12 January 2020, 10:45 WIB

Kesiapsiagaan Masyarakat akan Kurangi Dampak Bencana


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan masyarakat harus sadar terhadap risiko bencana, sehingga meningkatkan kesiapsiagaan dalam mitigasi sesuai dengan ancaman bencana yang bisa terjadi di setiap daerah. Apalagi berdasarkan data BNPB meningkatkannya korban bencana melebihi korban perang.

"Bencana dapat terjadi sewaktu-waktu. Belum ada teknologi yang dapat mencatat secara pasti tanggal dan jam kejadiannya. Terjadinya gempa dan tsunami di masa lalu hendaknya dapat menjadi referensi. Dalam catatan sejarah kejadian bencana banyak disimpan di Leiden University,  Belanda," kata Doni di Kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (11/1).

Dia menjelaskan, mitigasi bencana dengan vegetasi lebih efektif daripada hanya mengandalkan konstruksi manusia. Tidak ada kekuatan konstruksi buatan manusia yang kuat seperti terjadi bencana tsunami dan gempa di Sendai, Jepang.

"Konstruksi tersebut rusak akibat gempa dan tsunami. Ini membuktikan kekuatan alam tidak bisa dicegah dengan konstruksi buatan manusia," sebutnya.

Baca juga: Perbaiki Sistem Peringatan Dini

Oleh karena itu, mitigasi dengan vegetasi dapat lebih kuat dan mencegah ancaman bencana seperti pohon cemara udang, tanaman vertiver, dan lainnya. Sebagai gambaran dengan hutan pantai dapat lebih melindungi masyarakat dari ancaman tsunami.

"Ke depan, untuk generasi mendatang, agar lebih siap menghadapi bencana maka dimulai saat ini dapat berbuat lebih banyak dalam penanggulangan bencana untuk keselamatan rakyat kita," terangnya.

Sedangkan kebakaran hutan yang terjadi pada 2015 merupakan kebakaran terbesar yang penanggulangannya tidak mudah. Ini terjadi seperti di Australia. Dalam penanggulangannya masih kewalahan dalam  menangani kebakaran.

"Karena itu penanggulangan bencana itu tidak mudah. Perlu adanya kesadaran bersama ikut menanggulangi bersama," paparnya.

Dia menegaskan, edukasi bencana sangat perlu dilakukan terutama yang mengelola kelapa sawit agar tidak membakar lahan dalam memperluas lahan.

Sehingga terjadinya banjir, longsor, dan abrasi dapat diminimalisasi dengan kesiapsiagaan. Sebagai contoh di Konawe Utara,  bupati dan jajarannya berkoordinasi yang baik dengan BMKG, TNI, Polri, dan BPBD senantiasa mengingatkan masyarakat. Sehingga ketika bencana terjadi tidak ada korban. Semua potensi bencana dapat kita cegah dan kita kurangi dampaknya.

"Ancaman bencana lainnya seperti limbah dan kegagalan teknologi. Mengakibatkan kualitas air menjadi buruk. Sehingga air tidak bisa dikonsumsi untuk diminum," pungkas Doni.

Begitu juga kerusakan lingkungan terjadi, sungai- sungai tercemari. Limbah medis juga sangat berbahaya bisa menyebabkan bakteri dan sungai tercemar logam berat.

Dia berharap Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 mendatang. Dia berharap semua pihak memiliki kebijakan dalam pembangunan. Dimana memperhatikan tata ruang sesuai aturan.

"Masyarakat agar sayang kepada alam, karena bila tidak kerusakan lingkungan terjadi. Hal ini dapat menyebabkan,  generasi selanjutnya, bayi yang terlahir menjadi cacat," tegasnya.

Kerusakan ekosistem menyebabkan dampak yang luar biasa. Kesadaran akan ancaman tersebut perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kesiapsiagaan BNPB merancang program Keluarga Tangguh Bencana (KATANA).

"Keluarga menurut riset dapat menyelamatkan diri sebesar 65%. Oleh karena itu kesadaran dimulai dari keluarga. Kita semua dapat menjadi pahlawan manusia dengan berkontribusi besar dalam penanggulangan bencana," pungkasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT