12 January 2020, 11:00 WIB

Seorang Pemadam Tewas dalam Kebakaran Hutan Australia


Rifaldi Putra Irianto | Internasional

AFP/PETER PARKS
 AFP/PETER PARKS
Langit berwarna oranye di Kota Towamba, New South Wales, akibat kebakarah hutan yang melanda Australia

SEORANG petugas pemadam kebakaran Australia menjadi korban terbaru dari kebakaran hutan Australia yang telah terjadi selama berbulan-bulan. Hal itu dikatakan pihak berwenang, Minggu (12/1). Pria berusia 60 tahun itu tewas dalam kobaran api di Australia bagian selatan.

Kepala Petugas Pemadam Kebakaran di Forest Fire Management Victoria, Chris Hardman mengatakan seorang petugas pemadam kebakaran dari Taman Victoria tewas saat melakukan pemadaman di wilayah Omeo diyakini karena tertimpa pohon.

"Ia terlibat dalam sebuah insiden saat bekerja pada kebakaran di daerah Omeo yang mengakibatkan kematian," kata Hardman, Minggu (12/1).

Adapun, kematian itu menambah jumlah korban tewas dari kebakaran hutan di Australia menjadi 27 orang.

Baca juga: PM Australia akan Bentuk Royal Commission untuk Atasi Kebakaran

Sementara itu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan pemerintahnya akan mempertimbangkan membuka komisi penyelidikan di tengah kritik yang terus menerus terlontar atas penanganan kebakaran hutan tersebut.

"Saya pikir itulah yang akan diperlukan dan saya akan mengambil proposal melalui kabinet untuk tujuan itu," kata Morrison.

Morrison mengakui gelombang kemarahan tentang kebakaran dipicu iklim dan telah membakar daerah yang sebanding dengan ukuran Korea Selatan serta menyekimuti Sydney dalam Asap kebakaran hutan.

Perdana Menteri yang merupakan pendukung setia industri bahan bakar fosil itu mengatakan target emisi akan berevolusi tetapi mengesampingkan pembatasan ekspor batubara Australia yang sangat besar.

"Di tahun-tahun mendatang, kami akan terus mengembangkan kebijakan kami di bidang ini untuk mengurangi emisi lebih jauh, dan kami akan melakukannya tanpa pajak karbon, tanpa memasang harga listrik dan tanpa mematikan industri tradisional," ucapnya. (AFP/OL-2)

BERITA TERKAIT