09 January 2020, 13:00 WIB

Presiden akan Cari Vetiver Sebanyak-banyaknya untuk Cegah Longsor


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

PRESIDEN RI Joko Widodo meminta kepada jajarannya untuk turut melakukan penanaman tanaman yang diketahui mampu mencegah tanah longsor dan erosi seperti tanaman Vetiver. Hal ini dilakukan sebagai upaya mitigasi bencana.

"Saya kira tanaman vetiver, akar wangi, akan saya cari sebanyak banyaknya bibit dan benih sehingga bisa kita lakukan penanaman terutama di Lebak dan Kabupaten Bogor," kata Presiden saat menerima sejumlah kepala daerah di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/1), bersama Kepala BNPB, Menteri PU, Menteri LHK, dan  Seskab.

Menanggapi hal itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Agus Wibowo mengatakan vetiver atau akar wangi memang sejenis rumput yang berasal dari India dengan nama latin Chrysophogon Zizaionide.

"Jarang orang tahu bahwa tanaman vetiver memiliki banyak manfaat yang baik terhadap lingkungan hidup," kata Agus Wibowo dalam keterangan resmi.

Dia menjelaskan, manfaat tanaman Vetiver antara lain bagian daunnya dapat bermanfaat menyerap karbon, pakan ternak, mengusir hama, bahan atap rumah dan bahan dasar kertas. Pada bagian akarnya bermanfaat mencegah longsor dan banjir, memperbaiki kualitas air, melindungi infrastruktur, menyerap racun dan menyuburkan tanah.

Bahkan jenis rumput ini mempunyai nama berbeda di setiap daerah, seperti di Aceh Gayo: useur, Manado: akar babau, Timor: akar banda, wilayah Sunda: Janur, Narawasatu, usar, Jawa: Larasetu, Larawastu, Rarawestu, Madura: Karabistu, dan lain-lain.

"Vetiver di Indonesia dikenal sebagai akar wangi (Vetiveria zizanioides), sejenis rumput-rumputan berukuran besar yang memiliki banyak keistimewaan," ungkapnya.

Baca juga: Jokowi Tugasi BNPB Segera Tanam Vetiver

Di Indonesia, rumput ajaib ini baru dimanfaatkan sebagai penghasil minyak atsiri melalui ekstraksi akar wangi, sedangkan di mancanegara vetiver banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan ekologis dan fitoremediasi (memperbaiki lingkungan dengan menggunakan tanaman) lahan dan air, seperti rehabilitasi lahan bekas pertambangan, pencegah erosi lereng, penahan abrasi pantai.

"Juga untuk stabilisasi tebing melalui teknologi yang disebut Vetiver Grass Technology (VGT) atau Vetiver System (VS), sebuah teknologi yang sudah dikembangkan selama lebih dari 200 tahun di India," paparnya.

Agus menyebut Vetiver System merupakan teknologi sederhana yang berbiaya murah dengan memanfaatkan tanaman vetiver hidup untuk konservasi tanah dan air serta perlindungan lingkungan. VS sangat praktis, tidak mahal, mudah dipelihara dan sangat efektif dalam mengontrol erosi serta sedimentasi tanah, konservasi air, stabilisasi dan rehabilitasi lahan.

Vetiver juga mudah dikendalikan karena tidak menghasilkan bunga dan biji yang dapat dengan cepat menyebar liar seperti alang-alang atau rerumputan lainnya.

"Keistimewaan vetiver sebagai tanaman ekologis disebabkan oleh sistem perakarannya yang unik. Tanaman ini memiliki akar serabut yang masuk sangat jauh ke dalam tanah. Saat ini rekor akar vetiver terpanjang adalah 5,2 meter," lanjutnya.

Akar vetiver diketahui mampu menembus lapisan setebal 15 cm yang sangat keras. Di lereng-lereng yang keras dan berbatu, ujung-ujung akar vetiver mampu masuk menembus dan menjadi semacam jangkar yang kuat.

Begitu juga dengan cara kerja akar ini seperti besi kolom yang masuk ke dalam menembus lapisan tekstur tanah. Pada saat yang sama menahan partikel-partikel tanah dengan akar serabutnya. Kondisi ini bisa mencegah erosi yang disebabkan oleh angin dan air sehingga Vetiver dijuluki sebagai “kolom hidup”.

Akar-akar vetiver yang masuk ke dalam tanah sedalam sekitar 3 meter akan berfungsi seperti kolom-kolom beton yang menahan tanah agar tidak longsor sehingga tanah menjadi stabil.

"Barisan itu juga menahan material erosi di belakang tubuhnya yang dapat mengurangi kecuraman dan akhirnya membentuk teras-teras yang lebih landai," pungkasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT