09 January 2020, 22:50 WIB

Iran Menolak Berikan Kotak Hitam Pesawat


MI | Internasional

TEHERAN mengatakan tidak akan menyerahkan perekam penerbangan kotak hitam yang ditemukan dari pesawat Boeing 737 Ukraine Internatioanal Airlines yang jatuh di Iran ke pihak pabrikan Boeing atau ke Amerika Serikat (AS).

Pesawat Boeing 737-800 dengan nomor penerbangan PS752 membawa 176 orang--semua dinyatakan tewas jatuh hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Bandara Internasional Imam Khomeini di Teheran, Rabu (8/1).

Biasanya, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS akan berperan dalam penyelidikan internasional yang melibatkan produk Boeing. Tetapi dewan harus bertindak dengan izin dan sesuai dengan undang-undang negara asing yang bersangkutan.

Kepala Organisasi Penerbangan Sipil Iran (CAO), Ali Abedzadeh, mengatakan, “Kami tidak akan memberikan kotak hitam kepada pabrikan dan AS.”

“Kecelakaan ini akan diselidiki oleh organisasi penerbangan Iran tetapi Ukraina juga bisa hadir,” tambahnya.

Boeing mengatakan, “Siap membantu dengan cara apapun yang diperlukan.” Sementara PM Kanada Justin Trudeau mengatakan negaranya memiliki peran dalam penyelidikan dan telah menawarkan bantuan teknis.

Trudeau menyebut, 138 dari 176 orang di dalam Boeing 737 Ukraine International Airlines yang tengah bertolak dari Teheran ke Kiev, Ukraina, memiliki hubungan dengan Iran.

Kedutaan Teheran Ukraina awalnya menyalahkan kegagalan mesin tetapi kemudian menghapus pernyataan itu, mengatakan komentar tentang penyebab kecelakaan sebelum penyelidikan komisi tidak resmi.

Kondisi visibilitas dilaporkan baik, ketika pesawat jatuh di dekat ibu kota Iran, menurut situs penerbangan Flightradar24.

Abedzadeh mengatakan ‘terorisme’ tidak berperan dalam kecelakaan itu, menurut Mehr. Data penerbangan dari Ukrainian Airlines Boeing 737-800 itu tersedia secara daring.

Itu menunjukkan pesawat tersebut naik secara normal setelah lepas landas dari Teheran.
Pesawat mencapai ketinggian hampir 8.000 kaki (2.400 m) sebelum data pesawat tiba-tiba menghilang. (BBC/Hym/I-1)

BERITA TERKAIT