11 January 2020, 12:10 WIB

Dwi Krismawan: Mengubah Cobaan Jadi Dedikasi Sosial


Galih Agus Saputra | Weekend

MI/SUMARYANTO BRONTO
 MI/SUMARYANTO BRONTO
Dwi Krismawan

TEPAT 28 Januari 1997, malapetaka itu terjadi. Calon pilot bersama ­instrukturnya mengalami kejadian nahas saat menjalani sesi latihan terbang.

Pesawat mereka menabrak dan terbakar di Gunung Gede, Jawa Barat. Keduanya mengalami luka bakar yang cukup parah, tapi selamat. Setelah koma dan dirawat berbulan-bulan di rumah sakit yang sama, termasuk menjalani operasi plastik puluhan kali, keduanya berpisah dan tidak pernah bertemu kembali.

Dua puluh tiga tahun setelah ­peristiwa itu, Kick Andy ­menginisiasi pertemuan kembali keduanya untuk saling berbagi cerita. Lalu ­bagaimanakah kisah mereka ­bangkit dan menjalani hari-hari saat ini, kisah itu tersaji dalam Kick Andy episode ‘Tragedi Dua Penerbang’.

Bagi sang calon pilot, Dwi Krismawan, tragedi di Gunung Gede, Jawa Barat, itu, awalnya sudah seperti akhir hidup. Meski selamat, impiannya menjadi pilot musnah dan ia pun harus menjalin hari-hari pemulihan yang amat berat.

Bagaimana tidak, sama seperti instrukturnya, Sigit Hani Hadiyanto, Dwi mengalami luka bakar grade 3 dengan luasan hampir 50% tubuhnya. Luka bakar tingkat ini disebut juga full thickness burn atau meng­alami kerusakan jaringan pada seluruh lapisan epidermis dan dermis atau lebih dalam lagi. Operasi atau bedah menjadi pilihan utama untuk menangani luka bakar pada derajat ini.

Tak hanya itu, trauma inhalasi yang dialaminya juga cukup serius. Banyaknya flek di paru-parunya tidak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga menyerang pita suara hingga hampir membuatnya tidak bisa bicara.

Dwi yang kala itu berusia sebaya dengan sang instruktur, yakni 23 tahun, harus siap dengan perubahan fisik yang sangat drastis. Meski sudah menjalani operasi puluhan kali, penampilan maupun fungsi tubuhnya tidak bisa kembali pulih seperti sediakala.

Dalam menghadapi cobaan, Dwi mengaku selalu mengedepankan cara berpikir positif. Hal itu terbukti mampu dijalaninya dengan baik. ­Tidak hanya bisa kembali beraktivitas, ia juga berhasil meraih pekerjaan lain di bidang asuransi. Walau sempat menyangsikan kemampuan diri sendiri, di tahun pertama bekerja, Dwi langsung bisa menjadi agen terbaik.

Yayasan anak-anak

Sukses itu tidak membuat Dwi berpuas sendiri. Kebangkitan hidup yang berhasil dicapainya membuat kepekaan sosialnya makin besar sehingga kemudian ia bertekad mengabdikan diri di jalur sosial.

Hal itu ia wujudkan pada 2015 dengan mendirikan Yayasan Kekuatan Cinta Indonesia yang memberikan edukasi soal bahaya seksual dan kekerasan kepada anak, termasuk memberikan pendampingan terhadap anak-anak yang menjalani sidang di pengadilan.

“Kami juga memberikan pelatihan Bahasa Inggris dan komputer di penjara anak. Karena kami ­melihat, meskipun mereka berada di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), mereka sebenarnya adalah anak-anak yang membutuhkan cinta dan benar-benar membutuhkan kasih sayang,” tuturnya.

Dedikasi terhadap anak-anak itu juga Dwi maknai sebagai kesempatan kedua yang diberikan oleh Tuhan setelah menghadapi cobaan. Dengan keterbatasan fisik yang diperolehnya pascakecelakaan, ia selalu belajar untuk bisa menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya.

Selain mengelola yayasan, Dwi mengaku saat ini juga lebih banyak menghabiskan waktu di Malang, Jawa Timur. Di daerah itu, ia memiliki tanah seluas kurang lebih 8x25 meter yang pada kesempatan selanjutnya hendak dibangun sekolahan.

Selain mengajarkan bahasa Inggris bagi anak-anak yang membutuhkan, pada kesempatan selanjutnya ia juga ingin dapat memberikan bantuan berupa terapi, khususnya untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

“Untuk anak autis, learning center, melukis, musik, yang intinya ketika tuhan memulihkan, bukan wajah, bukan tubuh, tetapi hati saya, tugas saya yang kedua ialah memulihkan orang-orang di sekeliling saya agar mereka bisa melihat kebaikan ­Tuhan dalam hidup mereka,” imbuh Dwi.

Jalan hidup Dwi semakin berkembang bahkan mungkin jauh lebih berwarna dibanding yang ia bayangkan sebelum kecelakaan. Dwi kini juga menjadi pembawa acara sebuah program televisi yang bertajuk sama, yaitu Kekuatan Cinta.

Melalui program tersebut, Dwi menayangkan perjalanannya mengunjungi anak-anak di berbagai tempat di Indonesia dengan harapan acara tersebut dapat menjadi teladan maupun inspirasi untuk berbagi cinta dan kasih.

Menurut Dwi, anak-anak yang sejak dini sudah dikenalkan dengan kasih dan cinta, pada masa yang akan datang juga akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu ­menyayangi dan mengasihi orang-orang di sekelilingnya. Kekuatan cinta pun benar-benar sudah ­dibuktikan oleh Dwi melalui ­kesetiaan kekasihnya, Bethania Eden.

Rasa cinta Bethania sama sekali tidak berkurang meski Dwi mengalami kecelakaan. Bahkan, Bethania pula yang meyakinkan jika Dwi mampu menjadi kepala keluarga yang baik. Pengalaman hidup sekaligus cinta yang diberikan oleh ­Tuhan melalui sang istri itu, kata Dwi, juga telah ia tulis dan diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul Kekuatan Cinta (2014). (M-1)

BERITA TERKAIT