12 January 2020, 00:00 WIB

Di Balik Konde Mbok Jum


FU/M-4 | Weekend

WAJAH perempuan bersanggul menyembul di kebaya kutubaru. Kadang tampak muka, kadang juga tampak samping. Saat mengamatinya secara saksama, pikiran kita langsung tertuju pada mbok-mbok khas Jawa yang karib dengan kebaya dan sanggul. Mbok-mbok itu bernama Mbok Jum, produk unggulannya kini fesyen Lemari Lila. Mbok Jum mampu mengubah anggapan pakaian tradisional kebaya kutubaru yang tadinya ketinggalan zaman menjadi busana primadona yang pas dipakai ke berbagai acara.

Mbok Jum merupakan karya seniman Rona Narendra asal Jepara yang baru saja menggelar pameran tunggalnya di galeri Miracle Print, Yogyakarta.

Dia memang seniman yang tekun menggambar karakter wajah orang, baik di logam seperti keramik, cangkir, atau kain. “Mbok Jum lahir sekitar 2016, dan ini merupakan proyek kolaborasi yang berawal dari ilustrasi konde pada produk cangkir Miamia Goods,” katanya saat ditemui di sela-sela pameran seninya, akhir September lalu.

Sebelum Mbok Jum lahir, Rona sudah memulai menggambar karakter wajah di banyak media. Ayah satu anak itu menggambarnya secara manual memakai marker pen khusus keramik. Karyanya, dia ikutkan di berbagai pameran seni, salah satunya di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). “Saya menggambar wajah para tokoh dan kutipan-kutipan inspiratif,” katanya.

Dari pameran ke pameran, Rona kemudian berkenalan dengan Lila Imelda Sari, pemilik Lemari Lila. Mereka menjalin kerja sama. Rona menitipkan karya-karyanya di Lemari Lila. Imelda yang tertarik dengan karya-karya khas Rona, meminta menggambar sebuah karakter khas untuk produk Lemari Lila, dan ketemulah karakter Mbok Jum berkonde. “Kita perlu suatu desain yang pas di toko fesyen tradisional yang dibuat modern, akhirnya ketemulah karakter Mbok Jum, motif konde,” ujar Rona, beberapa waktu lalu.

Memainkan motif

Rona mulai berimajinasi dengan karakter Mbok Jum. Dia memain­kan motif konde dengan berbagai warna. Inspirasinya, Rona dapatkan dari karakter wayang yang dua dimensi. Lila, sang pemilik Lemari Lila, sangat kepincut dengan ­kreasinya. Lila pun meminta Rona untuk menggoreskan motif konde di kain sebagai karakter khas produk Mbok Jum di Lemari Lila.

Lila dan Rona langsung ber­kolaborasi. Mereka mendiskusikan model muka Mbok Jum. Model konde pun mereka diskusikan. Berbekal keahlian mendesain serta membatik yang Rona miliki, permintaan Lila bisa terwujud. Akhirnya, lahirnya Mbok Jum di Lemari Lila.

Wajah Mbok Jum karya Rona kini menjadi ikon khas. Bahkan, di setiap kebaya terdapat catatan khusus. “Catatan ini juga seperti peringatan untuk siapa saja yang mau copy silakan, tapi tidak sama persis seperti ini. Rona yang menggambar dan dia yang punya karya. Ini bentuk penghargaan kami. Semacam paten untuk karya Rona,” kata Lila sambil menunjukkan catatan yang terdapat di setiap kebaya kutubaru Mbok Jum.

Kolaborasi desain Lila dan lukisan Rona membuat kebaya kutubaru banyak digemari. Gene­rasi milenial sudah tidak malu lagi memakai kebaya yang biasa dipakai ­simbok-simbok di Pasar Beringharjo. Selain karena desain dan gambar Mbok Jum yang lucu, Rona juga menyebut karena masyarakat sudah sadar untuk menghargai karya handmade yang orisinal dan terbatas.
“Mungkin orang sudah bosan dengan produk dan harga pabrikan,” kata Rona.

Ternyata, Mbok Jum tidak sendiri. Dia punya pasangan. Rona dan Lila mencarikannya pasangan lantaran penggemar produk Mbok Jum tidak hanya kalangan perempuan, lelaki pun banyak yang mencari. Dari situlah, lahir karakter Pak No yang menjadi pasangan Mbok Jum.

Pada 2020 nanti, Rona dan Lila pun sudah merencanakan untuk menghadirkan ‘keluarga’ bagi Mbok Jum dan Pak No. Nanti di 2020, Rona akan membuat karakter baru yang masih erat hubungannya dengan Mbok Jum. “Mbok Jum dan Pak No punya anak, Tole dan Gendis,” kata Rona yang diiyakan Lila saat mereka berdua sedang berada di Lemari Lila. (FU/M-4)

BERITA TERKAIT