12 January 2020, 05:20 WIB

Buaya Darat


Meirisa Isnaeni, Staf Bahasa Media Indonesia | Weekend

INDONESIA memiliki kekayaan ragam tata bahasa. Tak jarang pula kita menggunakan kekayaan tata bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ungkapan.

Ungkapan berasal dari kebiasaan. Ungkapan biasany­a digunakan seseorang untuk mengiaskan sesuatu. Ungkapan terdiri atas gabungan dua kata atau lebih. Ungkapan disebut juga dengan idiom.

Idiom ialah kata atau frasa yang memiliki makna kiasan. Penggunaannya secara umum dipahami sebagai ekspresi terpisah dari arti harfiah atau definisi dari kata yang dibuat/digunakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), idiom mempunyai arti konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsurnya.

Sering kali kita mendengar ungkapan­, seperti buaya darat, kaki lima, dan tikus kantor. Sebagai contoh, tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan ungkapan buaya darat. Ungkapan buaya darat termasuk jenis kiasan sehingga penggunaan buaya darat bukan dalam arti yang sebenarnya.

Tahukah kamu, sebenarnya buaya ialah hewan yang sangat setia. Konon, buaya jantan hanya kawin satu kali dan hanya memiliki pasangan satu dalam seumur hidupnya meskipun buaya betina yang menjadi pasangannya mati lebih dahulu.

Itulah sebabnya dalam tradisi budaya Betawi, buaya dijadikan sebagai lambang kesetiaan dan kelanggengan dalam sebuah rumah tangga. Roti buaya kerap digunakan sebagai hantaran, sajian, atau seserahan wajib dalam acara pernikahan tradisional Betawi.

Makna dari roti buaya sebagai lambang agar pasangan yang akan menikah nanti akan menjadi pasangan setia seumur hidupnya, sebagai simbolisasi janji sehidup semati.

Namun, mengapa buaya yang terkenal dengan ­kesetiaannya malah justru sering dikiaskan sebagai laki-laki nakal?

Istilah ‘buaya darat’ kerap digunakan untuk men­deskripsikan seorang laki-laki yang mempunyai sifat tidak setia terhadap pasangannya dan suka memiliki pasangan lebih dari satu. Buaya dapat bertahan hidup di dua alam: air dan darat.

Namun, ketika seekor buaya jantan berada di darat, ia dapat dengan mudah mendekati buaya betina lainnya yang bukan pasangannya, ‘memangsanya’.     

Berkaca dari perilaku abnormal perselingkungan buaya itu, banyak orang kemudian menjuluki laki-laki yang suka berganti pasangan (penjahat cinta) dengan sebutan ‘lelaki buaya darat’.

Selain ungkapan ‘buaya darat’, ada juga ungkapan yang sangat populer di kalangan masyarakat, yaitu ‘kaki lima’. Kita tentu sudah sangat akrab dengan istilah PKL (pedagang kaki lima).
Istilah pedagang kaki lima biasanya diberikan kepada orang yang berjualan menggunakan gerobak atau tenda di trotoar.

Kaki lima merujuk pada kaki gero­bak yang berjumlah tiga roda (atau dua roda dengan satu penyangga kaki kayu) dan dua kaki si pedagang.

Kemudian, selain itu ada juga istilah atau ungkapan ‘tikus kantor’. Tikus kantor atau yang biasa dikenal dengan sebutan koruptor merupakan salah satu perumpamaan yang menggambarkan sosok pegawai kantor atau para pejabat yang korup, selalu ingin mengambil hak milik orang lain dengan berkorupsi, rakus, licik, dan penjilat.

Tikus selalu digambarkan sebagai hewan yang rakus memakan apa saja untuk memenuhi isi perut, tanpa peduli makanan itu milik orang lain yang membutuhkan.

BERITA TERKAIT