10 January 2020, 08:20 WIB

Trump Isyaratkan Redakan Krisis dengan Iran


BBC/AFP/Hym/X-7 | Internasional

MESKI terkesan mundur dari tepi perang dengan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap berjanji segera menjatuhkan sanksi ekonomi baru kepada Teheran.

Dalam pidato kepada rakyat AS yang disiarkan televisi dari Gedung Putih, Trump mengatakan Teheran tampaknya telah menahan diri setelah menembakkan rudal ke pangkalan AS di Irak.

"Tidak ada warga AS yang cedera dalam serangan Rabu (8/1) malam oleh rezim Iran. Tidak ada korban di pihak kita," ujar Trump yang mengisyaratkan ingin meredakan krisis dengan Iran.

Trump menyambut sinyal yang menunjukkan Iran tampaknya mundur dari konfrontasi yang sulit. Komentar itu mendinginkan ketegangan setelah Trump memerintahkan pembunuhan seorang jenderal penting Iran, Qassem Soleimani, Jumat lalu. Meskipun mengakhiri pidato dengan seruan perdamaian, Trump membuka dengan menyatakan tidak akan pernah mengizinkan Iran untuk memiliki senjata nuklir.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang sebelumnya menjanjikan balas dendam untuk Soleimani, menyebut serangan rudal Iran terhadap pangkalan Washington sebagai tamparan di wajah AS. Dia mengindikasikan masih banyak serangan yang akan datang.

Baik Teheran maupun Washington tidak menginginkan perang, tetapi kampanye tekanan dan dorongan untuk membalas dendam dua musuh itu masih di jalur bentrokan.

Di sisi lain, Dewan Perwakilan Rakyat AS menjadwalkan pemungutan suara, kemarin, untuk membatasi Trump menyatakan melawan Iran tanpa persetujuan khusus dari Kongres.

Sementara itu, dalam sepucuk surat kepada Dewan Keamanan PBB, Duta Besar AS untuk PBB, Kelly Craft, mengatakan AS siap untuk bernegosiasi dengan rezim 'Negeri para Mullah'. "Dengan tujuan mencegah bahaya perdamaian dan keamanan internasional lebih lanjut atau eskalasi oleh rezim Iran," kata surat itu.

Dalam surat itu, AS membenarkan pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani sebagai tindakan membela diri. Surat itu mengutip Pasal 51 Piagam PBB, yang mengharuskan negara untuk segera melaporkan kepada Dewan Keamanan segala tindakan yang diambil dalam melaksanakan hak membela diri.

Namun, Dubes Iran untuk PBB, Majid Takht Ravanchi, menyebut tawaran pembicaraan AS tak bisa dipercaya di saat AS terus memberlakukan sanksi ekonomi keras kepada Iran. (BBC/AFP/Hym/X-7)

BERITA TERKAIT