11 January 2020, 02:00 WIB

Berjuang Keras Selamatkan Induk Sungai Tiongkok


AFP/Haufan H Salengke/I-1 | Internasional

GREG BAKER / AFP
 GREG BAKER / AFP
Pencinta lingkungan Huo Yalun berpose dengan fi lter air yang ia rancang dan bangun di Shenqiu, Henan, Tiongkok.

AIR telah menjadi sumber kematian sekaligus sumber kehidupan bagi satu generasi di Shenqiu. Wilayah itu dialiri anak sungai dari Sungai Yangtze yang sangat tercemar di Tiongkok dan dikenal sebagai ‘desa kanker’ yang terkenal ganas.

Penduduk menghadapi pilihan pahit mengonsumsi air kotor, berubah warna, dan berisiko sakit, atau membayar tinggi untuk air minum kemasan.

Namun, seniman yang berubah menjadi pencinta lingkungan, Huo Yalun, mengubah masalah lingkungan ini. Ia memasang filter untuk memurnikan air tanah di daerah itu dalam upaya menawarkan alternatif yang aman bagi masyarakat. “Kami telah melihat banyak orang di desa terkena kanker dan penyakit kulit karena meminum air yang tercemar. Namun, saya ingin benar-benar menemukan solusi untuk masalah air minum penduduk desa.”

Dekade perkembangan pesat telah membuat sungai terpanjang ketiga di dunia dan anak-anak sungainya tersumbat dengan bahan kimia beracun, plastik, dan sampah, mengancam sumber air minum utama dari hampir 400 juta orang, sepertiga dari populasi Tiongkok.

Melindungi Yangtze sekarang menjadi prioritas. Presiden Xi Jinping menyerukan diakhirinya pembangunan ‘destruktif’.

Namun, warga yang tidak sabar, seperti Huo, yang ayahnya ialah seorang reporter lingkungan pemenang penghargaan yang pertama kali menyoroti masalah ini pada 1990-an, telah mengambil tindakan.

Huo telah memasang lebih dari 50 filter dan menawarkan air minum yang aman untuk 100.000 keluarga.

“Sebelum kami memasang filter, beberapa warga desa yang mampu membelinya menghabiskan hampir 14 yuan (US$2) sehari untuk membeli air kemasan botol,” kata Huo.

Awal tahun ini, Tiongkok meluncurkan rencana aksi memulihkan Yangtze. Sebagai bagian dari rencana ini, pemerintah Kota Yichang menutup semua( 134) pabrik kimia di tepi sungai, sedangkan pihak berwenang di Hunan telah menggunakan pesawat nirawak dengan kamera inframerah untuk menemukan pabrik-pabrik yang membuang air limbah yang belum diolah ke sungai. (AFP/Haufan H Salengke/I-1)

BERITA TERKAIT