11 January 2020, 16:41 WIB

Sultan Oman Qaboos bin Said Meninggal


Haufan Hasyim Salengke | Politik dan Hukum

TELEVISI dan kantor berita pemerintahan Oman mengumumkan, Sultan Qaboos bin Said, meninggal, Sabtu (11/1) pagi.

"Dengan sedih ... Istana Kesultanan Oman berduka ... Sultan Qaboos bin Said kami ... dipilih Tuhan untuk berada di sisinya pada Jumat malam," kata kantor berita itu.

Laporan itu menambahkan Qaboos meninggal dunia setelah bekerja memimpin Oman dengan penuh kebijaksanaan, kemurahan hati serta mampu merangkul muslim Oman hingga meluas ke Arab bahkan seluruh dunia. Disebutkan pula, kebijakan sang Sultan diakui dan dihormati seluruh dunia.  

Pemerintah juga mengumumkan masa berkabung selama tiga hari serta mengibarkan bendera setengah tiang selama 40 hari.

Menyusul meninggalnya Qaboos, televisi negara Oman mengumumkan penunjukkan Haitham bin Tariq Al Said sebagai penguasa baru negara itu.

Mantan Menteri Kebudayaan, 65, itu telah dilantik di hadapan dewan keluarga yang berkuasa pada Sabtu (11/1) pagi.

Televisi pemerintah mengatakan pihak berwenang telah membuka surat Sultan Qaboos yang menyebutkan penggantinya, tanpa menjelaskan lebih lanjut, sebelum mengumumkan Haitham bin Tariq sebagai penguasa baru.

Qaboos, raja Arab yang paling lama berkuasa, telah sakit selama beberapa waktu dan diyakini menderita kanker usus besar. Dia menghabiskan satu minggu di Belgia menjalani perawatan medis pada awal Desember.

Sultan Qaboos, 79, memerintah Oman sejak menggulingkan ayahnya, Said bin Taimur, dalam kudeta tak berdarah pada 1970.

Sejak mengambil alih kekuasaan, Qaboos mengubah Oman dari wilayah terpencil yang terisolasi, dengan sedikit atau tanpa infrastruktur, menjadi negara modern.

Tetapi ketidakhadirannya yang berkepanjangan dalam kegiatan kenegaraan dan pemerintahan karena menjalani pengobatan telah menimbulkan pertanyaan tentang suksesi di negara berpenduduk 4,5 juta jiwa itu.

Dia baru saja kembali ke Muscat setelah perawatan medis di Jerman dan Belgia. (Al Jazeera/OL-11)

BERITA TERKAIT