12 January 2020, 00:40 WIB

Muda Saatnya Peduli Lingkungan


Thalatie K Yani | Weekend

MI/DUTA
 MI/DUTA
Ilustrasi

SIAPA bilang anak muda tidak bisa berperan dalam mengatasi perubahan iklim saat ini? Mantan Presiden Amerika Serikat Al Gore dalam pidatonya di Konferensi Perubahan Iklim PBB UNFCCC-COP 25 di Ferie de Madrid, Madrid, Spanyol, awal Desember 2019, mengungkapkan pentingnya anak muda dilibatkan dalam mengatasi perubahan iklim.

Al Gore sempat memuji aksi aktivis muda asal Swedia Greta Thunberg yang menyita perhatian dunia. Bahkan, berharap ada lebih banyak ‘Greta’ lainnya di dunia yang melakukan aksi nyata melawan perubahan iklim yang sudah menjadi krisis iklim.

Sebenarnya, tanpa disadari banyak anak muda Indonesia yang sudah melakukan gerakan peduli lingkungan. Seperti yang dilakukan Ramadhan Subakti Umo, perwakilan Gerakan Pramuka Indonesia scouting for being earth friendly, yang melakukan pertikawan atau national green camp yang diikuti 5.000 peserta dari 34 provinsi yang digagas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tahun lalu.

“Kebetulan saya anggota Saka Wanabakti Kota Bogor. Kami di sana fokus kepada kegiatan konservasi, dari penga­wetan, perlindungan, serta pemanfaatan, yang pencegahan dari climate change,” ujar Ramadhan di sela Konferensi Perubahan Iklim UNFCCC-COP 25 di Ferie de Madrid, Madrid, Spanyol, awal Desember 2019.

Di pramuka, lanjut Ramadhan, banyak kegiatan yang peduli lingkungan. Salah satunya di konservasi, mereka melakukan penanaman, pelepasan satwa ke alam liar, dan rehabilitasi, bahkan turut terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Namun, bukan berarti gerakan lingkungan tidak bisa dilakukan dari hal yang sederhana. Anak muda pun bisa melakukan dari lingkungan sekitar, seperti menggunakan botol minum sendiri atau menggunakan tas belanja saat berbelanja.

“Kunci perubahan iklim dari perilaku kita sehari-hari. Mulai dari hal-hal terkecil seperti jangan buang sampah sembarangan,” ujar Ramadhan.

Perempuan

Berbicara perempuan dan lingku­ngan, tidak lepas dari sosok aktivis muda Greta Thunberg yang baru dinobatkan sebagai Person of The Year 2019 oleh majalah Time. Meski berbeda pandangan dengan Greta, Adinda Saraswati, pegiat ling­kungan muda Indonesia, menilai perempuan dan anak muda memiliki peran penting dalam lingkungan dengan cara yang disesuaikan dengan negaranya masing-masing.

Apalagi 60% jumlah penduduk Indonesia merupakan perempuan dan anak muda. Bila mereka diberikan edukasi tentang pentingnya lingkungan dan mengatasi perubahan iklim, pasti akan memberikan dampak besar.

“Perempuan adalah jembatan yang akan memimpin anak-anak supaya mereka bisa menjadi responsible. Mereka bisa menjadi generasi yang hidup lebih baik daripada manusia zaman sekarang,” ujar perempuan berusia 17 tahun itu di Madrid.

Perempuan yang tengah melanjutkan sekolah di Brighton, Inggris, ini, menilai anak muda bisa menjadi pemimpin perubahan lingkungan. Apalagi dampak dari perubahan iklim dapat dirasakan langsung di sekitar kita. “Climate change itu merupakan masalah yang paling gampang kita percayai karena impact-nya di sekitar kita dan paling mudah untuk kita pahami, tetapi paling susah untuk kita bersatu dan mencari solusi,” ujarnya.

Seperti Greta yang melakukan aksi demonstra­si setiap Jumat, Adinda dan teman-temannya juga melakukan hal yang sama. Namun, ia menilai ada banyak cara lainnya yang dapat dilakukan, tidak sebatas aksi demonstrasi saja. Masih banyak solusi konkret lainnya yang bisa dilakukan anak muda dengan cara yang paling mudah.

“Sebenarnya di Indonesia ini sudah terlalu banyak plastik. Kita sudah terbiasa dengan plastik, misal, shopping bag dan polusi kendaraan,” tuturnya.

Anak muda, kata Adinda, sebenarnya bisa mengurangi polusi dari kendaraan dengan menggunakan car pooling dan transportasi publik. Selain itu, mengganti plastik sekali pakai dengan tas belanja atau plastik ramah lingkungan.

“Shopping bag of course, sekarang kalau saya suka minum pakai metal straws. Saya juga tertarik dengan presentasi-presentasi yang diberikan climate reality project. Al Gore sudah menginspirasi saya kemarin dan saya juga kemarin sign up sebagai climate reality volunteer,” ujar putri dari Akbar Faisal itu.

Ternyata kehadiran Adinda di COP bukan kali pertama. Ia juga pernah terlibat di COP sebelumnya dan sejumlah forum internasional lainnya. Dari semua pertemuan lingkungan internasional itu, ia mengaku senang sudah banyak ruang bagi anak muda untuk terlibat dalam masalah lingkungan.

“Alhamdulillah youth sekarang punya lebih banyak peluang dan sekarang kita punya climate youth summit yang di New York. Itu a big step untuk UN. Akhirnya kita diberi kesempatan dan ruangan untuk menunjukkan bahwa kita anak muda yang peduli masa depan kita,” tegasnya.

Aksi lingkungan pun dilakukan Lae­ta­nia Belai Djandam, 18, yang berasal dari Dayak. Remaja yang aktif di organisasi Climate Strike ini mulai mengajak teman-temannya bergerak melawan krisis iklim, apalagi isu lingkungan belum mendapatkan banyak sorotan. “Para pemuda harus bergerak untuk melawan krisis iklim karena kita sudah enggak punya waktu lagi,” ujar mahasiswi Universitas Diponegoro itu.

Hayo Muda, saatnya bergerak dan peduli akan lingkungan. Dimulai dari hal kecil dari lingkungan kita sendiri. (M-1)

BERITA TERKAIT