12 January 2020, 06:40 WIB

Bertamasya Membawa Raga dan Jiwa


Galih Agus Saputra | Weekend

KONSTELASI misi ragawi itu memperlihatkan bagaimana patung dan lukisan dirangkai dalam suatu karya menjadi instalasi. Ia juga menjabarkan misi dalam rentang waktu yang tak membatasi bentuk lain dari raga atau dengan kata lain telah menjadi representasi dari bentuk raga itu sendiri dalam berbagai karya, yang dipajang dalam sebuah pameran bertajuk Excursion: Visual Art Exhibition.

Pameran yang berlangsung hingga 27 Januari 2020 di Galeri Nasional Indonesia, Gambir, Jakarta, tersebut, menandai lima tahun perjalanan Jakarta Illustration Visual Art (JIVA) mewadahi seniman Indonesia untuk berkarya.

Manajer JIVA Ghanyleo menjelaskan, melalui pameran tersebut mereka mencoba mewadahi kolaborasi 19 seniman dari berbagai kota. “Ini sekaligus memperluas jaringan seni rupa, baik di Indonesia maupun di internasional dan diharapkan 2020 ini JIVA bisa terus memberikan pameran-pameran yang menarik dan inspiratif sehingga meningkatkan semangat para seniman dan masyarakat luas,” tuturnya saat pembukaan pameran di Galeri Nasional Indonesia, Rabu (8/1).

Adapun kegiatan yang juga menjadi gelaran perdana Galeri Nasional Indonesia pada 2020, pada kesempatan ini dikuratori Frigidanto Agung. Menurutnya, Excursion merupakan perjalanan hidup bidang seni seorang seniman yang tertuju pada artistik. Perjalanan artistik seniman dalam hidupnya menjadi pengetahuan bagi orang lain untuk memahami bagaimana seniman berkarya, melahirkan ide atau gagasannya, dan akan menentukan bagaimana subjektivitas pengetahuan muncul sekaligus menjadi diskursus dalam wacana.

“Jika melihat Kamus Webster, akan ditemukan excursion is usually a brief tour or trip for pleasure, health, etc. Melalui kata inilah intisari pa­meran ini diangkat, bahwa pengertian excursion secara mendasar juga mencakup bidang seni. Melalui pleasure, seni dapat dinikmati, di luar ketegangan hidup sehari-hari,” imbuhnya.

Sudut pandang tubuh

Ketika melihat journey dengan misi tertentu untuk artistik, lanjut Agung, sudut pandang tubuh yang terbagi antara jiwa dan raga, yang juga sebagai tinjauan pemilahan karya dalam pameran, memiliki tiga bagian yang selanjutnya dapat dijadikan wacana untuk dikembangkan. Adapun wacana itu sendiri, katanya, terdiri atas tiga hal, yaitu ‘misi ragawi’, ‘menjiwai raga’, dan ‘jiwa (dalam) raga’.

‘Misi ragawi’, kata Agung, merupakan bentuk nyata tubuh yang diwujudkan dengan konkret, baik melalui lukisan atau patung. Melalui pameran ini, bentuk ragawi diwujudkan dalam rangkaian seni instalasi, yang mana ia turut memperlihatkan wujud tubuh dalam memberi arah nyata imajinasi. Perwujudan tubuh dalam boneka merupakan representasi, yang mana juga menjelaskan sisi imajiner seniman dalam bekerja mengisi ruang dialog.

Sementara itu, ‘menjiwai raga’, menurut Agung, merupakan upaya untuk melihat wujud raga yang menginspirasi lalu menuangkannya ke dalam bentuk karya seni. Sebuah cara apropriasi yang sederhana, mendasar, dan artifisial, yang mana proses ini secara artistik lebih menekankan bentuk yang sudah ada atau terlukis dalam rentang waktu terdahulu atau proses seniman terdahulu dalam memberi arti baru di masa kini.

“Pada proses ini seniman mencoba membuat karakter baru atau meninjau ulang proses yang sudah ada lalu menuangkan secara kreatif dalam bentuk yang diyakini akan memberi arti baru. Itulah salah satu menjiwai raga dalam bentuk-bentuk eklektik secara visual. Secara mistifikasi merupakan ruang terbuka dalam ranah interpretasi tubuh,” imbuhnya.

Adapun ‘jiwa (dalam) raga’, sambung Agung, merupakan proses interpretasi bagaimana melihat jiwa yang ada dalam raga lalu dituangkan di atas kanvas. Gaya visual ini mempunyai kecenderungan ­abstraktif, menampakkan visual dalam warna-warna yang me­wakili kondisi, keadaan, dan gambaran jiwa pada suatu waktu. Apa yang menjadi pokok bahasan dalam karya semacam ini ber­impitan dengan spiritualitas, religiositas, dan ­psikologis cenderung menggambarkan eksotika secara kejiwaan seniman yang menggambarkannya. Wacana yang didengungkan dalam bentuk yang terakhir ini, menurut Agung, biasanya juga digunakan untuk alasan-alasan pengembangan diri.

Kana Fuddy Prakoso ialah seniman yang pada kesempatan ini menampilkan karya berjudul ­Ultramama. Karya yang terbuat dari bahan kardus karton dengan dimensi 55x65x8 cm itu menjadi salah satu perwujudan dari wacana ‘misi ragawi’. Dalam karya itu Kana meng­eksplorasi salah satu produk dari studio animasi asal Jepang, Tsuburaya Productions, khususnya dalam serial Tokusatsu yang menampilkan tokoh pahlawan super, Ultraman.

Ultraman ialah tokoh idola anak-anak Kana. Kepada Media Indonesia perempuan kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 9 Desember 1973, itu, menjelaskan bahwa karya-karyanya selama ini memang tak jauh dari kesehariannya sebagai seorang ibu. Ia ingin melepaskan semua ekspresinya tanpa berpikir apa pun, terlebih melalui barang-barang yang mudah dijumpai di sekitar, salah satunya kertas bekas yang pada kesempatan kali ini dia olah.

“Ini kertas dupleks, yang sebenarnya sisanya suka dibuang-buang kalau di percetakan. Saya ingin main-main saja dengan ini, daripada dibuang-buang oleh mereka, makanya saya bikin karya saja. Ini juga bukan kolaborasi, tapi saling merespons satu sama lain dengan Agustan. Agustan juga buat boneka. Nah dalam ingatan saya boneka, ya Ultraman itu, ke masa ketika anak-anak saya masih kecil,” paparnya.

Kolaborasi

Adapun wacana ‘menjiwai raga’, pada kesempatan ini salah duanya diwakili dengan karya kolaborasi Yayat Lesmana dan RB Ali. Dua seniman yang mengaku sering berbeda pendapat itu saling merespons dengan karya berjudul Irama Cinta dan Famous Figure. Mereka mengaku senang akhirnya dapat saling mengutarakan pandangan, terlebih karena pada tahap selanjutnya dapat mewujud dalam bentuk karya visual.

Ali selanjutnya turut menjelaskan bahwa kolaborasinya dengan Yayat dalam membuat karya tersebut berlangsung selama dua minggu. Yayat sendiri mengiakan paparan proses tersebut dan menjelaskan bahwa ia merasa senang akhirnya dapat berkolaborasi dengan Ali. Tak hanya itu, sedari awal Yayat juga mengaku siap menerima tantangan Ali dan semakin puas dengan kolaborasinya kali ini karena telah melahirkan karya yang sangat menarik.

Kolaborasi yang tak kalah apik juga tampak dalam karya berjudul Puzzle 2020. Karya yang terbuat dari berbagai bahan (mix media) dan berukuran 200x600 cm itu lahir dari kolaborasi tiga orang seniman, yaitu Sri Hardana, Rengga Satria, dan Jason Ranti serta merepresentasikan wacana ‘jiwa (dalam) raga’. Dalam karya ini, menurut Jason Ranti atau yang akrab disapa JJ, mereka berbicara soal ‘domba yang mulia’.

“Dari situ saya merespons, begitu saja. Karya ini sebenarnya dari Mas Sri Hardana dan Mas Rengga yang sudah jadi,” tutur JJ. (M-4)

BERITA TERKAIT