10 January 2020, 19:38 WIB

Jadi Direktur Pelaksana Bank Dunia, Mari Elka: Terima Kasih


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

ANTARA/M RISYAL HIDAYAT
 ANTARA/M RISYAL HIDAYAT
Mari Elka Pangestu diumumkan menjadi Direktur Pelaksana, Kebijakan dan Kemitraan Pembangunan untuk Bank Dunia

MANTAN Menteri Perdagangan periode 2004-2011, Mari Elka Pangestu diumumkan menjadi Direktur Pelaksana, Kebijakan dan Kemitraan Pembangunan untuk Bank Dunia. Mari akan menjabat efektif pada 1 Maret 2020.

Dalam cuitannya di akun Twitter pribadinya @Mari_Pangestu, perempuan berusia 63 tahun itu menyatakan rasa terima kasihnya kepada Presiden Grup Bank Dunia David Malpas dan Presiden Joko Widodo lantaran telah mendapuknya untuk mewakili Indonesia.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih @DavidMalpasssWBG untuk menunjuk saya di posisi ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada presiden @jokowi dan pemerintah Indonesia atas dukungan mereka. Saya berharap pengalaman saya di Indonesia dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di banyak negara berkembang," kata Mari dalam akun Twitternya, Jumat (10/1).

Selain itu, ia juga memposting tweet balasan kepada akun @IFPRI yang merupakan milik dari The International Food Policy Research (IFPRI) atas ucapan selamat. 

"Terima kasih @IFPRI menantikan kolaborasi lanjutan tentang kebijakan pangan dan masalah pembangunan," ujar Mari.

Selain menteri perdagangan, Mari juga pernah menjabat sebagai menteri pariwisata dan ekonomi kreatif Indoenesia periode 2011-2014.

Mari juga diketahui aktif sebagai penasihat Komisi Global terkait isu-isu global, geopolitik transformasi energi badan energi terbarukan international di Abu Dhabi. Saat ini, ia juga masih menjadi Ketua Dewan Pengawas dari Lembaga Penelitian Kebijakan Pangan di Washington DC.

Di jabatan barunya nanti, Mari berperan untuk menghadirkan kepemimpinan dan mengawasi program kerja kelompok praktik global Bank Dunia. Ia juga akan mengawasi kelompok penelitian dan data Bank Dunia serta fungsi hubungan eksternal dan korporasi.

Baca juga: UI Sambut Baik Mari Elka Pangestu Jadi Direktur Bank Dunia

Managing Director sekaligus Co-Founder Algoritma Data Science, Nayako Wicaksono menyatakan, posisi Direktur Pelaksana, Kebijakan dan Kemitraan Pembangunan Bank Dunia amat layak untuk diisi oleh Mari Elka Pangestu.

"Ini sangat layak untuk beliau, karena beliau orang yang bersih, teknokrat dan memiliki jiwa patriotik," kata Nayako saat dihubungi Media Indonesia, Jumat (10/1).

Nayako merupakan rekan bisnis yang juga masih memiliki ikatan hubungan keluarga dengan Mari berpendapat, kinerja Mari pasti amat mumpuni hingga akhirnya Bank Dunia memberikan posisi kepada perempuan berusia 63 tahun itu.

Nayako mulai menjadi rekan bisnis Mari ketika mantan menteri perdagangan periode 2004-2011 itu berinvestasi di perusahaan rintisan Seekmi. Tidak hanya itu, saat Nayako memutuskan untuk mengundurkan diri dari Seekmi dan membangun Algoritma Data Science, Mari kembali berinvestasi di perusahaan Nayako itu.

Ia mengaku telah memberikan ucapan selamat kepada Mari. 

"Sudah saya ucapkan selamat kepada beliau, semoga beliau bisa membawa Indonesia ke panggung dunia. Dan kebijakan yang dibuat bisa berdampak baik bagi Indonesia dan negara lain," kata dia.

Menurutnya, tugas yang diemban Mari di Bank Dunia amat berat di tengah kondisi ekonomi global yang terus menunjukkan tren menurun. Mari, lanjut Nayako, harus bisa membuat kebijakan yang dapay meningkatkan kemampuan individu di era industri 4.0.

Di era serba teknologi ini, kata dia, banyak penggerusan tenaga kerja lantaran digantikan oleh sistem komputer. Sehingga Mari harus bisa mengurangi disrupsi itu.

"Dengan begitu, satu perusahaan besar yang mendominasi ekonomi. Saya harap dengan beliau di World Bank, inisiatif itu bisa tersalurkan," pungkasnya.

Sebelum Mari, Indonesia juga pernah memiliki perwakilannya di Bank Dunia, yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani pada periode 2010-2016 sebagai Direktur Pelaksana dan Chief Operating Officer.

Tugas Sri Mulyani kala itu ialah menjalin kerja sama dengan negara klien dan anggota untuk menempatkan strategi operasional guna mengatasi tantangan pembangunan baru. (A-4)

BERITA TERKAIT