09 January 2020, 22:00 WIB

Perubahan Iklim ikut Hancurkan Peninggalan Bersejarah


MI | Internasional

AFP
 AFP
Salah satu situs bersejarah di Afghanistan

PENINGGALAN bersejarah di Afghanistan selama ini terancam oleh ulah manusia, mulai dari pencurian hingga pengeboman. Namun ancaman kali ini juga muncul dari faktor lain yaitu perubahan iklim.

Tengok saja misalnya di Provinsi Bamiyan yang terletak di kaki pegunungan Hindu Kush. Patung-patung Budha di tempat itu yang berumur ratusan tahun telah hancur dibom Taliban di tahun 2001.

Namun di tempat itu masih terdapat sejumlah goa berisi kuil hingga lukisan-lukisan Budha. Lembah Bamiyan juga merupakan tempat berdirinya benteng kuno Shahr-e Gholghola dan Shar-e Zohak.

Peninggalan-peninggalan arkeologis berharga itu kini terancam hancur oleh hujan lebat dan hujan salju yang turun lebih deras daripada biasanya.

Dalam laporan PBB tahun 2016, pejabat Afghanistan sudah memperingatkan bahwa benteng dan goa tersebut “bisa runtuh dan hancur karena erosi yang parah” akibat perubahan iklim.

“Perubahan iklim membuat proses erosi semakin cepat, hujan semakin lebat dan erosi karena angin juga semakin parah,” ungkap direktur tim arkeologi Prancis di Afghanistan, Philippe Marquis.

Senada, perusahaan pencitraan Iconem dari Prancis menyatakan Shar-e Zohak “sudah sangat rapuh” akibat erosi yang semakin parah dalam 30 tahun terakhir.

Upaya mengurangi dampak erosi maupun perubahan iklim akan menelan biaya miliaran dolar. Namun Afghanistan, sebagai negara yang menanggung dampak peperangan, tidak memiliki cukup dana.

Menurut Global Adaptation Initiative yang diluncurkan oleh University of Notre Dame di Amerika Serikat, Afghanistan saat ini menempati urutan 173 dari 181 negara di dunia yang rawan terkena dampak perubahan iklim.

Di sisi lain, ancaman dari faktor manusia juga tetap besar, terutama dari para pencuri benda seni. Tidak heran jika kini Shar-e Gholghola Fortress dan tempat bersejarah lainnya dijaga ketat.

“Kita harus mulai mengajarkan warga setempat untuk tidak menghancurkan tempat-tempat tadi,” kata Ali Reza Mushfiq selaku kepala Departemen Arkeologi di Universitas Bamiyan.

Namun Mushfiq mengeluhkan minimnya dana yang membuat pihaknya tidak bisa berbuat banyak. (AFP/Haufan Hasyim S/X-11)

BERITA TERKAIT