12 January 2020, 05:00 WIB

Tahun Baru dalam Kala Ider Sunda Wiwitan


Galih Agus Saputra | Weekend

SABTU, 21 Desember 2019, lalu, merupakan hari pertama bergesernya matahari dari selatan ke utara. Peristiwa tersebut diamati dan diperingati dengan upacara Mapag Taun Anyar Suryakala Sunda, di Hutan Kota, Babakan Siliwangi, Kota Bandung. Upacara itu juga menjadi pertanda munculnya hari pertama dalam hitungan Kala Ider (kalender) Sunda Wiwitan yang kemudian berjalan selama 12 bulan ke depan.

Suryakala itu juga mengingatkan keberadaan manusia yang hidup di wilayah agraris. Manusia-manusia di kawasan itu sangat bergantung pada gerak hitung perputaran matahari, yang pada kesempatan selanjutnya juga dimaknai sebagai sebuah anugerah atau cara berterima kasih untuk mengingat kembali asal muasalnya.

“Bapak adalah langit, Ibu adalah Bumi Pertiwi, Lingga-Yoni: hubungannya sangat erat dengan Suryakala. Dia adalah batu yang ditegakkan, kemudian memberikan ­bayangan matahari, sampai pada akhirnya, dari-Nya yang ada di langit memberi pengetahuan kepada kita tentang waktu atau kala,” tutur Jaro Manik atau pemimpin upacara adat, Ginanjar Akil, saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (1/1).

Ginanjar Akil atau yang akrab disapa Kang Gin Gin merupakan salah satu ‘orang yang dituakan’ di kalangan penghayat Sunda Wiwitan di Bandung, Jawa Barat. Menurutnya cara berterima kasih pada alam itu juga disebut eling, yang di lain sisi turut memberikan kemampuan berhitung secara astronomi atau melalui benda-benda di langit yang memengaruhi seluruh sendi kehidupan di Bumi.

Bumi, katanya, dalam kepercayaan masyarakat Sunda juga disebut rumah atau omah, yang berarti juga dekat dengan mak atau ibu. Ia kemudian mewujud sebagai tanah air, tubuh, dan sangat berhubungan dengan tempat yang menjadi hamparan manusia. Tak kalah penting dari itu semua, upacara juga mengingatkan pada upa. Upa artinya mendekat atau sebagai upaya manusia mendekatkan diri kepada cara atau teknik maupun laku dan perbuatan baik, yang sekaligus juga diperlukan sebagai sebuah bangsa dan negara.

“Kita tidak bisa menemukan cara yang benar kalau kita tidak mendekatkan diri. Upacara bukan cara sebenarnya, melainkan kita bisa mendekatkan diri ke cara yang sebenarnya kalau kita melakukan upa atau mendekatkan diri ke cara yang sebenarnya. Bagaimana nanti dari sana kita mendapatkan pengetahuan, kemudian seperti yang digambarkan oleh Ganesha, ilmu pengetahuan yang menjadi genesis, genetika, ganapati, atau saripati kelahiran. Semuanya di seluruh dunia ini jadi terlihat sama, hanya kita menceritakan ini semua sebagaimana hakikatnya,” imbuh Kang Gin Gin.

Adapun Mapag Taun Anyar Suryakala Sunda sendiri, lanjut Kang Gin Gin, berlansung sejak pagi hari. Ia dimulai bersamaan dengan munculnya sinar matahari yang memberikan rasa hangat, di hari pertama Kala Ider. Upacara tersebut nantinya juga menjadi bagian dari beberapa rangkaian dalam satu tahun, termasuk perayaan Suryakala yang pada 2020 mendatang jatuh pada Juni. Juni dalam Kala Ider Sunda Wiwitan termasuk Kapitu dan bertepatan dengan hari pertama kembalinya pergerakan matahari dari utara ke selatan.

Salah satu upacara besar dalam Kapitu, kata Kang Gin Gin, berlangsung di Gunung Tangkuban Parahu, Jawa Barat. Upacara itu disebut Ngertakeun Bumi Lamba yang dihelat pada Minggu pertama Kapitu. Minggu dipilih sebagai momen perayaan karena dalam Kala Ider disebut Radite, yang mana Ra artinya cahaya dan Dite ialah dinten atau hari.

“Nanti tahun 2020 di­selenggarakan pada 28 Juni. Nah, alasan kita menyadari dan ­berterimakasih, sebagai ­orang Sunda, sebagai orang ­Indonesia juga, kita pergunakan bahasa yang diwariskan oleh Ibu dan Bapak kita. Kita ucapkan yang terbaik untuk memuja dan memuji ‘Sang Pemberi Anugerah’,” tutur Kang Gin Gin.

Akar

Menurut Kang Gin Gin, Wiwitan sendiri berasal dari kata Wit yang artinya bibit. Ia menjadi akar yang sangat berhubung­an dengan darah daging dan tanah air atau hamparan yang disebut Nusantara. Ia juga menjadi kesadaran yang sangat penting karena darinya­lah orang Sunda maupun orang Indonesia pada umumnya dapat mengerti bahwa Pancasila tidak hanya sebagai dasar negara, tetapi juga dasar rasa (salira).

Kesadaran itu pula yang pada kesempatan selanjutnya mewujud dalam bentuk budaya yang luhur. Menyoal tata cara, kata Kang Gin Gin, Mapag Taun Anyar Suryakala Sunda dilaksanakan melalui persembahyangan dan dengan cara melantunkan sastra yang baik. Para pesertanya menggelar sesajen atau yang disebut ­Sastra Jendra Hayuningrat. Prosesi ini dapat dilihat dari cara orang mempersembahkan berbagai macam bahan-bahan dari alam, seperti kelapa dan lain-lain. Dalam pemahaman mereka, bahan-bahan alam merupakan sebuah manifestasi atau pernyataan yang jelas kedatangannya dari Tuhan Yang Maha Esa.

Bahan-bahan alam juga merupakan bahasa atau cara manusia membahasakan segala sesuatu yang memang berasal dari Sang Pencipta. “Katakanlah saya bisa menulisnya dengan huruf latin, tetapi itu masih tulisan tangan saya. ­Seindah, sejelas apa pun itu, masih bahasa saya, bahasa ­orang. Tetapi kalau kelapa dan berbagai bahan-bahan alam lainnya, itu jelas kenyataan atau pernyataan dari Yang Maha Kuasa. Jadi begitu pula kurang lebih bagaimana ­leluhur kita mengembangkan bahasa,” imbuh Kang Gin Gin.

Pengampunan

Lanjut setelah itu, kata Kang Gin Gin, peserta upacara juga akan melantunkan lelaguan untuk memohon pengampunan terhadap semua hal yang telah diperbuat sehari-hari. Bukan hanya ampunan terhadap kesalahan yang dilakukan pada Tuhan, melain­kan juga, misalnya, kebiasaan sehari-hari saat memakan yang sumbernya berasal dari berbagai hal, yang mau tidak mau menuntut pengorbanan dari kehidupan lainnya.

Adapun kehidupan yang dimaksud dapat dimulai dari tumbuhan seperti bayam atau binatang seperti ayam. ­Dalam membangun hunian pun, kata Kang Gin Gin, seseorang juga berpotensi mengusir kehidupan makhluk lainnya, seperti cacing dan semut yang hidup di dalam tanah. “Apa itu rasa terima kasih yang ­sesungguhnya? Ya adalah kehidupan sehari-hari kita. ­Upa­cara mengingatkan kita pada itu semua,” tuturnya.

Dalam perayaannya, ­upacara lantas ditutup dengan tarian mengelilingi Lingga-Yoni sebanyak tujuh kali. Momen ini digelar sebagai simbol terhadap tujuh hal yang diberikan Yang Maha Kuasa, yaitu puasa, kehendak, pengetahuan, hidup, melihat, mendengar, dan bicara. Di balik semua itu ­harapan yang harus ­ditanamkan dalam setiap pribadi di dalamnya ialah melakoni segala hal yang ­bermanfaat dan berdaya guna.

“Pesan dari leluhur yang disampaikan begini, siapa pun yang dilahirkan menjadi orang seperti kita ini, apakah dia mau berkulit cokelat, putih, merah, kuning, hitam, selama dia masih orang, dia harus tahu tugasnya. Itu intinya, makanya Kapitu. Kita diciptakan punya tujuan, tapi intinya kita yang melakukan itu. Berangkat dari kesadaran masing-masing,” imbuh Kang Gin Gin. (M-4)

BERITA TERKAIT