09 January 2020, 23:29 WIB

Baterai Lithium-Sulfur Bisa Jalankan Ponsel Pintar Hingga 5 Hari


Nurtjahyadi | Teknologi

Dok. New Atlas
 Dok. New Atlas
Tim peneliti baterai Lithium-sulfur

BATERAI yang terbuat dari lithium-sulfur memiliki banyak potensi dibandingkan dengan baterai lithium-ion yang umum digunakan. Baterai lithium-Sulfur mampu menawarkan energi lima kali lebih banyak dalam setiap bobotnya dan ini sudah diketahui sejak lama.

Sayangnya baterai lithium-sulfur memiliki usia pakai yang jauh lebih pendek.

Sebuah tim ilmuwan internasional menyatakan bahwa mereka telah berhasil mengatasi hambatan itu melalui melalui ikatan arsitektur jenis baru yang menghasilkan efisiensi pengisian maupun pengosongan baterai pada baterai lithium-sulfur yang dapat menjaga ponsel pintar tetap beroperasi selama berhari-hari.

"Ironisnya, tantangan utama untuk menerapkan baterai lithium-sulfur secara masal hingga kini adalah kapasitas penyimpanan elektroda sulfur sangat besar tidak dapat mengelola tekanan yang dihasilkan," ungkap ketua tim peneliti Dr Mahdokht Shaibani dari Monash University.

Hal itu, lanjut Shaibani akibat tekanan membawa distorsi pada komponen utama, yaitu matriks karbon yang bertugas melewatkan elektron-elektron ke isolasi sulfur dan pengikat polimer yang menyatukan kedua bahan tersebut. Kerusakan yang dihasilkan dari koneksi ini menyebabkan penurunan cepat pada kinerja baterai.

Baca juga ; Menkominfo Minta Operator Stabilkan Layanan Terdampak Banjir

Shaibani bersama timnya mulai mencari cara baru untuk menyatukan kedua bahan tersebut. Alih-alih menggunakan bahan pengikat untuk membentuk jaringan padat, ia memutuskan untuk 'memberi sedikit ruang pada partikel sulfur untuk bernafas.

Baterai baru bergantung pada agen pengikat tradisional, tetapi diproses dengan cara yang berbeda untuk membentuk ikatan penghubung sangat kuat antara matriks karbon dan partikel sulfur yang memungkinkan adanya ruang ekstra saat baterai mengembang selama pengisian.

"Dengan kata lain, saya menciptakan jaringan seperti-web di mana hanya jumlah minimum pengikat yang ditempatkan di sekeliling partikel, menyisakan ruang yang lebih besar untuk mengakomodasi perubahan struktur dan tekanan yang dihasilkan," kata Shaibani.

Eksperimen baterai lithium-sulfur baru ini menunjukkan hasil yang menjanjikan. Dalam pengujian lebih dari 200 kali, baterai menunjukkan efisiensi pengisian/pengosongan lebih dari 99%.

"Sejauh pengetahuan kami belum pernah terjadi sebelumnya untuk elektroda berkapasitas tinggi," ujar Shaibani.

Baca juga : Xiaomi Hadirkan Baterai Tahan Lama di Redmi 8 dan 8A

Tim penelitian ini mengklaim baterai dapat memberi daya pada ponsel pintar selama lima hari terus menerus atau memungkinkan kendaraan listrik untuk berkendara lebih dari 1.000 km tanpa mengisi ulang.

Mereka pun siap untuk menguji baterai lebih lanjut baik pada mobil listrik dan sebagai pilihan penyimpanan tenaga surya.

Mereka juga telah mengajukan paten untuk teknologi tersebut, untuk baterai hasil penelitian ini yang dapat memberikan kinerja lebih baik, menjanjikan biaya yang lebih rendah dan dampak lingkungan yang lebih sedikit dibandingkan dengan baterai lithium-ion tradisional.

Matthew Hill selaku salah satu anggota tim mengataka, pencapaian itu tidak hanya menghasilkan baterai performa tinggi dan siklus hidup yang panjang, tetapi juga sederhana dan sangat murah untuk diproduksi.

Selain itu menggunakan proses berbasis air sehingga dapat mengurangi secara signifikan limbah berbahaya bagi lingkungan. (Sumber: Monash University via New Atlas)

(OL-7)

BERITA TERKAIT