11 January 2020, 09:40 WIB

Jokowi Ingatkan Soal Kedaulatan Indonesia


Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum

PRESIDEN Joko Widodo mengingatkan agar bangsa ini menegakkan kedaulatan di berbagai bidang. Kedaulatan harus dikukuhkan supaya negara ini bisa mandiri dan terbebas dari tekanan negara lain dalam menentukan arah menuju kemakmuran.

“Seperti yang dikatakan Bung Karno dalam Trisaktinya, kita harus berdikari di bidang ekonomi sehingga tidak mudah ditekan siapa pun, negara mana pun. Kita harus berdaulat secara politik. Kita memiliki semua yang bisa kita olah sendiri. Begitu juga dalam berkepribadian dan berkebudayaan,” tegas Jokowi dalam pidatonya pada pembukaan Rakernas I sekaligus perayaan HUT ke-47 PDIP di Gedung JIExpo Kemayoran, Jakarta, kemarin.

Ia menekankan pentingnya perubahan besar di bidang ekonomi agar Indonesia menjadi negara yang mandiri. Sumber daya alam yang melimpah perlu dimanfaatkan dengan baik agar bernilai tambah.

Dalam kaitan itu, Presiden menyinggung masih gencarnya Indonesia mengekspor bahan mentah. Padahal, jika diolah menjadi produk bernilai tambah, bahan mentah yang didapat dari alam Indonesia bisa memakmurkan dan terhindar dari tekanan global yang tidak menentu.

Kecenderungan itu, ujarnya, juga turut menyumbang defisit neraca perdagangan selama berpuluh tahun. Karena itu, ia mengatakan pemerintah kini sedang berusaha mengubah kebiasaan ekspor bahan mentah menjadi ekspor barang setengah jadi atau barang jadi. Hal itu penting agar Indonesia tak lagi dimainkan pasar global.

“Jangan lagi kita mengeks-por CPO (minyak sawit) terus-terusan. Harus mulai kita ubah kepada barang setengah jadi atau barang jadi. Karena kalau tidak, kita selalu dimainkan pasar. Uni Eropa, misalnya, memunculkan isu (sawit) tidak ramah ­lingkungan. Ini hanya perang bisnis antarne­gara, tapi dipakai alasan terus,” tukas Jokowi.

Percaya diri

Megawati meminta agar perempuan Indonesia percaya diri dan yakin bahwa usaha keras akan menghasilkan prestasi besar. Hilangkan pemikiran bahwa kaum hawa hanya cukup berada di belakang layar.

“Jadi anak-anakku, saya tegaskan sebagai perempuan jangan merasa terpinggirkan, jangan merasa perempuan itu konco wingking, selalu berada di belakang. Tidak! Pada kenyataannya saya bisa membuktikan jadi nomor satu. Presiden perempuan jadi nomor satu. Wakil Presiden perempuan nomor satu,” katanya di hadapan ribuan PDIP.

Menurutnya, perempuan tidak ditakdirkan sebagai konco wingking, ungkapan dalam bahasa Jawa yang bermakna berada di belakang.

Arti lain, perempuan sekadar menjadi ibu yang melahirkan anak serta tugasnya hanya memasak makanan, tanpa hak untuk bicara serta berperan. Selain itu, Mega mengingatkan bahwa ideologi Pancasila harus dibumikan dalam kegiatan sehari-hari di ruang publik.

Rakernas PDIP dibuka Megawati, Presiden Jokowi, dan Wapres Ma’ruf Amin. Ke­tua umum parpol yang hadir, antara lain Ketum PAN Zulkifli Hasan, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, dan Ketum Hanura Oesman Sapta Odang.

Turut hadir Ketua ­Dewan Pertimbangan Presiden Wiranto, Menko Polhukam Mahfud MD, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang juga Ketum Golkar, dan Menko PMK Muhadjir Effendy.

Hadir juga Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, Menkominfo Johnny G Plate, dan Menkes Terawan Agus Putranto. (Cah/P-3)

BERITA TERKAIT