10 January 2020, 20:07 WIB

Inilah Beragam Penyakit yang Mengancaman Pelaku Seks Anal


Ihfa Firdausya | Humaniora

Medcom
 Medcom
Ilustrasi

AKADEMISI dan Praktisi Klinis dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP dalam seminar berjudul "Waspadai Kekerasan Seksual di Sekitar Kita: dalam Tinjauan Medis" menjelaskan, korban sodomi secara paksa selain akan menyebabkan guncangan psikis, juga dari segi fisik akan berisiko terjadinya berbagai penyakit.

Menurutnya, anus atau dubur memang tidak dipersiapkan untuk menerima masuknya benda asing dari luar. Anus berperan sebagai tempat lewatnya feses atau kotoran sehingga anus bisa menjadi sumber infeksi.

"Selain itu, karena anus atau dubur tidak siap untuk menerima masuknya benda dari luar maka jika masuknya benda tersebut dilakukan secara dipaksa dan tanpa diberikan lubricant (pelumas) maka akan menyebabkan dinding anus dan bagian poros usus (rektum) rentan untuk luka," ujar Prof. Ari yang juga merupakan Dekan FKUI, Jumat (10/1), di Gedung IMERI FKUI, Jakarta.

Kondisi luka tersebut akan memudahkan tertularnya berbagai infeksi dari partner yang melakukan seks anal. Risiko terjadi luka pun akan bertambah banyak jika proses anal seks dilakukan secara dipaksa.

"Berbagai penyakit infeksi karena hubungan seksual (Sexually Transmitted Disease/STD) mudah ditularkan melalui hubungan anal seks ini. Berbagai penyakit STD tersebut antara lain: HIV, Herpes simplex, hepatitis B, hepatitis C dan Human Papi/oma Virus (HPV)," jelasnya.

Selain itu, infeksi bakteri yang bisa terjadi antara lain gonorea, khlamidia, syphilis dan shigelosis. Menurut Ari, pasien dengan infeksi bakteri ini bisa saja mengalami diare yang berdarah dan berlendir, mengalami lukaZ terinfeksi bahkan timbul bisul, dan radang diseputar bubur dan poros usus (rektum).

"Timbul nyeri dan nyeri bertambah saat buang air besar. Akibat yang paling berbahaya dari anal seks ini adalah terjadi kanker anus," ungkapnya.

Di sisi lain, risiko terjadi kanker bisa terjadi pada laki-Iaki maupun perempuan. Sedangkan risiko terjadinya kanker anus lebih tinggi pada orang di bawah umur 30 tahun.

"Sejauh ini saya beberapa kali mendapat kasus kanker anus berumur di bawah 30 tahun dan berhubungan dengan riwayat anal seks. Umumnya mereka melakukan anal seks dari partnernya. Dari beberapa literatur yang saya baca kebiasaan anal seks dilakukan biasanya terinpirasi setelah menonton film porno," terang Ari.

Oleh karena itu, lanjutnya, dengan kemudahan mendapatkan film porno melalui internet, kebiasaan anal seks ini akan terus meningkat dari waktu ke waktu.

"Akhirnya anal seks, baik dilakukan secara terpaksa atau maupun suka sama suka, merupakan tindakan seksual berisiko tinggi untuk terjadinya berbagai infeksi baik virus maupun bakteri dan perlukaan pada anus dan organ sekitarnya termasuk kanker anus," pungkasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT