11 January 2020, 12:05 WIB

Untuk Cegah Longsor, Vetiver Perlu Ditunjang Aspek Lain


Uca/M-1 | Weekend

MI/LILIEK DHARMAWAN
 MI/LILIEK DHARMAWAN
Penanaman rumput akar wangi (vetiver) di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, beberapa waktu lalu.

MASIH berlangsungnya cuaca ­ekstrem di Indonesia membuat berbagai upaya pencegahan bencana perlu dilakukan. Untuk pencegahan longsor, beberapa waktu lalu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo mengenai penanaman rumput akar wangi (vetiver).

Tanaman bernama latin Vetiveira zizanioides L atau Andropogon murica ini kerap dijuluki sebagai ‘paku tanah yang hidup’ karena kemampuannya dalam menguatkan tanah. Akar vetiver yang cepat bertumbuh dan dapat mencapai panjang hingga 2-3 meter di tahun pertama, membuatnya sangat toleran terhadap kekeringan dan cocok untuk stabilisasi lereng curam.

Namun, menurut Kepala Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya (BKTKR) Eka Karya Bali Didit Okta Pribadi, vetiver hanyalah salah satu alternatif untuk membantu mencegah tanah tererosi dan longsor. Ia menyebut sejatinya tidak ada spesies tunggal tanaman yang dapat digunakan sebagai satu-satunya instrumen pencegahan erosi dan longsor.

“Jadi kalau menyarankan single species itu sebenarnya juga engga pas. Walaupun memang akar wangi salah satu yang bisa dipakai, tapi kemudian tidak bisa diseragamkan semua harus begitu,” ujar Didit saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (7/1).

Ia justru lebih menyarankan agar jenis tanaman yang digunakan sebagai instrumen pencegahan longsor beragam. Didit menjelaskan jika tumbuhan yang ditanam beragam, akan membuat ekosistem di wilayah tersebut menjadi hidup dan membuat kondisi lahan itu sendiri membaik sehingga pada akhirnya tanah menjadi tidak mudah tererosi dan longsor.

Pendekatan berbeda

Lebih lanjut, Didit menuturkan tingkat keparahan suatu lokasi rawan longsor akan berbeda satu dengan lainnya sehingga butuh pendekatan khusus dan tak bisa di­samaratakan dalam mengatasinya. Untuk itu, ia menyebut ada banyak faktor lainnya yang perlu diperhatikan dalam pencegahan longsor.

“Tergantung tingkat keparahan longsornya. Kalau kita bicara longsor itu kan ada faktor curah hujannya, kemudian kemiringan lerengnya, erosivitas tanahnya, kemudian pengelolaan di atas tanahnya itu sendiri seperti apa,” jelas sivitas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut.

Setelah mengetahui karakter tanah di tiap-tiap lokasi rawan longsor, sambung Didit, barulah dapat menentukan pendekatan apa saja yang tepat untuk diterapkan di wilayah tersebut guna mencegah longsor. Bukan hanya pendekatan penanaman, melainkan juga dapat atau perlu dikombinasikan dengan teknik-teknik lainnya, seperti terasering, bioretensi, penggunaan ­mulsa, geoweb, dan lain sebagainya.

“Banyak opsi yang bisa digunakan dan yang paling bagus adalah pendekatannya kawasan, kombinasi engineering dan biologi/ekologi. Dan jangan satu jenis saja, harus memperhatikan keragaman horizontal (jenisnya) dan keragaman vertikal (habitusnya),” terang Didit yang menamatkan doktoralnya di Technical University of Munich itu.

Senada dengan Didit, Direktur Program Yayasan KEHATI Rony Megawanto juga menyebut tumbuhan yang ditanam sebagai pencegah longsor agar tidak hanya satu jenis, tetapi juga beragam. Ia kemudian menyarankan agar penanaman tumbuhan untuk pencegahan longsor dikombinasikan dengan tanaman khas yang tumbuh di tiap-tiap daerah. Adapun vetiver sendiri merupakan tanaman sejenis rumput yang berasal dari India.

“Daerah itu kan punya tanaman khas, tanaman lokal, kalau bisa dikombinasi antara tanaman yang dimaksud oleh Pak Doni (Kepala BNPB) dengan tanaman khas daerah itu akan lebih bagus. Jadi beberapa tanaman itu kan bisa cocok tumbuh di satu tempat, tapi tidak bisa tumbuh di tempat lain. Kalau bisa dikombinasi, dengan ada kepastian bahwa dia bisa tumbuh dengan baik dan tidak mengganggu vegetasi yang lain, kenapa tidak?” terang Rony saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (8/1).

Tak hanya mengombinasikannya dengan tanaman khas setempat, Rony pun menyarankan agar pencegahan tanah longsor dikombinasikan pula dengan kearifan lokal di tiap-tiap wilayah. Kearifan lokal yang dianut secara turun-temurun tersebut merupakan produk pemahaman suatu masyarakat dengan keadaan alam tempatnya tinggal. Untuk itu, Rony menyebut apabila dikombinasikan dengan teknik-teknik dalam ilmu pengetahuan yang ilmiah diharapkan pencegahan longsor di suatu wilayah dapat semakin optimal.

“Beberapa masyarakat terutama masyarakat adat mereka kan sudah ada kearifan-kearifan lokal. Masyarakat lokal sudah punya pengetahuan, sudah punya ­teknologinya. Bagaimana masyarakat itu dengan pengetahuan lokalnya bisa dioptimalisasi, kearifan lokal dikombinasikan dengan sains itu jauh lebih ­bagus lagi,” tutur alumnus ­Australian National University tersebut.

Terakhir, Rony menggarisbawahi pentingnya suatu daerah memiliki peta rawan longsor, yang dimasukkan ke rencana tata ruang wilayah (RTRW) kabupaten/kota. Menurutnya hal tersebut penting menjadi rujukan pemerintah daerah (pemda) dalam menata suatu wilayah agar lokasi yang memang diketahui rawan longsor tak didirikan permukiman sehingga tak menisbikan betapa pun pencegahan yang dilakukan untuk mencegah longsor agar tak menelan korban jiwa.

“Kalau setiap daerah punya peta rawan bencana kemudian dimasukkan ke RTRW, nah itu semua masyarakat termasuk pemerintahnya kan bisa aware, daerah sini daerah rawan longsor. Tinggal dibuatlah kebijakan atau kesepakatan dengan masyarakat kawasan itu mau dijadikan apa. Intinya kan kalau kawasan rawan longsor, mustinya jangan ada penduduklah, paling tidak di-­minimize-lah ada penduduk di sekitar itu,” pungkas Rony. (Uca/M-1)

BERITA TERKAIT