11 January 2020, 03:00 WIB

Setiap 15 Menit Kasus Pemerkosaan Terjadi di India


CNA/Hym/I-1 | Internasional

Manjunath Kiran / AFP
 Manjunath Kiran / AFP
Warga menyalakan lilin pada aksi dukungan bagi para korban kekerasan seksual di Hyderabad, Bangalore, India.

Menurut data pemerintah India yang dirilis Kamis (10/1), setiap 15 menit rata-rata seorang wanita diperkosa di India pada 2018.

Statistik itu menggarisbawahi reputasi suram ‘Negeri Hindustan’ sebagai salah satu tempat terburuk di dunia bagi kaum hawa.

Perkosaan geng yang dipublikasikan dan pembunuhan se­­orang perempuan di sebuah bus di New Delhi pada 2012 men­dorong puluhan ribu orang turun ke jalan di seluruh India untuk melancarkan protes.

Massa menuntut tindakan dari bintang film dan politisi yang mengarah pada hukuman yang lebih keras dan peng­adilan jalur cepat baru. Namun, kekerasan seksual terus berlanjut.

Perempuan India melaporkan 34.000 pemerkosaan pada 2018 hampir tidak berubah dari tahun sebelumnya. Lebih dari 85% kasus berakhir di tingkat dakwaan dan 27% mendapatkan vonis. Hal itu menurut laporan kejahatan tahunan yang dirilis Depdagri India.

Kelompok-kelompok hak asasi perempuan mengatakan kejahatan terhadap perempuan sering dianggap kurang serius dan diselidiki oleh polisi yang kurang sensitif.

“Negara ini masih dijalankan oleh laki-laki. Satu (perdana menteri perempuan) Indira Gandhi tidak akan mengubah keadaan. Kebanyakan hakim masih laki-laki,” kata Lalitha Kumaramangalam, mantan ketua Komisi Nasional untuk Perempuan (NCW).

“Ada sangat sedikit laboratorium forensik di negara ini, dan pengadilan jalur cepat memiliki sedikit hakim,” kata Kumaramangalam, anggota Partai Bharatiya Janata (BJP), tempat PM Narendra Modi bernaung.

Pemerkosaan remaja pada 2017 oleh mantan legislator ne­gara bagian dari BJP, Kuldeep Singh Sengar, mendapat perhatian nasional ketika penuduh mencoba bunuh diri pada tahun berikutnya.

Lima bulan sebelum Sengar dihukum, keluarga penuduh harus diberi keamanan setelah sebuah truk menabrak mobil yang ia tumpangi. Peristiwa itu melukai dia dan membunuh dua kerabatnya.

Studi Pusat Penelitian Hukum dan Kebijakan (CLPR) di Bengaluru menemukan, peng­adilan jalur cepat lebih cepat, tetapi tidak mena­ngani volume kasus yang tinggi (2015).

Studi 2016 oleh Partners for Law in Development di New Delhi menemukan pengadilan jalur cepat menghabiskan 8,5 bulan per kasus, lebih dari empat kali periode yang direkomendasikan.

Statistik pemerintah me­ngecilkan jumlah perkosaan ketika aksi asusila masih tabu untuk dilaporkan. Di samping itu, perkosaan yang berakhir dengan pembunuhan dianggap murni pembunuhan. (CNA/Hym/I-1)

BERITA TERKAIT