajar'.

Karena sejatinya, lembaga pendidikan seperti sekolah bergumul dengan realitas kehidupan masyarakatnya. Dalam hal ini saya yang ingin meminjam kritik Ivan Illich, tentu masih relevan dengan persoalan pendidikan bangsa kita.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu di perhatikan: pertama, pendidikan harus memberikan kesempatan bagi semua orang bebas dan mudah memperoleh sumber belajar setiap saat. Kedua, pendidikan harus mengizinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan mereka kepada orang lain dengan mudah. Demikian pula bagi orang yang ingin mendapatkannya. Ketiga, menjamin tersedianya masukan yang berkenaan dengan pendidikan (Deschooling Society: 78-79).

Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa lembaga otoritas seperti sekolah selama ini telah menjadi desentralisasi proses belajar-mengajar. Padahal, ada ruang di masyarakat, ada hubungan sosiologis, ada kecerdasan afektif (bukan melulu numerik) yang bisa didapatkan peserta didik di luar sekolah.

Oleh karena itu, pentingnya guru mengutamakan kecerdasan emosional, memahami bahwa peserta anak didik ialah bagian dari komunitas sosial. Juga penting bagi sekolah untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik membuka ruang berekspresi. Yang terjadi selama ini sekolah memandang peserta didik layaknya adonan yang dimaksukkan ke cetakan kemudian memanggangnya. Tanpa disadari justru sekolah telah membuat peserta didik terasing dari realitas kehidupannya.

Tentu persoalan semacam ini bukan perkara mudah bagi Nadiem dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi saya percaya ini satu langkah awal menuju sebuah perubahan sistem pendidikan ke arah lebih baik, meski banyak tantangan di depan. Seperti yang pernah dikatakan Robert F Kennedy, "Kemajuan merupakan kata yang merdu. Tetapi perubahanlah penggeraknya dan perubahan mempunyai banyak musuh."

BERITA TERKAIT