11 January 2020, 08:30 WIB

Cara Mourinho Menghentikan Liverpool


Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Sepak Bola

Seno
 Seno
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group

JOSE Mourinho dijuluki sebagai the Special One karena selalu mempersembahkan piala kemenangan bagi klub yang ditanganinya. Namun, tidak sedikit yang mengkritiknya karena pelatih flamboyan itu lebih memen­tingkan hasil daripada cara mencapainya.

Mourinho memang tidak terlalu peduli dengan sepak bola indah. Baginya tak banyak artinya bermain cantik, tapi tidak meraih kemenangan. Ia tidak ragu untuk menerapkan taktik ‘parkir bus’ demi meraih sebuah kejayaan.

Tidak berlebihan juga apabila para pengkritiknya menyamakan Mourinho dengan pelatih asal Argentina, Helenio Herrera, yang memperkenalkan taktik catenaccio kepada Internazionale Milan dan kemudian bahkan diadopsi sebagai gaya permainan gerendel oleh tim Azzurri, Italia.

Sabtu (11/1) malam ini, ‘gaya gerendel’ Mourinho banyak disebut-sebut akan menjadi pilihan untuk mematahkan kedigdayaan Liverpool. Juara Dunia Antarklub 2020 itu memang tidak terkalahkan lebih dari setahun di Liga Premier Inggris. Bahkan, nyaris tidak ada satu pun klub yang bisa menahannya dalam 19 pertandingan putaran pertama. The Special One sudah mempersiapkan taktik khusus untuk menjadi klub pertama yang mampu mengalahkan the Reds.

Inilah yang membuat pertandingan di Stadion Tottenham Hotspur menjadi perhatian banyak pencinta sepak bola. Sejauh mana Mourinho mampu meramu sebuah taktik yang mampu mematahkan dominasi Liverpool.

Apalagi, rekor pertemuannya dengan pelatih Juergen Klopp sebenarnya tidak terlalu istimewa. Dari 10 pertandingan di antara kedua pelatih itu, Mourinho hanya bisa dua kali membawa klub asuhannya mampu mengalahkan tim asuhan Klopp.

Belum lagi prestasi the Lilywhite--julukan Tottenham--yang belum stabil sejak ditangani Mourinho dari November tahun lalu. Mereka bahkan tidak pernah bisa meraih kemenangan dalam tiga pertandingan terakhir. Pekan lalu, saat bertemu Middlesbrough di babak ketiga Piala FA, Spurs hanya mampu bermain imbang 1-1.

Akan berupaya

Center back asal Belgia, Jan Vertonghen, mengaku prestasi Spurs di musim ini masih naik-turun. Namun, hal itu merupakan sesuatu yang wajar karena selama tujuh tahun bermain untuk the Lilywhite, ia selalu mengalami masa-masa seperti ini.

“Saya tidak mau berpikiran bahwa kondisi kami sedang terpuruk. Kami akan terus berupaya untuk memperbaiki penampilan dan saya melihat peluang Spurs untuk masuk empat besar Liga Premier masih terbuka. Kami juga masih akan memainkan babak 16 besar Liga Champions melawan RB Leipzig bulan depan dan kami juga masih bertahan di ajang Piala FA,” ujar Vertonghen.

Spurs sebenarnya memiliki materi pemain yang pantas untuk disegani tim lawan. Hanya, mereka harus berkutat dengan persoalan cedera yang dihadapi pemain utamanya. Kapten kesebelasan Hugo Lloris, misalnya, sudah hampir setengah musim harus absen karena cedera. Kemarin ia memang sudah mulai menjalani latihan ringan, tapi tetap masih belum bisa tampil menghadapi Liverpool nanti malam.

Pukulan terbaru yang harus dihadapi Spurs ialah robeknya otot paha penyerang andalan, Harry Kane. Mesin gol andalan Spurs ini diperkirakan harus istirahat hingga April yang akan datang.

Ditambah dengan masih cederanya gelandang Tanguy Ndombele dan Moussa Sissoko, Mourinho besar kemungkinan memang akan menerapkan taktik ‘parkir bus’ untuk membuat frustrasi para pemain Liverpool. Ia akan menduetkan Eric Dier dan Harry Winks sebagai breaker di lapangan tengah, sedangkan dua bek sayap Serge Aurier dan Ryan Sessegnon didorong ke tengah untuk lebih awal menahan dua bek sayap Liverpool yang selalu agresif untuk keluar membantu penyerangan.

Dengan pola 3-4-2-1, Mourinho mempunyai kedalaman untuk menstabilkan barisan pertahanan dalam meredam gempuran pemain the Reds. Pemain bertahan asal Kolombia, Davinson Sanchez, sudah dipersiapkan untuk mendampingi pasangan Toby Alderweireld dan Jan Vertonghen untuk menjinakkan ketajaman trio penyerang Liverpool, yaitu Mohamad Salah, Roberto Firmino, dan pemain terbaik Afrika, Sadio Mane.

Apabila kiper Paulo Gazzaniga mampu bermain tenang dan kukuh di bawah mistar, Mourinho pantas berharap para pemain tamu akan kehilangan akal menembus pertahanan tim asuhannya. Dari sanalah pelatih Spurs itu berharap penyerang asal Korea Selatan, Son Heung-min, yang sudah selesai menjalani tiga kali larangan bermain, bisa membangun serangan balik yang cepat dan mencuri gol kemenangan.

Untuk itu, Mourinho mempersiapkan Dele Alli agar bisa mengalirkan bola secara cepat kepada Son. Alli akan didampingi gelandang asal Brasil, Lucas Moura, yang dikenal cerdas dalam memanfaatkan peluang.

“Pengalaman selama ini para pemain Liverpool selalu kesulitan kalau menghadapi tim yang bisa membangun blok yang kukuh di belakang. Saat menghadapi Manchester United yang menempatkan tiga pemain belakang dan dua gelandang bertahan Scott McTominay dan Fred, mereka tidak bisa bebas melakukan transisi dan ketajaman mereka pun hilang,” ujar Mourinho menganalisis.

Percaya diri

Pelatih Liverpool Jurgen Klopp sendiri tidak terlalu terpengaruh ‘teror’ yang dilakukan Mourinho. Liverpool dalam kepercayaan diri yang tinggi setelah dengan materi pemain mudanya tetap tidak terkalahkan dan mampu melaju ke babak keempat Piala FA dengan mengandaskan ‘musuh bebuyutan’, Everton 1-0.

Modal itulah yang membuat ‘Tim Merah’ tidak gentar untuk datang ke Stadion Tottenham Hotspur, meski tahu tim tuan rumah membawa misi balas dendam setelah dikalahkan di final Piala Champions dan pertandingan tandang di musim ini. Klopp juga tidak mau terpengaruh stadion baru Spurs yang membuat tim tuan rumah dikenal sulit untuk bisa dikalahkan.

Untuk membuyarkan harapan Spurs membalas dendam mereka, Klopp menurunkan susunan terbaik yang ia miliki. Center back muda Joe Gomez yang tampil menawan saat menghadapi Everton kembali akan berdampingan dengan seniornya, Virgil van Dijk. Dua bek sayap terbaik Liga Inggris Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson juga akan kembali memperkuat tim.

Andy Robertson dan Alexander-Arnold bukan hanya kuat dalam bertahan, melainkan juga tidak pernah kehabisan tenaga untuk menopang serangan. Setidaknya 16 peluang yang mereka buat telah menghasilkan gol kemenangan bagi Liverpool.

Kehadiran dua bek sayap ini membuat ‘Tim Merah’ selalu bisa mendominasi lapangan tengah. Kapten kesebelasan Jordan Henderson pun bisa lebih leluasa dalam bermain dan menjaga kedalaman tim. Ia tidak pernah merasa khawatir karena didampingi pemain kawakan yang sangat pandai membaca permainan, yaitu Georginio Wijnaldum.

Klopp memang masih harus menunggu sampai akhir bulan ini untuk bisa menurunkan gelandang andalan asal Brasil, Fabinho, yang masih dibalut cedera. Naby Keita atau James Milner yang biasa menjadi pilihan, juga tidak bisa tampil karena cedera. Pilihan yang tersedia tinggal Alex Oxlade-Chamberlain atau Adam Lallana sebagai gelandang ketiga.

Penyerang asal Jepang Takumi Minamino yang sudah memulai debut saat menghadapi Everton, malam ini diminta untuk duduk dulu di bangku cadangan. Klopp memilih untuk menurunkan trio terbaiknya, yaitu Mane, Firmino, dan Mo Salah untuk mengoyak gawang Gazzaniga.

Memang dibutuhkan kerja keras dan kesabaran dari para pemain Liverpool untuk bisa meredam tim tuan rumah. Gebrakan di menit-menit pertama, seperti saat mengalahkan Sheffield United, menjadi sangat krusial karena bisa membuyarkan taktik ‘parkir bus’ yang diterapkan Mourinho.

Gol di menit-menit awal memang akan bisa mengubah pertandingan Minggu dini hari nanti. Apabila Li-verpool bisa mencuri gol, Spurs mau tidak mau dipaksa untuk bermain lebih terbuka.

Mane yang baru terpilih sebagai pemain terbaik Afrika, menjadi harapan untuk membawa kemenangan karena ia pasti ingin membuktikan bahwa dirinya pantas mendapatkan penghargaan itu. Kalau pun trio penyerang the Reds tidak diberi ruang untuk bergerak secara leluasa, Liverpool masih memiliki Andy Robertson, Alexander-Arnold, dan Wijnaldum yang bisa memecah kebuntuan untuk menjebol gawang Spurs.

 

BERITA TERKAIT